Kanker prostat menempati urutan kedua sebagai kanker dengan angka kematian tertinggi pada pria di seluruh dunia. Pada tahun 2020, tercatat sekitar 1,4 juta kasus baru dengan angka kematian mencapai lebih dari 375 ribu orang. Pengobatan kanker prostat saat ini sangat bergantung pada bagaimana kanker merespons hormon pria yang disebut androgen. Namun, untuk kanker prostat stadium lanjut yang sudah kebal terhadap terapi hormon, pengobatannya lebih kompleks. Beberapa obat modern seperti targeted androgen reseptor (ARTA), Sipuleucel-T, Radium-223, dan immune checkpoint inhibitors (ICI) telah digunakan untuk pasien pada kondisi ini.
Metformin, obat yang biasa digunakan untuk mengobati diabetes melitus tipe-2. Obat ini membantu menurunkan kadar gula darah dengan mengaktifkan jalur yang disebut AMP-activated protein kinase (AMPK). Menariknya, beberapa penelitian menunjukkan metformin juga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Jalur AMPK diaktifkan oleh metformin dapat menekan protein mTOR, yaitu protein yang membantu pertumbuhan sel kanker. Melalui mekanisme ini, metformin dianggap memiliki efek antikanker.
Silodosin, obat yang digunakan untuk mengatasi pembesaran prostat jinak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa silodosin juga dapat membantu menekan pertumbuhan sel kanker prostat. Silodosin bekerja dengan menghambat jalur ELK-1, yang terlibat dalam pengaktifan gen yang mendorong pertumbuhan kanker. Mekanisme silodosin ini, dapat mengurangi kemampuan sel kanker prostat untuk berkembang. Kombinasi silodosin dengan obat kemoterapi seperti gemcitabine juga mampu meningkatkan efektivitas pengobatan kanker prostat.
Berkaitan dengan penelitian ini, telomerase adalah enzim yang membantu sel kanker terus membelahPada kondisi sel yang normal, pembelahan sel akan terbatas, tetapi sel kanker memproduksi telomerase dalam jumlah besar mendukung pembelahan yang tidak terkendali. Aktivitas telomerase yang tinggi dapat ditemukan pada kanker prostat, sedangkan pada pembesaran prostat jinak, aktivitasnya jauh lebih rendah. Oleh karena itu, menekan aktivitas telomerase adalah salah satu cara untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker.
Penelitian ini bertujuan menguji efek metformin, silodosin, dan abiraterone pada sel kanker prostat PC-3, yaitu sel kanker prostat kebal terapi hormon yang melalui proses kultur secara in-vitro. Langkah-langkah dalam penelitian ini, pertama adalah menentukan inhibitory concentration (IC50) dari masing-masing obat metformin, silodosin, dan metformin. IC50 merupakan konsentrasi yang diperlukan untuk menghambat 50% dari viabilitas sel kanker prostat PC-3. Selanjutnya, kadar serum human telomerase reverse transcriptase (hTERT) dari masing-masing obat yang diuji berdasarkan nilai IC50sebelumnyaakan diukur menggunakan teknik ELISA. hTERTmerupakan protein yang berfungsi untuk memperpanjang ujung kromosom, dalam hal ini jika ditemukan kadar yang tinggi, maka menunjukkan aktivitas telomerase atau pembelahan sel yang tinggi pula.
Hasil penelitian ini menunjukkan metformin memiliki IC50 sebesar 17,7 mM, silodosin sebesar 44,162 mM, dan abiraterone sebesar 66,9 mM. Penurunan konsentrasi hTERT paling besar terjadi pada kelompok yang diberikan kombinasi metformin dan abiraterone, serta kombinasi ketiga obat, yaitu metformin, silodosin, dan abiraterone. Dari ketiga obat tersebut, metformin memberikan efek paling signifikan dalam menurunkan kadar hTERT dibandingkan dengan obat lainnya. Sementara itu, silodosin juga menunjukkan kemampuan untuk menurunkan hTERT, meskipun pengaruhnya tidak sekuat metformin, terutama jika digunakan secara tunggal.
Penelitian ini menunjukkan metformin memberikan pengaruh terbesar dalam menurunkan aktivitas telomerase, sedangkan silodosin menunjukkan potensi sebagai terapi tambahan yang mendukung efektivitas obat lainnya. Temuan ini membuka peluang mengembangkan pengobatan kanker prostat, khususnya yang sudah berada pada stadium lanjut.
Penulis: Lukman Hakim, dr., M.Kes., Ph.D
Link:
Baca juga: Kanker Prostat Derajat Tinggi pada Pasien dengan Prostat Spesifik Antigen yang Rendah





