UNAIR NEWS Upaya mencapai program pembangunan berkelanjutan di Indonesia kian masif dilakukan. Salah satunya mealui Great Indonesia Leaders Summit (GILS) 2018, sebuah program yang diadakan oleh Inovator Nusantara.
Pada 21-23 Juli lalu, bersama 188 anak muda dari seluruh Indonesia, mahasiswa prodi Fisika Moh. Wahyu Syafiul Mubarok dan prodi Biologi Sarofatul Nafa menjadi delegasi 51动漫 untuk mengikuti ajang GILS 2018.
Berlokasi di dua tempat yakni Kota Batu dan Malang, peserta GILS 2018 dibagi menjadi enam tim pembangunan berkelanjutan. Ada sekitar 40 orang tiap tim. Enam tim tersebut terbagi atas topik tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kesetaraan gender, energi bersih dan terjangkau, kota dan pemukiman yang berkelanjutan, dan ekosistem lautan. Masing-masing tim memiliki goal social project yang berbeda-beda.
Wahyu mengaku mendapat banyak manfaat dan pelajaran berharga pasca mengkuti kegiatan.
淜ami dapat memperluas relasi, memperkaya wawasan, dan terlibat dalam inisiasi project sosial untuk membentuk visi Indonesia di masa mendatang. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah ketika harus terjun langsung untuk membersihkan Sungai Brantas untuk memunguti sampah bersama komunitas Sabers Pungli – Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali, terangnya.
Dalam kegiatan ini terdapat konferensi dengan menghadirkan publik figur, praktisi lingkungan, akademisi, dan pemerintah yang fokus di bidang pembangunan berkelanjutan. Selain itu, ada pula Batu Engagement, yakni belajar dari gerakan maupun komunitas di Kota Batu yang sesuai dengan jenis chamber/tim.
Kemudian, ada ideas coaching dengan nara sumber dan coach yang membantu merumuskan social project yang akan dilaksanakan para peserta. Serta, pitching pompetition, yakni presentasi untuk menggaet investor maupun korporasi untuk bekerja sama dan mendukung social project yang dirumuskan masing-masing tim. Kegiatan ditutup dengan outbond bersama.
淩asanya bangga bisa menjadi salah satu lilin harapan dari desa maupun daerah, berkolaborasi dalam ruang masif, dan inklusif dengan lilin-lilin harapan lain dari seluruh Indonesia untuk menjadi obor peradaban bagi Indonesia yang lebih baik di masa depan, tutup Wahyu.
Ada 3 jalur seleksi sebelum Wahyu dan Sarofa mengikuti ajang tersebut. Jalur pertama mengikuti seleksi berkas, wawancara, dan membuat video social project. Jalur kedua adalah silver ticket, yakni jalur yang diperuntukkan bagi para finalis yang mengikuti kompetisi esai GILS sebelumnya. Dalam kesempatan itu, Wahyu menjadi salah satu peserta yang memperoleh silver ticket. (*)
Penulis: Zanna Afia Deswari
Editor: Binti Q. Masruroh





