51动漫

51动漫 Official Website

Potret Perubahan Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup Remaja Suku Tengger

Ilustrasi Suku Tengger (Foto: Bobo.ID)

Di lereng Gunung Bromo yang sejuk, masyarakat Suku Tengger hidup dengan nilai-nilai tradisi yang kental. Mereka dikenal sebagai penjaga alam dan pemelihara harmoni antara manusia dan lingkungan. Namun, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi, kehidupan remaja Tengger perlahan berubah, terutama dalam hal kebiasaan makan dan gaya hidup. Dulu, makanan sehari-hari masyarakat Tengger didominasi oleh hasil bumi seperti kentang, jagung, sayur-mayur, dan tempe buatan sendiri. Pola makan mereka sederhana, bergizi, dan dekat dengan alam. Namun kini, sebagian besar remaja mulai beralih ke makanan cepat saji dan instan.

Berdasarkan hasil wawancara pada remaja dalam penelitian Muniroh dkk (2025), mereka mengaku lebih memilih mi instan atau ayam goreng tepung dibandingkan nasi jagung dan sayur rebus. Alasan mereka sederhana, makanan modern dianggap lebih 減raktis, 渆nak, dan 渒ekinian. Pengaruh media sosial dan iklan makanan turut memperkuat persepsi bahwa makanan cepat saji adalah simbol gaya hidup modern. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, dari makanan sebagai bagian dari kearifan lokal menjadi makanan sebagai gaya hidup.

Smartphone dan media sosial kini menjadi bagian penting dari kehidupan remaja Tengger. Akses internet yang semakin luas membuat mereka terpapar berbagai tren global, termasuk tren makanan. Konten 渕ukbang, video kuliner, dan food challenge di TikTok dan Instagram menjadi inspirasi bagi mereka untuk mencoba makanan baru yang seringkali tinggi gula, garam, dan lemak. Tanpa disadari, hal ini mendorong terbentuknya pola konsumsi baru yang lebih banyak didorong oleh keinginan dibanding kebutuhan gizi.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak lagi mempertimbangkan nilai kesehatan atau kearifan lokal dalam memilih makanan. Yang terpenting bagi mereka adalah rasa, tampilan, dan eksistensi sosial, sesuatu yang bisa diunggah dan dibagikan. Perubahan kebiasaan makan ternyata berjalan seiring dengan perubahan gaya hidup. Jika dulu remaja Tengger banyak bergerak karena membantu orang tua di ladang atau berjalan kaki ke sekolah, kini sebagian besar aktivitas fisik mereka tergantikan oleh penggunaan gawai. Kebiasaan duduk lama di depan ponsel dan laptop membuat mereka kurang aktif secara fisik. Bahkan, waktu tidur juga berkurang karena banyak yang begadang untuk bermain media sosial. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti kelelahan, penurunan konsentrasi, dan bahkan gangguan metabolisme di masa depan.

Dalam konteks budaya Tengger yang sangat menjunjung keseimbangan hidup dengan alam, pola hidup pasif seperti ini menjadi tantangan besar yang dapat mengikis nilai-nilai lokal yang selama ini dijunjung tinggi. Bagi masyarakat Tengger, makanan bukan hanya sekadar pemenuhan gizi, melainkan juga bagian dari filosofi hidup. Setiap panen adalah bentuk rasa syukur, dan setiap makanan memiliki makna spiritual. Namun, nilai-nilai ini mulai tergerus di kalangan generasi muda.

Peneliti menemukan bahwa sebagian remaja tidak lagi terlibat aktif dalam tradisi makan bersama keluarga atau kegiatan pertanian. Mereka mulai lebih sering makan sendiri, bahkan sambil bermain gawai. Padahal, dalam tradisi Tengger, makan bersama bukan hanya ritual sosial, tapi juga sarana memperkuat ikatan keluarga dan menanamkan nilai kebersamaan.

Hasil penelitian mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mendorong perubahan kebiasaan makan dan gaya hidup remaja Tengger, antara lain paparan media sosial dan budaya global,urbanisasi dan pariwisata,kurangnya edukasi gizi berbasis budaya,perubahan peran keluarga. Meski begitu, perubahan bukan berarti hal negatif. Modernitas dapat berjalan berdampingan dengan tradisi, selama masyarakat mampu menyeleksi pengaruh luar secara bijak. Pendekatan edukasi gizi berbasis budaya dapat menjadi solusi. Misalnya, kampanye 淏angga Makan Pangan Lokal atau pelatihan memasak kreatif menggunakan bahan tradisional dapat menarik minat remaja tanpa kehilangan akar budaya. Sekolah dan lembaga masyarakat juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai kearifan lokal melalui kegiatan sehari-hari. Dalam konteks ini, remaja Tengger dapat menjadi agen perubahan, bukan hanya penerima budaya global, tapi juga pelestari tradisi melalui cara yang relevan dengan zaman.

Penulis: Lailatul Muniroh

Informasi artikel lengkap dapat diakses melalui:

AKSES CEPAT