Remaja rentan untuk berperilaku yang berisiko seperti merokok, minum minuman yang keras, penyalahgunaan obat-obatan, kekerasan, kecelakaan, hingga berhubungan seksual yang tidak aman. Perilaku seksual dapat menjadi penyebab remaja mengalami kehamilan saat usia dini. Pola pacaran yang tidak sehat dapat menyebabkan permasalahan kesehatan reproduksi, seperti penyakit menular seksual (PMS) dan dapat menjadi HIV-AIDS. Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan kesehatan reproduksi remaja (KRR) seperti remaja yang kurang terpaparinformasi mengenai kesehatan reproduksi, peralihan perilaku seksual remaja, serta perundang-undangan yang kurang mendukung. Berdasarkan SDKI KRR, terdapat remaja Indonesia yang telah memulai berpacaran saat berusia 15 tahun. Pacaran dapat menjadi permulaan remaja untuk berperilaku seksual. Perilaku seksual ini dapat bermacam-macam bentuknya, seperti mulai tertarik perasaannya kepada lawan jenis hingga melakukan KNPI (kissing, necking, petting, dan intercourse). Tidak hanya itu, berpacaran juga dapat memicuterjadinya hubungan seks di luar nikah yang dapat menjadi penyebab kehamilan di usia remaja.
Kehamilan di usia remaja dapat berisiko pada ibu dan bayi. Pada wanita yang berusia di bawah 20 tahun memiliki kondisi rahim dan panggul yang belum berkembang secara optimal. Kondisi tersebut dapat berdampak pada persalinan, nifas, serta bayi yang dilahirkan. Kehamilan di usia remaja dapat menyebabkan terjadinya keguguran, pendarahan, anemia yang dapat berdampak pada proses persalinan ibu. Sedangkan pada bayi, dapat berisiko terjadinya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), cacat lahir, serta meningkatkan angka kematian bayi. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan remaja mengalami kehamilan, seperti kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja serta kurang memahami kewajiban sebagai pelajar. Selain itu, faktor pergaulan juga memengaruhi remaja dalam melakukan hal yang ingin diketahui. Remaja yang bergaul tanpa kendali orang tua dapat menyebabkan remaja merasa bebas dalam melakukan apa saja yang diinginkan. Hal tersebutjuga didukung dengan adanya teknologi komunikasi yang terus berkembang dan semakin canggih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan peran orang tua terhadap perilaku pencegahan kehamilan remajadi SMA PGRI 1 Sidoarjo. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini menggunakan metode random sampling. Sampel berjumlah 65 siswa yang terdiri dari siswa kelas X dan XI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki pengetahuan baik, sikap yang mendukung terhadap perilaku pencegahan kehamilan di usia remaja, serta terdapat peran orang tua dalam berperilaku pencegahan kehamilan di usia remaja.
Penulis: Muthmainnah, S.KM., M.Kes.
Link Artikel :





