51动漫

51动漫 Official Website

Eco Enzyme dan Kursi Eco Brick Hadir di Kelurahan Tlogobendung Bersama BBK 7 UNAIR

UNAIR NEWS – Pada Selasa, 21 Januari 2026, Mahasiswa 51动漫 yang sedang melaksanakan Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7, berkolaborasi dengan warga Kelurahan Tlogobendung, Kabupaten Gresik, dalam program pengelolaan sampah terpadu melalui pembuatan eco enzyme dari limbah kulit buah dan pemanfaatan sampah anorganik menjadi eco brick yang dirangkai menjadi kursi ramah lingkungan. Eco enzyme adalah ekstrak cairan yang dihasilkan dari fermentasi sisa sayuran dan buah-buahan  dengan  substrat gula merah atau  molase.  Prinsip proses pembuatan eco enzyme sendiri  sebenarnya  mirip  proses  pembuatan  kompos,  namun  ditambahkan air sebagai media pertumbuhan sehingga produk akhir yang diperoleh berupa cairan yang lebih disukai karena lebih mudah digunakan dan mempunyai banyak manfaat (Luthfiyyah et al., 2010).

Kegiatan yang dipusatkan di Balai Kantor Kelurahan Tlogobendung ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengolahan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan terhadap pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menghadirkan solusi praktis dan berkelanjutan. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, warga diajak melihat bahwa limbah organik dan anorganik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai guna di lingkungan sekitar.

Pembuatan Eco enzyme dari Sampah Kulit Buah

Dalam sesi pelatihan, mahasiswa BBK 7 51动漫 memperkenalkan konsep eco-enzyme sebagai salah satu inovasi pengolahan sampah organik rumah tangga, khususnya kulit buah yang mudah terurai seperti kulit jeruk, pepaya, dan semangka. Warga diperkenalkan formulasi umum pembuatan eco enzyme dengan perbandingan volume 1:3:10 (1 bagian gula, 3 bagian sampah organik, dan 10 bagian air), kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama sekitar 3 bulan hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat kekuningan dengan aroma asam segar.

Mahasiswa menjelaskan bahwa selama proses fermentasi, limbah organik akan diurai oleh mikroorganisme dan menghasilkan senyawa organik seperti asam asetat, alkohol, dan enzim yang bermanfaat, sehingga cairan eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pembersih ramah lingkungan dan bahan pendukung pertanian organik (Widiani dan Novitasari, 2021). Melalui praktik langsung, warga Tlogobendung diajak menyiapkan bahan, menimbang gula merah atau molase, mencacah kulit buah, dan mengemasnya dalam wadah plastik untuk kemudian disimpan hingga masa panen eco enzyme 迟颈产补.

Dari Sampah Anorganik Menjadi Kursi (Eco Brick)

Selain pengolahan sampah organik, program ini juga menyasar sampah anorganik, terutama plastik sekali pakai yang selama ini banyak mencemari lingkungan. Mahasiswa BBK 7 UNAIR mengajak warga memilah, membersihkan, dan mengeringkan sampah plastik sebelum dimasukkan hingga padat ke dalam botol plastik lalu menjadi eco brick, yaitu 渂ata plastik yang padat dan dapat disusun menjadi berbagai produk fungsional.

Di Kelurahan Tlogobendung, eco brick yang dihasilkan kemudian dirangkai menjadi kursi sederhana yang dapat dimanfaatkan di ruang publik. Pemanfaatan eco brick sebagai furnitur tidak hanya membantu mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau sungai, tetapi juga menghadirkan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah dapat menghasilkan karya kreatif bernilai estetika dan fungsional bagi masyarakat.

Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan terbentuk kebiasaan baru di Kelurahan Tlogobendung dalam memilah sampah, mengolah kulit buah menjadi eco enzyme, serta mengubah sampah plastik menjadi eco brick yang memiliki nilai guna. Kegiatan ini mendukung pencapaian beberapa target SDGs di tingkat lokal, terutama pengelolaan sampah berkelanjutan, peningkatan kesadaran lingkungan, dan penguatan kemitraan antara mahasiswa 51动漫 dan masyarakat.

Program ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan terkait penggurangan sampah organik dan anorganik melalui eco enzyme dan eco brick berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih sehingga mendukung derajat kesehatan masyrakat (SDG 3) serta pengurangan sampah organik yang biasanya dibuang ke TPA dapat menurunkan potensi emisi gas rumah kaca dari proses pembusukan, sehingga kegiatan ini mendukung aksi iklim di tingkat lokal (SDG 13). Dengan pemanfaatan eco brick yang disusun menjadi kursi mendukung pengelolaan sampah perkotaan yang lebih berkelanjutan dan menumbuhkan kepedulian lingkungan berkontribusi terhadap SDGs 11; kota dan pemukiman yang berkelanjutan.

AKSES CEPAT