Pariwisata merupakan salah satu mesin pertumbuhan baru di Indonesia yang dapat menciptakan banyak lapangan kerja, mendatangkan devisa, dan menciptakan efek multiplier dalam perekonomian. Namun demikian, adanya pandemi COVID-19 diperkirakan bertanggung jawab atas penurunan kedatangan wisatawan di Indonesia hampir 76% pada tahun 2020. Indonesia kehilangan sekitar 12,8 juta wisatawan dan US$ 14,7 miliar pada tahun 2020. Kegiatan ekonomi sektor akomodasi menderita kerugian besar lebih dari 30% diikuti oleh kerugian besar lainnya pada sektor industri / manufaktur, jasa, makanan dan minuman, ritel, dan transportasi. Pada tahun 2021, sektor pariwisata diproyeksikan mengalami potensi kerugian kunjungan wisatawan sebesar 14 juta orang dan kerugian pendapatan sebesar US$ 17,1 miliar.
Dalam memahami faktor-faktor yang menjelaskan kedatangan turis asing di Indonesia, para peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis 51动漫 menjalankan model menggunakan data selama hampir 30 tahun. Secara khusus, para peneliti di FEB UNAIR memperkirakan model permintaan pariwisata sebagai fungsi dari beberapa faktor antara lain efek “dari mulut ke mulut”, pendapatan per kapita wisatawan, harga relatif layanan pariwisata di Indonesia dibandingkan dengan di luar negeri, harga substitusi untuk mengukur dampak perubahan harga pada tujuan wisata alternatif terhadap kedatangan asing ke Indonesia, dan serangkaian variabel untuk menangkap kejutan dalam krisis keuangan global pada tahun 2008 dan serangan teroris pada tahun 2005. Dengan prespektif tersebut, para peneliti melihat enam negara turis inbound teratas di Indonesia adalah Cina , Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, dan India.
Secara keseluruhan, kedatangan wisatawan asing di Indonesia sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan wisatawan, daya saing harga jasa pariwisata di Indonesia, dan harga substitusi (daya saing harga destinasi wisata alternatif) yang merupakan penentu penting kedatangan wisatawan. Selain itu, para peneliti menemukan bahwa lebih banyak wisatawan datang ke Indonesia sebagai akibat dari adanya efek informasi 渄ari mulut ke mulut, di mana Indonesia direkomendasikan sebagai tujuan yang menarik dan layak untuk dikunjungi. Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan pengalaman yang dialami wisatawan selama berada di Indonesia, dan pentingnya menciptakan destinasi wisata yang lebih menyenangkan. Dengan demikian, adanya Ulasan, pengalaman positif, dan berbagi referensi bagus tentang perjalanan di Indonesia diharakan dapat mendukung kedatangan lebih banyak wisatawan. Turis yang saling berbagi informasi dan pengalaman merupakan sumber penting bagi pertumbuhan kedatangan wisatawan di Indonesia.
