Pandemi Covid-19 membawa dampak besar bagi berbagai sektor di Indonesia, termasuk seni pertunjukan, khususnya teater modern dan teater kampus yang bernaung di bawah institusi pendidikan tinggi. Selama pandemi, pembatasan sosial yang ketat memaksa pelaku teater untuk mencari alternatif kreatif dalam mempertahankan eksistensi mereka. Artikel ini menyoroti bagaimana tiga teater kampus “ Petra Theatre di Surabaya, kelas Play Performance di Yogyakarta, dan Teater Kampus di Makassar “ mampu bertahan dengan memanfaatkan platform digital seperti YouTube selama periode 2020“2022. Dengan menghadirkan produksi teater dalam format digital, ketiga teater kampus ini menunjukkan adaptasi mereka terhadap kondisi yang serba terbatas akibat pandemi. Produksi ini tidak hanya menjadi bukti daya tahan komunitas seni kampus, tetapi juga memperkenalkan dimensi baru dalam seni pertunjukan yang sebelumnya kurang tereksplorasi.
Pendekatan teater digital yang diadopsi oleh teater kampus ini dianalisis melalui tiga kerangka teori utama. Matthew Causey mengemukakan konsep digital performance, yang relevan dalam memahami bagaimana teknologi digital menciptakan pengalaman baru bagi aktor dan penonton. Sarah Bay-Cheng, dengan konsep dramaturgi distorsi, menyoroti bagaimana media digital mengubah dinamika narasi dan ruang visual dalam teater. Sementara itu, Philip Auslander membahas liveness dalam pertunjukan yang dimediasi, memberikan landasan untuk menganalisis perubahan dalam relasi aktor-penonton yang terjadi dalam teater digital. Ketiga teori ini digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana format digital memengaruhi hubungan emosional antara aktor dan penonton serta bagaimana perubahan ruang dan waktu direpresentasikan dalam produksi teater digital oleh ketiga teater kampus tersebut.
Produksi teater digital dari Petra Theatre, Play Performance Class, dan Teater Kampus Makassar menunjukkan perbedaan signifikan dalam pendekatan, yang dipengaruhi oleh keterampilan teknis, ketersediaan sumber daya, dan tingkat penguasaan teknologi masing-masing. Beberapa produksi memanfaatkan teknik penyuntingan canggih seperti gerakan kamera, framing, dan jump cuts, yang memungkinkan eksplorasi visual yang lebih dinamis dibandingkan dengan pertunjukan langsung. Namun, perbedaan ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi masing-masing teater dalam mengelola keterbatasan mereka. Misalnya, Petra Theatre mampu menghadirkan pengalaman sinematik melalui teknik pengambilan gambar yang kreatif, sementara Teater Kampus Makassar lebih fokus pada dokumentasi sederhana dengan kamera tetap. Variasi ini menggambarkan spektrum adaptasi yang luas dalam penerapan teater digital selama pandemi.
Produksi digital oleh ketiga teater kampus ini membuka peluang baru bagi perkembangan teater digital di Indonesia. Namun, setelah pandemi mereda, sebagian besar teater kampus kembali ke format pertunjukan langsung dan tidak melanjutkan eksplorasi mereka dalam teater digital. TKU, misalnya, masih menggunakan saluran YouTube mereka, tetapi hanya untuk tujuan arsip tanpa melanjutkan produksi digital yang inovatif. Hal ini menunjukkan bahwa teater digital selama pandemi lebih merupakan respons darurat terhadap situasi yang tidak biasa daripada langkah strategis untuk masa depan. Dengan demikian, potensi penuh teater digital sebagai medium seni belum sepenuhnya tereksplorasi, khususnya dalam konteks teater kampus di Indonesia.
Meskipun teater digital pasca-pandemi tampaknya tidak memiliki dampak besar pada teater langsung di Indonesia, peluang untuk memperluas audiens melalui platform digital tetap terbuka lebar. Data Statista (2023) menunjukkan bahwa sekitar 30% pengguna YouTube di Indonesia berasal dari kategori Gen Z, yaitu sekitar 54,9 juta orang. Dengan memanfaatkan platform ini, teater kampus memiliki potensi untuk menarik perhatian generasi muda yang lebih akrab dengan media digital. Sayangnya, sebagian besar teater kampus belum secara aktif memanfaatkan peluang ini. Jika strategi digital diintegrasikan ke dalam operasional mereka, teater kampus dapat memperluas cakupan audiens sekaligus menciptakan pengalaman baru yang relevan bagi generasi digital. Oleh karena itu, keberlanjutan teater digital di Indonesia membutuhkan perhatian lebih dari pelaku seni untuk menjadikannya bagian integral dari ekosistem seni pertunjukan masa depan.
Penulis: Meilinda, Satrya Wibawa, Stefanny Irawan





