Nelayan seringkali menghadapi ketidakpastian dari lingkungan laut dan ketidakpastian dalam perjalanan penangkapan ikan, seperti badai, kecelakaan, dan lain-lain. Risiko-risiko ini menimbulkan ketidakpastian bagi pendapatan rumah tangga karena hasil tangkapan bergantung pada ketersediaan alam. Pendapatan mereka bergantung pada hasil tangkapan yang sangat bervariasi, tidak merata, dan tidak dapat diprediksi, sehingga mereka dikenal sebagai kelompok ˜termiskin di antara masyarakat miskin™. Tantangan lainnya adalah aktivitas penangkapan ikan yang sifatnya berpindah-pindah dan bermigrasi, sehingga mengharuskan berpindah dari satu lokasi penangkapan ikan ke lokasi penangkapan ikan lainnya. Nelayan dengan sumber daya yang cukup menggunakan perahu dengan mesin yang lebih besar untuk menangkap lebih banyak dan mendapatkan hasil yang lebih tinggi pendapatan. Namun, tidak semua nelayan memiliki sumber daya tersebut. Hal ini mencerminkan sebuah distribusi yang tidak merata. Hanya mereka yang memiliki investasi lebih tinggi fasilitas penangkapan ikan dan anggaran operasi penangkapan ikan dapat tercapai secara optimal. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para nelayan mencari pinjaman untuk investasi peralatan penangkapan ikan guna mengatasi ketidakstabilan pendapatan mereka, terutama di bawah ancaman perubahan iklim. Mereka memanfaatkan pinjaman tersebut untuk berbagai hal, termasuk konsumsi, untuk mengurangi dampak terhadap pendapatan, atau investasi pada fasilitas penangkapan ikan. Namun, akses nelayan terhadap kredit dari lembaga formal seringkali terkendala oleh agunan. Perahu dan peralatan penangkapan ikan tidak memenuhi syarat untuk dijadikan jaminan karena dapat rusak atau hilang dalam badai laut. Nelayan menghadapi terbatasnya akses terhadap pasar kredit.
Penelitian ini memanfaatkan dataset terbaru dari Rumah Tangga Indonesia Survei Pendapatan di sektor pertanian yang dikumpulkan pada tahun 2013 oleh Statistik Indonesia (Badan Pusat Statistik atau BPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa menjadi anggota koperasi dapat meningkatkan pendapatan nelayan sebesar Rp. 3394. Koefisien ini juga signifikan secara statistik. Berdasarkan dua metode pencocokan ini, hal tersebut dapat menyimpulkan bahwa menjadi anggota koperasi dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan ini, koperasi memainkan peran penting dalam menjamin keberlanjutan rumah tangga pertanian dan pembangunan melalui peningkatan pendapatan. Dengan bertambahnya pendapatan rumah tangga, produktivitas nelayan dapat meningkat karena mereka dapat mengadopsi teknologi baru atau meningkatkan teknologi yang sudah ada, serta membeli barang-barang yang diperlukan.
Sebagai pemain aktif di sektor perikanan Indonesia, koperasi bermitra dengan investor dan bank untuk memfasilitasi akses terhadap kredit memberikan pinjaman jangka pendek untuk modal kerja kegiatan penangkapan ikan dan pinjaman jangka menengah dan panjang untuk investasi modal pada peralatan penangkapan ikan. Koperasi juga menampung hasil tangkapan dan menyediakan fasilitas produksi yang murah sehingga nelayan tidak perlu terlibat dengan rentenir. Selain itu, dengan menjadi anggota koperasi perikanan, nelayan dapat mengakses dana hibah dari pemerintah, misalnya kapal, alat tangkap, dan pembiayaan usaha.
Studi ini menawarkan beberapa implikasi kebijakan. Salah satu kekhawatiran utama sebagian besar negara berkembang adalah perbaikan kesejahteraan rumah tangga, sehingga merumuskan strategi yang efektif untuk mencapai hal tersebut tujuan itu penting. Penelitian ini menegaskan bahwa keanggotaan koperasi memiliki dampak positif dan signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di tangkapan sektor perikanan di Indonesia. Menjadi anggota koperasi meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan, sehingga meningkatkan standar penghidupan anggota rumah tangga. Temuan-temuan ini menunjukkan perlunya merancang kebijakan yang mendorong peran koperasi dalam meningkatkan penghidupan nelayan dan keberlanjutan praktik penangkapan ikan mereka. Pemerintah perlu mengembangkan program peningkatan kapasitas kooperatif untuk memastikan hal tersebut keberlanjutan dunia usaha melalui kredit yang terjangkau dan mudah diakses pelayanan, serta fasilitasi pemasaran hasil tangkapan. Selain itu, kelompok kooperatif dapat membantu nelayan mendapatkan akses terhadap peralatan dan peralatan penangkapan ikaninformasi, seperti adopsi keterampilan dan teknologi penangkapan ikan itu mungkin tidak dapat diperoleh secara individual. Sedangkan untuk rendahnya tingkat pendidikan nelayan, penyuluh anggota koperasi dapat membantu melalui program pendampingan. Program sosialisasi juga perlu dilakukan bagi nelayan non anggota, khususnya yang berdomisili di luar Pulau Jawa, untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat keanggotaan.
Penulis:
Jurnal:





