51动漫

51动漫 Official Website

Dosen Psikologi Ungkap Budaya Pengasuhan Dapat Sebabkan Trauma Masa Kecil

Berlangsungnya Webinar ASAP oleh pemateri Tiara Diah Sosialita S Psi M Psi Psikolog (Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting)
Berlangsungnya Webinar ASAP oleh pemateri Tiara Diah Sosialita S Psi M Psi Psikolog (Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS Komunitas (ASAP) yang dinaungi oleh Departemen Branding, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) (Fpsi), 51动漫 (UNAIR), menggelar webinar dengan tema Overcoming Childhood Trauma: Mengapa Aku Tidak Lebih Baik dari Saudaraku. Acara terselenggara secara daring pada Sabtu (24/5/2025).

Adanya komunitas ini harapannya mampu berkontribusi langsung dengan masyarakat luas khususnya bidang kesehatan mental. Hadirnya webinar ini untuk membahas isu-isu yang dekat dengan masyarakat dan seringkali dirasakan, secara sadar maupun sebaliknya tentang anak.

Webinar ini menyoroti budaya pengasuhan dan fenomena membandingkan anak berdasarkan urutan lahir (birth order). Alfred Adler mengembangkan teori birth order berdasarkan pengalaman pribadinya. Merujuk pada teori itu, Tiara Diah Sosialita S Psi M Psi Psikolog sebagai narasumber menyampaikan bahwa budaya pengasuhan dapat memperkuat peran dan ekspektasi berdasarkan urutan kelahiran dalam keluarga. 

淏udaya ini memberikan penekanan pada peran tertentu berdasarkan urutan seperti anak sulung menjadi penerus tradisi, anak tengah yang biasa saja dan anak bungsu yang harus dilindungi. Apalagi di Indonesia, birth order masih sangat relevan terutama kasus pada trauma masa kecil yang bersumber pada pola asuh, ungkap Tiara.

Selanjutnya dalam rasa trauma yang anak alami, tidak selalu akibat peristiwa ekstern seperti kekerasan. Akan tetapi, dapat terjadi karena pengalaman emosional yang tidak disadari. Tiara menambahkan bahwa trauma juga berhubungan dengan luka batin tiap pribadi

淧engalaman emosional yang terjadi oleh anak dan orang tua tidak menyadari, maka anak akan mulai membentuk persepsi negatif tentang dirinya. Terbentuknya luka hingga suara batin yang terus hidup di dalam pikiran. Sehingga luka yang tidak terselesaikan itu terus terbawa dan berdampak pada gejala psikologis saat dewasa, tambahnya

Dosen Fakultas Psikologi itu menjelaskan jika rasa trauma itu membentuk pola pikir dan emosi. Bisa juga mempengaruhi suatu hubungan. Sehingga butuh cara dalam mengatasi trauma agar hidup lebih tenang dan tidak terbayang-bayang dengan luka

淜ita bisa mencoba beberapa cara agar dapat mengatasi rasa childhood trauma. Seperti menyembuhkan inner child, mengembangkan diri sesuai dengan potensi positif, melakukan terapi dan mencari dukungan profesional serta jangan lupa untuk validasi serta menerima diri. Karena itu kunci utamanya, jelasnya.

Penulis: Ersa Awwalul Hidayah

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT