Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan tingkat impor burung kenari (Serinus canaria) yang cukup tinggi dari Malaysia. Berdasarkan data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur, pada tahun 2021 terdapat empat kali impor dengan jumlah total 4.250 ekor burung, yang meningkat pada tahun 2022 menjadi 14 kali impor dengan jumlah total 11.807 ekor burung. Burung kenari, bersama dengan burung peliharaan lainnya dari ordo Passeriformes dan Psittaciformes, dikenal dekat dengan manusia dan berperan dalam kehidupan sosial. Namun, interaksi ini juga meningkatkan risiko zoonosis karena burung dapat menjadi reservoir patogen enterik, termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Dalam perdagangan lintas batas, burung peliharaan berpotensi menjadi media penularan bakteri resisten atau gen Resistensi Antimikroba (AMR). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa unggas peliharaan merupakan sumber penting bakteri resistan multiobat (MDR), yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat karena potensi penyebaran penyakit yang sulit diobati.
Praktik penggunaan antibiotik tanpa pengawasan medis di sektor peternakan unggas telah berkontribusi terhadap peningkatan kasus resistensi antibiotik. Salah satu patogen penting yang sering ditemukan pada unggas adalah Escherichia coli, bakteri Gram-negatif yang diketahui menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, termasuk gastroenteritis, bakteremia, dan infeksi saluran kemih. Pada unggas, E. coli merupakan agen utama penyakit seperti aerosaculitis, polyserositis, septikemia, dan infeksi ekstraintestinal lainnya. Kolonisasi E. coli pada saluran pencernaan unggas dari ordo Passeriformes dapat menyebabkan sepsis dan kematian, serta berpotensi menjadi sumber penularan ke manusia. Unggas telah dilaporkan sebagai reservoir E. coli resisten yang dapat menyebabkan infeksi zoonosis. Resistensi ini tidak hanya terbatas pada strain patogen, tetapi juga ditemukan pada E. coli komensal, yang memperoleh gen resistensinya melalui mekanisme transfer gen horizontal. Kemampuan E. coli untuk mentransfer gen resistensi ke bakteri lain menjadikannya salah satu reservoir utama dalam penyebaran resistensi antibiotik di lingkungan.
Resistensi antibiotik terjadi akibat perubahan genetik pada bakteri yang menyebabkan ketidakpekaan terhadap obat antimikroba. Salah satu mekanisme utama penyebaran resistensi ini adalah melalui transfer gen horizontal, terutama yang dimediasi oleh plasmid.
Sementara itu, sebuah penelitian di Kampung Melayu, Malaysia, melaporkan bahwa semua isolat E. coli dari burung liar dan ayam menunjukkan karakteristik MDR terhadap semua antibiotik yang diuji. Salah satu bentuk resistensi yang mengkhawatirkan adalah produksi Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), suatu enzim yang dikode oleh plasmid pada bakteri Gram-negatif, terutama dari famili Enterobacteriaceae. Enzim ini mampu menghidrolisis antibiotik penisilin, sefalosporin generasi ketiga (seperti seftazidim, seftriakson, dan sefotaksim), dan monobaktam (aztreonam), sehingga mengurangi efektivitas terapi antibiotik.
Bakteri penghasil ESBL kini banyak ditemukan sebagai patogen nosokomial dan penyebab infeksi komunitas. Mutasi genetik yang meningkatkan aktivitas beta-laktamase meningkatkan kemampuan bakteri untuk menghidrolisis antibiotik generasi baru. Gen utama pengkode ESBL seperti blaCTX-M, blaTEM, dan blaSHV umumnya ditemukan pada bakteri patogen dari unggas.
Penularan dapat terjadi melalui alat kesehatan, produk ternak, atau lingkungan yang terpapar hewan peliharaan dan unggas. Di antara gen-gen ini, blaTEM adalah yang paling sering dilaporkan secara global dari isolat manusia, hewan, dan lingkungan, dan juga telah diidentifikasi pada patogen nosokomial, hewan peliharaan, produk pangan, dan lingkungan peternakan unggas.
Secara global, isolat E. coli penghasil ESBL telah berhasil diidentifikasi dari berbagai sumber hewan, termasuk unggas, burung liar, hewan pangan, dan hewan peliharaan. Namun, studi yang secara khusus mengevaluasi karakteristik E. coli penghasil ESBL dalam konteks lalu lintas impor unggas masih terbatas. Meningkatnya frekuensi impor burung, terutama dari Malaysia, menjadi dasar penting untuk melakukan penelitian tentang deteksi dan identifikasi E. coli penghasil ESBL pada burung yang diperdagangkan lintas negara. Studi ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang potensi burung kenari impor sebagai reservoir penyebaran E. coli penghasil ESBL, yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan biosekuriti lingkungan.
Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi yang dilakukan terhadap swab feses burung kenari impor dari Malaysia di Instalasi Karantina Hewan Kota Malang, serta uji sensitivitas yang dilakukan di Laboratorium Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur, ditemukan bahwa dari 150 sampel yang diuji menggunakan media EMBA dan biokimiawi, terdapat 27 sampel yang menunjukkan konfirmasi bakteri E. coli. Bakteri ini merupakan flora normal yang umum ditemukan di saluran pencernaan manusia, hewan, dan burung. Meskipun komensal, beberapa strain E. coli memiliki sifat patogenik dan berpotensi menyebabkan berbagai infeksi, termasuk gastroenteritis, infeksi saluran kemih, dan infeksi sistemik.
Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa 88,9% (24/27) isolat E. coli menunjukkan resistensi terhadap tetrasiklin. Selain itu, 85,1% (23/27) isolat resisten terhadap amoksisilin, 70,3% (19/27) terhadap trimetoprim-sulfametoksazol, dan 33,3% (9/27) terhadap siprofloksasin. Tidak ada isolat yang ditemukan resisten terhadap seftazidim. Berdasarkan pola resistensi, 1 isolat (3,7%) menunjukkan resistensi terhadap satu golongan antibiotik, 2 isolat (7,4%) terhadap dua golongan, dan mayoritas, yaitu 22 isolat (81,4%), menunjukkan resistensi terhadap tiga hingga empat golongan antibiotik. Temuan ini menunjukkan tingginya prevalensi E. coli MDR, yang menjadi perhatian dalam konteks kesehatan masyarakat dan biosekuriti. Resistensi antibiotik merupakan tantangan besar dalam kesehatan masyarakat global. Organisme yang telah mengembangkan resistensi dapat menyebar dengan cepat di lingkungan dan populasi, meningkatkan risiko infeksi yang sulit disembuhkan dan memerlukan perawatan yang lebih kompleks. Unggas yang sehat umumnya hanya mengandung populasi kecil E. coli di saluran pencernaannya.
Dalam penelitian ini terbuktii 22 isolat E. coli MDR, dan diuji dengan PCR, 59,1% (13/22) terdeteksi membawa gen blaTEM. Semua isolat juga menunjukkan resistensi terhadap amoksisilin, tetrasiklin, siprofloksasin, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Gen blaTEM merupakan salah satu gen pengkode ESBL yang paling umum ditemukan pada bakteri Gram-negatif. Enzim ESBL yang dikode oleh gen ini mampu menghidrolisis antibiotik beta-laktam termasuk sefalosporin generasi ketiga, yang menyebabkan kegagalan terapi klinis. Gen blaTEM telah terdeteksi pada patogen dari berbagai sumber, seperti seperti hewan peliharaan, lingkungan, produk pangan, dan peternakan unggas, dan dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi pada isolat yang berasal dari unggas. Perdagangan burung internasional dapat mempercepat penyebaran bakteri resisten dan gen Resistensi Antimikroba (AMR) selama transportasi. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti yang ketat di Instalasi Karantina Hewan dan lingkungan sekitarnya sangat penting untuk mengurangi risiko penyebaran AMR.
Keberadaan E. coli penghasil ESBL pada unggas peliharaan merupakan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa burung liar dan peliharaan dapat berperan penting dalam penyebaran bakteri resisten.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa burung kenari impor dari Malaysia yang masuk Jawa Timur berpotensi menjadi reservoir E. coli penghasil ESBL. Dari 150 sampel feses yang diperiksa, 27 isolat (18%) terkonfirmasi sebagai E. coli, dengan 22 isolat (81,4%) menunjukkan pola MDR, terutama terhadap antibiotik tetrasiklin (88,9%), amoksisilin (85,1%), dan trimetoprim-sulfametoksazol (70,4%). Deteksi molekuler menunjukkan bahwa gen blaTEM, yang mengkode enzim ESBL, teridentifikasi pada 59,1% isolat MDR. Temuan ini menegaskan bahwa burung hias impor berpotensi menjadi jalur masuk dan penyebaran bakteri yang resistan terhadap antimikroba lintas batas negara, sehingga pengawasan ketat dan intervensi kebijakan berbasis risiko diperlukan untuk mencegah ancaman terhadap kesehatan masyarakat.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari studi ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Izzatul Istiana, Mustofa H. Effendi*, Yulianna Puspitasari, Muhammad A. Kurniawan, Mufasirin Mufasirin, Boedi Setiawan, Dadik Raharjo, Fifin K. Sari, Tri E. Purbowati,2, Dina A. Rahmandari, Saifur Rehman, Budiastuti Budiastuti, John Y.H. Tang, Riza Z. Ahmad, Aswin R. Khairullah, Dea Anita A. Kurniasih. Molecular detection of extended-spectrum 尾-lactamase-producing Escherichia coli in imported canaries (Serinus canaria) from Malaysia. Journal of Advanced Veterinary Research. (2025) Volume 15, Issue 4, 436-442