Meskipun demikian, peneliti dari UNAIR memperkirakan bahwa, Indonesia memerlukan waktu yang lama untuk menarik kembali wisatawan dari Jepang, Singapura, dan India karena negara-negara tersebut menghadapi penurunan pendapatan disposabel. Selain itu, turis dari ketiga negara tersebut juga menunjukkan elastisitas pendapatan yang besar yang menjadikan Indonesia adalah tujuan mewah bagi mereka. Namun, dengan adanya pandemi dan resesi ekonomi, mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama bagi pernyedia layanan mewah untuk pulih kembali. Wisatawan dari Malaysia dan China juga melanjutkan kegiatan pariwisata di Indonesia lebih cepat dibandingkan negara lain, dengan asumsi bahwa Malaysia tidak mengalami perlambatan ekonomi yang tajam. Singapura dan Australia dapat melanjutkan dengan kecepatan yang relatif cepat dan dapat menjadi pengunjung pertama yang membantu memulai kembali pariwisata asing di Indonesia, karena Indonesia dianggap sebagai tujuan wisata yang murah. Namun, pemulihan wisatawan Singapura dan Australia mungkin bergantung pada apakah Indonesia meningkatkan kualitas layanan dan menerapkan protokol keselamatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada semua kasus kecuali Jepang, dalam jangka panjang sektor pariwisata sebagian besar ditentukan oleh tingkat pendapatan. Hal ini mungkin berarti bahwa kunjungan dalam jangka menengah dan panjang tergolong lebih sedikit, sehingga memerlukan penyesuaian kebijakan. Tingkat pertumbuhan pengunjung dari Jepang telah menurun pada dekade terakhir, sebagian disebabkan karena ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan yang lambat. Begitu juga arus masuk wisatawan dari India, yang kemungkinan juga akan terpengaruh negatif oleh penurunan pendapatan . Selain itu, turis India sensitif terhadap harga dan cenderung merespons kenaikan harga pariwisata yang dihadapi Asia secara negatif. Akibatnya, wisatawan India akan memilih destinasi wisata alternatif yang memiliki harga lebih kompetitif. Hal ini memerlukan kebijakan yang lebih strategis untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Selain kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat promosi dan penetapan harga, kebijakan lain yang berkaitan dengan protokol kesehatan dan keselamatan akan menjadi aspek penentu dalam jangka pendek. Dalam periode yang lebih lama, tampaknya dalam menarik lebih banyak wisatawan akan membutuhkan lebih dari sekedar promosi dan kebijakan yang berorientasi pada harga, karena efek pada permintaan dari penawaran harga rendah cenderung kecil. Kebijakan yang gagal dalam menangani kualitas layanan, keterampilan tenaga kerja, akses ke tempat menarik, keamanan, dan kebijakan nonekonomi terkait lainnya, dapat berimplikasi pada rendahnya pertumbuhan pariwisata dalam jangka menengah hingga panjang. Untuk saat ini, kebijakan tampaknya ditujukan untuk menjaga mata pencaharian pelaku pariwisata dan mengaktifkan kembali arus masuk pariwisata.
Setelah pemulihan sedang berlangsung, perubahan kebijakan menuju kegiatan pariwisata yang lebih berkelanjutan menjadi rekomendasi pada penelitian ini. China adalah negara yang paling sedikit terkena dampak pandemi. Elastisitas pendapatan wisatawan Tiongkok yang positif menunjukkan bahwa arus masuk wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia dapat segera dilanjutkan, tentunya dengan izin pemerintah Tiongkok dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Turis China tergolong kurang sensitif terhadap harga dalam jangka panjang dan memandang Indonesia sebagai pasar pelengkap destinasi Asia lainnya. Karena kemungkinan besar negara-negara Asia seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina akan fokus untuk menarik wisatawan China, Indonesia dapat lebih agresif dalam meningkatkan program pariwisatanya. Kesediaan wisatawan China di Indonesia untuk membayar harga yang lebih tinggi merupakan faktor positif lain untuk pemulihan kegiatan pariwisata yang cepat. Strategi harga mungkin berhasil dalam menarik pengunjung dari Malaysia, Jepang, dan India. Namun, fokus berlebihan pada harga bisa menjadi kontra-produktif, karena efek penurunan harga hanya memberikan sedikit efek positif pada kedatangan. Selain itu, Kebijakan non-harga juga kemungkinan memiliki dampak yang lebih besar pada kedatangan internasional.
Penulis: Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla
Dari Link Artikle: Esquivias, M.A., Sugiharti, L., Rohmawati, H., Setyorani, B., & Anindito, A. (2021). TOURISM DEMAND IN INDONESIA: IMPLICATIONS IN A POST-PANDEMIC PERIOD. GeoJournal of Tourism and Geosites, 37(3), 951958. https://doi.org/10.30892/gtg.37329-731





