Indonesia merupakan salah satu negara produsen South Sea Pearl terbesar di dunia sejak tahun 2005 dengan menempati urutan kesembilan dan memasok 43% kebutuhan dunia. Minat pasar Internasional terhadap mutiara Indonesia menginisiasi kegiatan budidaya tiram mutiara di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Barat yang merupakan salah satu sentra budidaya tiram mutiara dengan jumlah pembudidaya terbesar di Indonesia. Salah satu masalah dalam usaha budidaya tiram mutiara yang dapat mengakibatkan kerugian pada industri mutiara adalah kematian massal yang disebabkan oleh parasit.
Berdasarkan pengamatan preparat natif hasil scraping sampel tiram mutiara P. maxima, ditemukan mikroorganisme bersel tunggal berbentuk bulat seperti dengan ukuran diameter berkisar antara 40-200 碌m pada 8 dari jumlah total 106 ekor sampel tiram mutiara yang diteliti. Setelah dilakukan pengamatan pada preparat histopatologi, ditemukan parasit protozoa fase tropozoit dan hypnospora Perkinsus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan dari 106 sampel tiram mutiara P. maxima terinfeksi parasit protozoa dengan prevalensi sebesar 7,5%. Parasit protozoa yang menginfeksi tiram mutiara P. maxima di Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok adalah genus Perkinsus.Menurut Villalba (2008), faktor lingkungan mempengaruhi prevalensi parasit dengan mempengaruhi imunitas inang. Sampel tiram mutiara yang terinfeksi Perkinsus adalah tiram mutiara yang baru berumur 2-3 bulan, sedangkan sampel tiram mutiara berumur 36-48 bulan tidak ditemukan terinfeksi parasit protozoa. Hal ini disebabkan sistem imun tiram mutiara muda cenderung lebih rentan karena sebagian besar metabolisme tubuh digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan, sehingga lebih rentan terhadap penyakit.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Parasit protozoa yang menginfeksi tiram mutiara P. maxima di Balai Besar Budidaya Laut Lombok, Sekotong, Nusa Tenggara Barat adalah genus Perkinsus, (2) Prevalensi parasit protozoa yang menginfeksi tiram mutiara P. maxima di Balai Besar Budidaya Laut Lombok, Sekotong, Nusa Tenggara Barat adalah 7,5%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa parasit protozoa terkadang ditemukan pada tiram mutiara, tetapi tidak menyebabkan kerugian yang signifikan dalam budidaya tiram mutiara P. maxima di Balai Besar Budidaya Laut Lombok, Sekotong, Nusa Tenggara Barat. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengidentifikasi parasit spesifik hingga tingkat spesies dan karakteristik parasit serta cara penularannya.
Penulis: Prof. Dr. Kismiyati, Ir., MSi.
Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat ditemukan pada Earth Environ Sci.1512011001





