Menurut GLOBOCAN 2020, jenis kanker yang paling banyak dilaporkan di dunia adalah kanker payudara, dengan kasus baru mencapai 2.261 juta per tahun dan jumlah kematian 685 ribu orang. Terapi kanker payudara saat ini belum bekerja secara optimal karena banyaknya kasus resistensi yang telah dilaporkan dan efek samping obat. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan obat baru yang lebih efektif dengan efek samping minimal dan menghindari faktor coba-coba secara in silico melalui prediksi hambatan jalur sinyal epidermal growth factor receptor (EGFR). Di antara bahan kimia yang berpotensi sebagai kandidat antikanker payudara adalah turunan feniltiourea.
Dalam penelitian ini disintesis dua turunan feniltiourea yaitu N-(4-metoksi)-benzoil-N’-feniltiourea dan N-(4-trifluorometil)-benzoil-N’-feniltiourea, yang telah diidentifikasi strukturnya menggunakan spektroskopi IR, 1H-NMR, 13C-NMR, dan HRMS. Senyawa-senyawa hasil sintesis diinteraksikan dengan reseptor EGFR (kode PDB: 1M17, ligan asli: AQ4_774) untuk memprediksi aktivitas sitotoksiknya secara in silico menggunakan program AutoDock. Sebagai senyawa pembanding digunakan hidroksiurea dan erlotinib, obat kanker yang sudah digunakan dalam klinik. Perangkat lunak yang digunakan adalah MarvinSketch 19.17.0 untuk menggambar struktur 2D, Avogadro 1.2.0 digunakan untuk mengubah struktur 2D menjadi bentuk 3D, AutoDockTools 1.5.6 untuk konfigurasi protokol doking, dan AutoDock Vina 1.1.2 untuk proses doking. Selanjutnya, teknik mikrokultur tetrazolium (MTT) digunakan untuk menguji sitotoksisitas senyawa terhadap sel MCF-7 secara in vitro.
Hasil uji in silico (doking molekul) menunjukkan bahwa senyawa N-(4-trifluorometil)-benzoil-N’-feniltiourea, N-(4-metoksi)-benzoil-N’-feniltiourea, hidroksiurea, erlotinib, dan AQ4_774 mempunyai nilai binding affinity sebesar -8,2; -7,3; -3,8; 7,5; dan 7,5 kkal/mol, secara berturut-turut. Hasil pengujian aktivitas sitotoksik secara in vitro didapatkan bahwa nilai IC50 senyawa N-(4-trifluorometil)-benzoil-N’-phenylthiourea, N-(4-metoksi)-benzoil-N’-feniltiourea, hidroksiurea, dan erlotinib adalah 0,37; 0,38; 9,27; dan 0,92 mM, secara berturut-turut. Hasil uji in silico dan in vitro ini menunjukkan hampir semua senyawa menunjukkan aktivitas penghambatan EGFR yang signifikan terhadap sel MCF-7, kecuali hidroksiurea. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa N-(4-trifluorometil)-benzoil-N’-feniltiourea memiliki aktivitas sitotoksik yang lebih baik dibanding N-(4-metoksi)-benzoil-N’-feniltiourea, erlotinib dan hidroksiurea, sehingga layak dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat obat kanker payudara.
Untuk melihat lebih detail mengenai penelitian tersebut dapat diakses pada
Penulis: Siswandono
Judul artikel: Molecular Docking and Biological Activity of N-(4-Methoxy)-benzoyl-N™-phenylthiourea and N-(4-Trifluoro)-benzoyl-N™-phenylthiourea as Antibreast Cancer Candidates





