Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan air hujan dan sampah organik masih menjadi
tantangan di wilayah pedesaan. Rendahnya daya resap tanah serta kebiasaan membuang
sampah organik tanpa pengolahan kerap memicu genangan air dan penurunan kualitas
lingkungan. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN-BBK 7 51动漫
(UNAIR) melaksanakan program lingkungan Gerbang Biopori (Gerakan Bangun Biopori) di
Kantor Balai Desa Mekanderejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (17/1/2026) ini dihadiri oleh 25 warga Desa
Mekanderejo beserta perangkat desa dan diawali dengan sosialisasi konsep biopori,
dilanjutkan praktik pemasangan biopori secara langsung di lingkungan desa.
Edukasi Biopori dan Sosialisasi Lingkungan
Dalam sesi pemaparan materi, Juliartha Triasina Nainggolan selaku pemateri dan penanggung
jawab kegiatan menjelaskan bahwa biopori merupakan lubang resapan air vertikal yang
dibuat ke dalam tanah dan diisi sampah organik. Biopori berfungsi meningkatkan daya serap
air hujan sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos secara alami.
淪ecara ilmiah, biopori memanfaatkan aktivitas organisme tanah seperti cacing dan mikroba
untuk membentuk pori-pori alami yang mempercepat infiltrasi air hujan serta penguraian
sampah organik, jelasnya.
Sosialisasi disertai sesi tanya jawab interaktif bersama warga. Masyarakat aktif mengajukan
pertanyaan terkait prinsip kerja dan perawatan biopori, yang menunjukkan tingginya
ketertarikan terhadap solusi lingkungan sederhana dan mudah diterapkan.
Praktik Pemasangan Biopori dan Dukungan SDGs
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pemasangan biopori secara
langsung di pekarangan Kantor Balai Desa Mekanderejo. Warga bersama mahasiswa BBK 7
UNAIR melakukan pemasangan dua lubang biopori, terdiri atas satu biopori konvensional
dan satu biopori berbahan galon air mineral bekas.
Galon bekas yang telah dilubangi sebelumnya dipasang secara vertikal ke dalam tanah hingga
stabil dan sejajar dengan permukaan tanah, kemudian diisi dengan sampah organik. Inovasi
ini menunjukkan bahwa biopori dapat diterapkan dengan memanfaatkan bahan sederhana dan
ramah lingkungan.
淧emanfaatan barang bekas dalam pembuatan biopori menjadi keunggulan program ini
karena mudah diterapkan oleh masyarakat dan tidak memerlukan biaya besar, tambahnya.
Pelaksanaan Gerbang Biopori sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals
(SDGs) 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, serta SDGs 13 penanganan perubahan iklim
dan SDGs 15 perlindungan ekosistem daratan.
淕erbang Biopori tidak hanya menjadi solusi teknis lingkungan, tetapi juga sarana edukasi
masyarakat agar lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan desa, tegasnya.
Harapannya, Gerbang Biopori tidak hanya berhenti sebagai kegiatan sosialisasi, tetapi dapat
diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Mekanderejo.
Penulis : Juliartha Triasina Nainggolan





