Wellens berhubungan dengan stenosis yang signifikan di arteri koroner LAD. Jika pasien dengan sindrom Wellens tidak menjalani revaskularisasi segera, 75% dari mereka akan mengalami infark miokard (MI) anterior wall yang extensive. Ada dua jenis perubahan EKG pada sindrom Wellens, yaitu : tipe A dengan gelombang T bifasik dan tipe B dengan gelombang T negatif yang dalam, khususnya pada sadapan V2 dan V3
Dasar diagnosis sindrom Wellens antara lain : riwayat angina; elevasi segmen ST normal atau minimal (1 mm); tingkat enzim jantung normal atau sedikit meningkat; progres gelombang R prekordial normal; tidak ada gelombang Q pada sadapan prekordial; dan inversi yang sangat dalam pada gelombang T atau bifasik di sadapan V2 dan V3, yang terkadang meluas hingga V1揤6, terjadi selama periode tanpa rasa sakit.
Meskipun Wellens mudah didiagnosis dengan kriteria EKG noninvasif, namun sering sulit dalam menentukan diagnosisnya. Karena beberapa kondisi klinis yang umum memiliki karakteristik pola EKG yang sama. Itulah alasan diangkatnya kasus sindrom Wellens pada pasien dengan riwayat hipertensi dan COPD ini, yang berpotensi disalahartikan sebagai pseudo sindrom Wellens.
Laporan kasus : seorang pasien berusia 69 tahun datang ke IGD dengan riwayat hipertensi dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Keluhan utamanya adalah nyeri dada khas berulang selama dua hari terakhir dengan intensitas yang semakin meningkat. Pasien sebelumnya perokok berat dan sudah berhenti sejak dua bulan terakhir. Pasien mendapatkan terapi hipertensi dan PPOK. Pada saat MRS, sudah tidak ada nyeri dada dan tanda-tanda vitalnya normal. Dari EKG saat tidak nyeri didapatkan gelombang T terbalik simetris di sadapan V2-V5. Tingkat troponin I sedikit meningkat dan temuan laboratorium normal. Dari CXR didapatkan paru-paru emfisematosa dan jantung prominen dengan CTR 52%. Hasil ekokardiografi menunjukkan mitral trival regurgitasi dan TR, disfungsi diastolik derajat 1, gerakan dinding regional normal, dan fraksi ejeksi 62%.
Gelombang T abnormal dalam kasus ini mungkin disalahartikan LVSP atau sindrom pseudo-Wellens akibat LVH. Namun, berdasarkan gejala dan pola EKG patognomonik Wellens tipe B. Pasien kemudian direncanakan untuk kateterisasi jantung dan didapatkan hasil oklusi total pada pertengahan LAD, sehingga dilanjutkan dengan pemasangan stent.
Penulis: Prof. Dr. Yudi Her Oktaviano, dr.,Sp.JP(K)FIHA.FICA.FAsCC.FSCAI.
Link:
Baca juga: Embolisasi Transkateter Perkutan pada Pasien Fistula Arteri Koroner Besar yang Berliku





