51动漫

51动漫 Official Website

Dampak Probiotik Terhadap Permeabilitas Usus pada Individu dengan Obesitas

Ilustrasi Obesitas (Foto: Ayo Sehat - Kemenkes)
Ilustrasi Obesitas (Foto: Ayo Sehat - Kemenkes)

Obesitas merupakan epidemi global yang terjadi pada lebih dari setengah populasi orang dewasa sekitar 60%, dan sekitar 8% pada anak-anak berusia <5tahun. Obesitas beresiko terhadap berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, gangguan hormonal, peningkatan insulin dan peradangan kronis. Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa obesitas juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan, khususnya pada fungsi penghalang usus. Dinding usus pada seorang dalam keadaan normal memiliki fungsi menyerap secara selektif zat-zat penting seperti nutrisi dan air masuk ke aliran darah serta menahan atau mencegah zat berbahaya seperti toksin dan produk dari bakteri. Fungsi dinding usus pada seorang dengan obesitas menjadi menurun, sehingga zat yang seharusnya tertahan di dalam usus justru dapat masuk ke dalam sirkulasi darah. Kondisi tersebut disebut sebagai peningkatan permeabilitas usus atau kebocoran usus. Permebilitas usus dapat menyebabkan terjadi peradangan serta gangguan yang memperburuk kondisi obesitas pada seseorang.

Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang penelitian-penelitian yang membahas keterkaitan antara mikrobiota usus (kumpulan bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan) dengan berbagai aspek kesehatan, termasuk obesitas. Ketidakseimbangan mikrobiota usus (disbiosis) dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, kadar hormon, dan nafsu makan. Penelitian beberapa tahun terakhir menjelaskan konsumsi probiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Beberapa jenis probiotik yang sering digunakan dari kelompok Lactobacillus, Bifidobacterium, Streptococcus, Enterococcus,dan Akkermansia muciniphila. Probiotik akan membantu memperbaiki fungsi dan memperkuat dinding usus, mengurangi peradangan, dan mengembalikan keseimbangan mikroba.

Metode penelitian yang dilakukan melalui tinjauan sistematis terbaru mengenai manfaat probiotik pada kesehatan usus orang dengan obesitas. Peneliti melakukan analisis dari dari sembilan penelitian yang melibatkan orang dewasa dengan obesitas. Rentang usia yang terlibat dalam penelitian sekitar 18-65 tahun. Penelitian difokuskan pada penelitan uji klinis acak terkontrol (randomized controlm led trials). Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah adalah menilai dampak probiotik terhadap indikator permeabilitas usus pada orang dengan obesitas, seperti kadar zonulin dan lipopolisakarida (LPS) dalam darah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian melaporkan penurunan kadar zonulin setelah konsumsi probiotik. Zonulin adalah protein yang mengatur tingkat kerapatan antar sel di dinding usus. Kadar zonulin yang tinggi mengindikasi terdapat permebilitas usus yang meningkat, sedangkan penurunan kadar zonulin mengindikasi permebilitas usus membaik. LPS adalah molekul dari dinding sel bakteri jahat yang dapat memicu peradangan apabila masuk kedalam aliran darah. Jenis probiotik yang digunakan dalam studi-studi yang dipilih menggunakan satu jenis probiotik (single strain), sementara lainnya menggunakan kombinasi beberapa jenis sekaligus (multi-strain). Dosis dan durasi probiotik pun bervariasi. Dosis yang digunakan mulai dari satu juta hingga 50 miliar unit pembentuk koloni (CFU) per hari. Durasi pemberian probiotik dalam studi berkisar antara delapan hingga tujuh puluh dua minggu.

Beberapa penelitian juga menggunakan kombinasi penggunaan probiotik dengan prebiotik (serat makanan khusus yang berfungsi sebagai 渕akanan bagi bakteri baik). Namun beberapa studi, kadar LPS tidak mengalami perubahan yang signifikan. Perbedaan hasil dari studi yang dianalisis membuktikan bahwa hal tersebut dipengaruhi banyak faktor, seperti perbedaan dosis, lama pemberian, jenis probiotik yang digunakan, kondisi masing-masing peserta yang diteliti, hingga metode pengukuran yang digunakan. Penelitian juga menunjukkan dampak signifikan dari pemberian probiotik terhadap berat badan orang dengan diabetes. Hasil lima dari sembilan penelitian yang dianalisis menunjukkan bahwa penurunan indeks massa tubuh (BMI) secara signifikan setelah konsumsi probiotik. Meskipun begitu, hasil studi yang lain menunjukkan pemberian probiotik mungkin tidak langsung menyebabkan penurunan berat badan. Peran probiotik dapat membantu memperbaiki mikroba usus dan menurunkan peradangan.

Kesimpulan dari tinjauan sistemasis yang dilakukan adalah suplementasi probiotik selama minimal delapan minggu dapat memperbaiki permeabilitas usus pada orang dengan obesitas. Perbaikan permeabilitas usus ditunjukkan dengan penurunan kadar zonulin. Sedangkan sumplementasi probiotik terhadap kadar LPS dan penurunan berat badan masih belum konsisten. Penelitian yang dilakukan sebagai dasar ilmiah bahwa peran probiotik dapat dipertimbangkan dalam terapi pendukung obesitas. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan jenis probiotik, dosis, durasi, dan bentuk pemberian yang paling efektif dalam mendukung kesehatan usus dan metabolisme tubuh. Dengan standar yang lebih jelas dan panduan yang lebih terarah, probiotik dapat menjadi bagian penting dari strategi penanganan obesitas yang lebih komprehensif dan berbasis bukti.

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Athiyyah, A. F., Nindya, T. S., Ranuh, R. G., Darma, A., Sumitro, K. R., Rejeki, P. S., Djuari, L., Sudarmo, S. M., & Agustina, R. (2025). Role of oral probiotic supplementation on gut permeability in obesity: A systematic review of randomized controlled trials. Food Hydrocolloids for Health, 8, Article 100225. https://doi.org/10.1016/j.fhfh.2025.100225

AKSES CEPAT