51动漫

51动漫 Official Website

Efek Jejak Polutan Anorganik pada Kesehatan dan Lingkungan

Efek Jejak Polutan Anorganik pada Kesehatan dan Lingkungan
Sumber: AtmaGo

Manusia menghabiskan 1/3 harinya di dalam ruangan. Oleh sebab itu, kualitas udara dalam ruangan akan mempengaruhi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Udara yang kita hirup terdiri dari banyak partikel dan gas misalnya oksigen, nitrogen, dan karbondioksida. Selain partikel dan gas tersebut, udara kita juga mengandung berbagai zat yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan seperti polutan anorganik. Meski zat-zat tersebut tidak kasat mata, dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan dan ekosistem sangat nyata dan mengkhawatirkan. Partikel-partikel ini tidak hanya berasal dari aktivitas di dalam ruangan, seperti penggunaan bahan kimia, tetapi juga pembakaran bahan bakar, dan bahan kimia tertentu. Pemahaman terkait akumulasi polutan anorganik di dalam ruang dan dampaknya pada kesehatan manusia dan lingkungan sangat penting dilakukan.

Apa itu polutan anorganik?

Polutan anorganik merupakan salah satu konstituen partikulat yang sebagian besar terakumulasi dari aktivitas anthropogenic. Sebagian besar senyawa anorganik berasal dari bijih dan mineral, tidak seperti senyawa organic yang berasal dari bahan alami dan makhluk hidup. Contoh dari polutan anorganik adalah cadmium (Cd), timbal (Pb), kromium (Cr), nikel (Ni), merkuri (Hg), nitrogen oksida (NO), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), ozon, partikulat halus (PM10 dan PM2.5). Meskipun kadar debu anorganik yang lebih tinggi ditemukan di udara ambien daripada di dalam ruangan, paparan polutan anorganik dalam jangka panjang dan durasi aktivitas dalam ruangan akan meningkatkan dampak negatif pada kesehatan manusia.

Sumber polutan anorganik?

Polutan anorganik tersebar di dalam ruangan seperti rumah, kantor, apartemen, serta terakumulasi pada seluruh objek dan sudut dalam bangunan yang kemudian dihirup oleh penghuninya. Polutan anorganik dalam ruang ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi pada aktivitas pembakaran, merokok, dan pemanasan. Selain itu, sumber polutan anorganik juga dihasilkan oleh aktivitas memasak, bahan bangunan, serta lingkungan fisik dari bangunan.

Dampak kesehatan paparan polutan anorganik

Polusi udara dalam ruangan berhubungan dengan gangguan tidur dan infeksi saluran pernafasan pada anak-anak dan orang tua. Hal ini juga berkaitan dengan aktivitas merokok di dalam rumah dimana dalam penelitian sebelumnya diketahui bahwa kadar logam berat dalam darah dan urin perokok aktif lebih tinggi dibandingkan mereka yang bukan non-perokok. Berdasarkan tingkat toksisitasnya yang tinggi, beberapa logam dari pembakaran tembakau dan tungku kayu akan terakumulasi pada pakaian, meja, tangan, atau makanan, yang berdampak pada tingginya risiko paparan dan penyakit kardiovaskular di masa depan. Selain efek pada perokok berat, infeksi saluran pernapasan, asma, dan sindrom kematian bayi mendadak dapat terjadi pada orang yang bukan perokok. Tuberkulosis telah dikaitkan sebagai salah satu konsekuensi dari penggunaan lampu penerangan minyak tanah di dalam ruangan. Pembakaran bahan bakar biomassa pada pemanas ruangan juga dapat menyebabkan asma pada anak-anak dan kematian bayi. Selain itu, terdapat dampak lain pada penyakit pernafasan yang disebabkan oleh paparan polutan anorganik diantaranya kanker paru, penyakit paru obstruktif kronik, dan infeksi saluran pernafasan akut. Penyakit pada kulit seperti iritasi epidermis, inflamasi kulit, dermatitis atopic, kerontokan rambut, eksim serta penuaan dini pada kulit juga dapat dipicu oleh polutan anorganik udara di dalam ruang seperti ozon, karbon monoksida, nitrogen dioksida, logam oksida, dan gas toksik. Paparan polutan anorganik di dalam ruang juga meningkatkan risiko kerusakan sel otak dan gangguan perkembangan saraf pada janin. Diketahui juga bahwa ada 27% kelahiran prematur yang disebabkan oleh paparan polutan anorganik dalam ruang seperti karbon monoksida, ozon, dan PM0.1.

Pengendalian polutan anorganik dan tantangannya di masa depan

Pengendalian paparan polutan anorganik dapat dilakukan dengan memberlakukan pengendalian kebiasaan merokok misalnya dengan menaikan harga rokok sehingga tidak dapat di beli pada warung kecil atau swalayan tanpa adanya identifikasi resmi untuk memverifikasi usia pembeli. Rencana kebijakan merokok juga dapat memasukkan pedoman untuk program berhenti dari kebiasaan merokok, memberikan dukungan kepada individu yang ingin berhenti merokok, dan sumber daya untuk membantu perokok mengatasi gejala putus zat nikotin. Di Brasil, Taiwan, dan Kanada, kemasan rokok harus dilengkapi dengan label peringatan bergambar yang mencakup minimal 50% dan 75% dari bagian depan dan belakang kemasan. Strategi lainnya adalah dengan meningkatkan pajak tembakau. Menaikkan harga rokok telah terbukti menjadi kebijakan pengendalian tembakau yang efektif untuk mengurangi jumlah perokok di kalangan anak muda. Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap orang dewasa muda menemukan bahwa menaikkan harga rokok dapat menurunkan perilaku merokok.

Pengendalian lainnya dapat dilakukan dengan penggantian bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan ruangan dan memasak dengan yang lebih bersih, menggunakan filter udara dalam ruang, serta memonitoring sumber emisi dan pergerakan partikulat dalam ruang.

Kesimpulan

Zat-zat anorganik di lingkungan merupakan ancaman nyata bagi manusia yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Sebagian besar aerosol anorganik bersifat toksik dan diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh IARC karena tingkat toksisitasnya yang tinggi, akumulasi yang lama di dalam ruangan, dan keberadaannya yang sering dihasilkan dari aktivitas manusia. Paparan jangka panjang polutan anorganik dapat mengganggu aktivitas sel dan meningkatkan reaksi radikal bebas di seluruh tubuh, yang berakibat pada peningkatan risiko penyakit kronis, insufisiensi paru, dan kematian. Merokok dan memasak menggunakan bahan bakar yang tidak ramah lingkungan merupakan kegiatan yang paling merugikan yang mengurangi fungsi paru-paru melalui penghirupan dan penyerapan CO2, NO2, dan partikulat anorganik lainnya melalui kulit, yang menyebabkan kerusakan alveoli dan paru-paru, peningkatan tekanan darah, peradangan saraf, dan metilasi DNA. Intervensi dapat dilakukan untuk mengurangi konsentrasi polutan udara dalam ruang diantaranya menerapkan penyaring udara partikulat berefisiensi tinggi, pengaturan ventilasi, dan menyediakan tanaman dalam ruangan untuk menyerap emisi gas yang terkumpul.

Penulis: Dr. Ratna Dwi Puji Astuti, S.K.M.

Link:

Baca juga: Pencemaran Udara Luar Ruangan: Ancaman Global yang Tidak Bisa Diabaikan

AKSES CEPAT