51动漫

51动漫 Official Website

Depresi, Kecemasan, Strategi Koping dan Kualitas Hidup Lansia di Masa Pandemi Covid-19

Foto oleh RMIT University

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menjadi krisis kesehatan di dunia dikarenakan dengan penyebaran yang sangat cepat. WHO menyatakan covid-19 sebagai pandemi, dimana telah menyebarkan dan menularkan virus pada penduduk hampir di seluruh dunia. Pandemi Covid-19 yang merupakan darurat kesehatan internasional menunjukkan angka kasus yang terus bertambah. Meskipun COVID-19 melibatkan sebagian besar infeksi ringan lebih tinggi dari influenza di antara mayoritas populasi umum, risiko kematian di kalangan muda dan orang tua yang mempunyai riwayat komorbid memerlukan perawatan tambahan. Kelompok lanjut usia sangat rentan, dimana kasus kematian terbanyak terjadi pada usia lebih dari 80 tahun. Dampak dari adanya pandemi covid-19 menimbulkan gangguan kesehatan mental (depresi, kecemasan) dan penurunan kualitas hidup bagi lansia.

Depresi menyebabkan seseorang mengalami suasana hati yang tidak nyaman serta berkurangnya minat, kesenangan, gairah hidup, dan aktivitas selama lebih dari dua minggu. Beberapa kasus  depresi disertai dengan gejala tambahan yaitu perasaan rendah diri, perubahan pola makan, menurunnya nafsu makan, gangguan pola  tidur, gejala kecemasan, perasaan bersalah dan konsentrasi yang menurun. Kecemasan terjadi pada lansia karena proses penuaan yang ditandai dengan perasaan khawatir, ketakutan, kesulitan tidur dan ketidaknyamanan terutama pada lansia dengan disabilitas, gangguan kognitif dan lansia dengan komorbid.

Menurut Qiu, H dan Wu, J (2020) penduduk di Cina 53,8% mengalami dampak psikologis berat, 16,5% gejala depresi berat, 28,8% gejala kecemasan berat dan 8,1% tingkat stress berat. Berdasarkan diskusi pakar psikolog mengatakan bahwa reaksi masyarakat terhadap penyebaran covid-19 juga terdapat proteksi berlebihan terhadap diri sendiri maupun keluarganya. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala obsesif compulsif, yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderita merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang, artinya individu tersebut terus diliputi kecemasan dan ketakutan   Bagi pasien yang terkonfirmasi positif, dampak psikologisnya bisa berupa perasaan tertekan, stres, cemas saat didiagnosis positif covid-19.

Pengobatan Covid-19 yang belum ditemukan memicu kepanikan sehingga menghasilkan stigma negatif dari masyarakat ke individu yang terkonfirmasi suspek atau positif beserta keluarganya, hal ini menghasilkan distress psikologis pada masyarakat kasus kontak erat. Permasalahan psikologis yang dirasakan oleh masyarakat bisa berdampak pada aktifitas sehari-hari. Banyak lansia yang akhirnya mengalami berbagai masalah psikis maupun fisik seperti terserang penyakit kronis dan merasa kesepian. Hal itu yang menyebabkan perubahan pada kualitas hidupnya. Untuk menurunkan tingkat depresi dan kecemasan diperlukan strategi koping agar kualitas hidup lansia meningkat.

Menurut Lazarus (1984) koping merupakan usaha-usaha yang meliputi tindakan untuk mengatur tuntutan-tuntutan lingkungan maupun internal serta konflik-konflik yang dinilai dapat membebani atau melampaui potensi yang dimiliki oleh individu. Strategi koping didefinisikan sebagai suatu proses teretentu yang disertai dengan suatu usaha dalam rangka merubah domain kognitif atau perilaku secara konstan untuk mengatur dan mengendalikan tuntutan dan tekanan eksternal maupun internal yang diprediksi akan dapat membebani dan melampaui kemampuan dan ketahanan individu yang bersangkutan. Koping strategis digunakan lansia untuk menghadapi kehilangan kualitas hubungan sosial, emosional, kehilangan kesejahteraan, kehilangan kualitas hidup, antisipasi kesedihan dan mencari dukungan. Lansia yang menggunakan gaya koping maladaptif memiliki kesehatan mental yang buruk, sedangkan lansia yang menggunakan koping adaptif memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Hasil literature rivew didapatkan bahwa strategi koping selama pandemi covid-19 ini yang sering digunakan untuk mengatasi stres adalah penerimaan, pendekatan agama, emosional support, yoga dan meditasi, menonton film, mendengarkan musik dan membaca buku, menghabiskan waktu bersama keluarga dan mitra, berkebun, telepon ke teman dan orang yang dicintai, terlibat dalam hobi yang biasa dilakukan, membersihkan rumah, cuci tangan, memastikan jarak aman, berdoa, kerja dari rumah, memasak dan makan minum lebih banyak, tidak terlalu memikirkan situasi, tidak menonton berita tentang covid-19 dan mengunjungi dokter atau psikolog untuk menghilangkan ketakutan dan kesusahan. Oleh karena itu, lansia harus menggunakan strategi koping yang sesuai dengan masalah. Jika pemilihan strategi koping tidak tepat, mengakibatkan masalah yang tidak dapat diselesaikan dan dapat menambah masalah baru. 

Kualitas hidup (QoL) secara global didefinisikan oleh WHO sebagai persepsi individu tentang posisinya dalam kehidupan di masyarakat dan sistem nilai dimana dia hidup serta dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, yang mana merupakan konsep yang luas,  menyatukan kesehatan fisik seseorang, kesehatan psikologis,  hubungan sosial dan lingkungan dan dalam suatu cara yang kompleks serta keterkaitannya dengan fitur yang menonjol dari lingkungan.  Seseorang yang mempunyai kualitas hidup baik akan mampu meningkatkan kesehatannya, produktivitas kerja dan kesejahteraan yang tinggi dalam kehidupannya. Lansia dalam menjalani kehidupannya mengharapkan kualitas hidup yang baik, tetap sehat baik fisik maupun psikologis, produktif, hidup damai dan mandiri sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain. Kesimpulannya adalah dengan pemilihan strategi koping yang tepat dapat menurunkan gangguan mental dan meningkatkan kualitas hidup lansia.

Penulis: Iswatun, S.Kep., M.Kes.

Artikel secara lengkap dapat dibaca pada artikel yang berjudul: 滵epression, anxiety, coping strategies, quality of life of the elderly during the COVID-19 pandemic, pada link

AKSES CEPAT