51动漫

51动漫 Official Website

Efek Penggunaan Jangka Panjang Hidroksiklorokuin pada Struktur dan Fungsi Tubuh

Kejadian pandemi Coronavirus-19 (COVID-19) telah mendisrupsi banyak aspek kehidupan terutama kesehatan. Selama puncak pandemi COVID-19, peneliti diseluruh dunia banyak diorientasikan guna menurunkan dampak buruk pandemi baik dalam dalam hal promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif. Pada aspek kuratif, banyak alternatif senyawa obat yang diajukan untuk menjadi bagian dari terapi COVID-19. Salah satu senyawa obat yang menjadi perhatian dunia adalah hidroksiklorokuin. Puncaknya pada bulan maret tahun 2020, Food and Drug Administration (Amerika serikat) memberikan izin penggunaan hidroksiklorokuin untuk pasien rawat inap COVID-19. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat ini memiliki efek pada reseptor seluler tempat masukknya virus SARS-CoV-2 di sel paru. Namun penggunaan hidrosiklorokuin untuk pasien COVID-19 ini disertai dengan rasa keraguan oleh tenaga kesehatan karena kekhawatiran tentang potensi efek samping yang mungkin didapatkan pasien.

Hidroksiklorokuin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati malaria dan penyakit autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik, rheumatoid arthritis, endometriosis, dan porphyria cutanae tarda. Selain itu, hidroksiklorokuin juga merupakan terapi farmakologi baru untuk mengelola diabetes tipe-2, menurunkan risiko kardiovaskular, melindungi dari cedera miokard, melemahkan iskemia ginjal, dan menghambat aktivasi inflammasome cathepsin. Hasil dari beberapa kajian medis menunjukkan bahwa hidroksiklorokuin dapat memperbaiki obesitas terkait lipotoksisitas dan mengurangi resistensi insulin melalui proliferasi reseptor aktivasi jalur peroxisome gamma. Namun disamping manfaat-manfaat tersebut, diketahui bahwa toksisitas hidroksiklorokuin dapat berdampak buruk pada organ vital manusia seperti menyebabkan kerusakan mata dan dapat memiliki efek kardiovaskular. Dengan meningkatnya penggunaan penggunaan hidroksiklorokuin selama pandemi COVID-19, muncul kekhawatiran akan potensi risiko toksisitas dari obat tersebut. Kekhwatiran ini mendorong dilakukannya penelitian mengenai toksisitas hidroksiklorokuin yang dilakukan oleh Aruwali et al tahun 2023. Penelitan tersebut melibatkan simulasi in vivo penggunaan hidroksiklorokuin jangka panjang dengan dosis yang disesuaikan pada penggunaan sebagai terapi malaria, lupus eritematosus dan COVID-19. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa penggunaan hidroksiklorokuin dapat menurunkan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, trombosit, leukosit, dan limfosit. Lebih lanjut, hidroksiklorokuin secara signifikan meningkatkan jumlah aspartat aminotransferase, alanin aminotransferase, amilase, alkalin fosfatase, laktat dehidrogenase, kolesterol, dan ion klorin. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hidroksiklorokuin dapat perubahan struktur dan fungsi tubuh seperti menyebabkan fragmentasi glomerulus, degenerasi atrofi secara parsial, degenerasi hidropik tubulus ginjal, pembentukan gips hialin, dan pembentukan edema interstitial. Selain itu, hidroksiklorokuin juga menyebabkan nekrosis myofiber, myolysis, penampilan bergelombang, disorganisasi, dan kekacauan pada jaringan jantung. Pada jaringan testis ditemukan adanya degenerasi spermatosit, pengelupasan sel spermatogenik, edema interstisial testis, dan penghentian spermatogenik. Pada limpa terjadi penurunan jumlah dan ukuran folikel pulpa putih, penurunan jumlah aktivitas apoptosis, dan penurunan jumlah sel T. Pada pulpa merah terjadi penurunan limfosit B dan makrofag. Sedangkan pada organ hati menunjukkan hiperplasia sel Kupffer dan displasia hepatosit. Toksisitas dari hidroksiklorokuin ini kemungkinan dikaitkan dengan kemampuannya untuk menginduksi pembentukan beberapa senyawa oksidatif seperti reactive oxygen species.

Penggunaan suatu obat pada pasien harus mempertimbangkan beberapa aspek seperti safety, efficacy dan quality. Studi di atas ditujukan untuk memperkuat wawasan tenaga kesehatan profesional dan para pembuat kebijakan mengenai aspek safety penggunaan hidroksiklorokuin. Kerusakan organ dapat dipengaruhi oleh besaran dosis yang diterima tubuh dan jangka waktu penggunaan hidroksiklorokuin, selain mungkin kondisi penyakit penyerta pada pasien. Lebih lanjut, penelitian ini diharapkan mampu untuk mendukung upaya pemberian opsi terapi terbaik bagi pasien dalam hal ini terkait dengan kebijaksanaan penggunaan hidroksiklorokuin untuk tujuan terapi malaria, lupus eritematosus dan COVID-19.

Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt

Berdasarkan publikasi Alruwaili et al, 2023 pada Frontiers in Bioscience-Landmark Volume 28, Issue 7, 137

AKSES CEPAT