Indonesia, dengan keragaman budaya dan geografis yang terentang di lebih dari 17.504 pulau, memiliki sistem kesehatan yang sangat dipengaruhi oleh warisan lokal. Di samping layanan modern di rumah sakit dan Puskesmas, praktik Pengobatan Komplementer dan Alternatif (Complementary and Alternative Medicine, CAM) seperti jamu, akupunktur, dan pijat tradisional (urut) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perawatan kesehatan sehari-hari bagi lebih dari 280 juta penduduknya.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bekerjasama dengan Peneliti dari Uni Emirat Arab menyoroti bagaimana praktik tradisional CAM yang berakar kuat dalam budaya Indonesia diposisikan dalam lanskap medis kontemporer Indonesia. Buah pemikiran tersebut dituliskan pada bab buku yang berjudul Complementary and Alternatve Medicine in Indonesia yang dapat diakses di
Bab buku tersebut mengulas bahwa prevalensi penggunaan CAM di Indonesia sangat tinggi. Hal ini didorong oleh beberapa faktor utama antara lain: (a) Akar Budaya dan Kepercayaan Holistik: Banyak masyarakat Indonesia menganut konsep penyembuhan alami dan holistik, yang menekankan harmoni antara tubuh, pikiran, dan lingkungan. Kepercayaan pada metode tradisional yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan alasan utama penggunaan CAM; (b) Aksesibilitas dan Keterjangkauan Biaya: Terutama di daerah pedesaan, layanan dari tabib tradisional dan penjual jamu seringkali lebih terjangkau dibandingkan layanan kesehatan konvensional, menjadikannya pilihan pengobatan awal bagi banyak orang, khususnya kelompok berpenghasilan rendah; (c) Peran Suplemen dan Pencegahan: CAM digunakan tidak hanya untuk penyakit ringan, tetapi juga sebagai perawatan suplemen untuk kondisi kronis seperti hipertensi dan diabetes, serta untuk tujuan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan umum.
Indonesia kaya akan modalitas CAM, yang paling menonjol adalah Pengobatan Herbal (Jamu). Beberapa bahan herbal yang paling umum digunakan dan telah diteliti meliputi: (1) Kunyit (Curcuma longa): Digunakan untuk meredakan peradangan, meningkatkan pencernaan, dan mendukung fungsi hati, berkat senyawa aktif kurkumin yang bersifat anti-inflamasi dan antioksidan; (2) Jahe (Zingiber officinale): Umumnya dipakai untuk meredakan mual, meningkatkan pencernaan, dan mengatasi kondisi pernapasan. Senyawa gingerol di dalamnya memiliki efek anti-inflamasi dan anti-mual; (3) Asam Jawa (Tamarindus indica): Digunakan untuk mengatasi masalah pencernaan seperti sembelit, serta memiliki sifat antioksidan.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, secara resmi mengakui dan mengatur peran CAM dalam sistem kesehatan nasional. Kerangka regulasi yang paling penting adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (sebagaimana telah diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023), yang menggarisbawahi pentingnya layanan kesehatan tradisional di samping layanan modern. Upaya integrasi ini merefleksikan komitmen Indonesia untuk menyediakan layanan kesehatan yang inklusif dan holistik, memadukan kebijaksanaan tradisional dengan ilmu kedokteran modern untuk mencapai hasil pasien yang optimal.
Penulis: Andi Hermansyah
Detail informasi tentang tulisan ini dapat dilihat di:





