51动漫

51动漫 Official Website

Ekspektasi Apoteker tentang Layanan Telefarmasi di Apotek Komunitas di Indonesia

Ilustrasi apotek (foto: doki istimewa)

Globalisasi dan digitalisasi telah memicu perubahan lingkungan yang tidak menentu, berfluktuasi, dan kompleks di berbagai sektor termasuk sektor kesehatan. Munculnya layanan berbasis digital baru seperti kesehatan jarak jauh, telemedicine, telefarmasi, dan berbagai layanan kesehatan digital lainnya diprediksi akan terus mengalami perkembangan berkelanjutan untuk kepentingan sains dan bisnis.
Perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, blockchain, dan digital pintar lainnya juga mendorong lebih banyak digitalisasi perawatan kesehatan, nyaman dan dipersonalisasi. Penggunaan teknologi telah menjadi kebutuhan sehari-hari dalam kehidupan kita, lebih dari sekadar komunikasi online dan media sosial.
Terlepas dari ketakutan dan kecemasan yang dihasilkan oleh digitalisasi, manfaatnya bagi umat manusia terlihat jelas. Ada tiga manfaat teknologi informasi, yaitu (1) digitalisasi memungkinkan pendekatan yang dipersonalisasi untuk memecahkan masalah dan penyesuaian sesuai permintaan, (2) digitalisasi menyediakan platform untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara pelanggan dan komunitas mereka, dan (3) digitalisasi menghadirkan pengalaman baru yang unggul dan terintegrasi.
Pada sektor layanan farmasi, digitalisasi juga telah mendorong perubahan dalam budaya kerja baru dengan format baru yang membawa konsep telefarmasi, yang merupakan tren di berbagai negara. Penerapan telefarmasi selama pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku baru yang diprediksi menjadi kebiasaan baru setelah pandemi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rabbani et al. melalui empat basis data elektronik, PubMed, Scopus, ProQuest, dan Cochrane, mengenai identifikasi aplikasi layanan telefarmasi yang dilakukan sejak pandemi (31 Desember 2019 hingga 31 Mei 2022), dilaporkan bahwa pengembangan dan penerapan model telefarmasi di berbagai tempat dapat berbeda antara rumah sakit layanan primer, sekunder, dan lebih mudah termasuk layanan farmasi di apotek rumah sakit dan komunitas dan pusat layanan khusus.
Meningkatkan peran apoteker dalam layanan farmasi sangat penting dan strategis dalam mempercepat dan memulihkan kesehatan masyarakat di era digital karena pada dasarnya apoteker dapat memastikan ketersediaan obat yang tepat, aman, dan efektif untuk memantau penggunaan obat yang rasional untuk mencapai tujuan terapeutik yang diinginkan.
Dalam situasi ketika seorang apoteker tidak hadir secara fisik atau di mana sumber daya farmasi mungkin terbatas, seperti di klinik perawatan rawat jalan yang terpencil secara geografis dan institusi perawatan kesehatan, telefarmasi dapat sangat membantu. Manfaat telefarmasi selain meningkatkan nilai bagi apoteker, telefarmasi juga dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pasien, meningkatkan layanan antarprofesional, dan meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.
Namun, terlepas dari manfaat ini, hambatan utama dalam implementasi telefarmasi tetap ada, yaitu kerahasiaan data pasien dan privasi informasi data kesehatan pasien. Berbagai studi yang berkaitan dengan layanan farmasi menggunakan telefarmasi telah dilakukan secara luas termasuk penelitian yang berkaitan dengan layanan konseling pasien.
Terkait dengan hal di atas telah dilakukaan penelitian dengan tujuan melihat preferensi pasien dan apoteker untuk telefarmasi. Penelitian ini meneliti preferensi apoteker untuk telefarmasi. Studi cross-sectional ini dilakukan pada 457 apoteker di seluruh Indonesia pada Desember 2023. Alat yang digunakan adalah kuesioner dengan mekanisme pengumpulan data daring. Kuesioner online dirancang untuk menangkap harapan para apoteker untuk praktik layanan telefarmasi yang ada.
Penelitian ini mengikuti standar Deklarasi Helsinki, dan persetujuan peserta yang diinformasikan secara elektronik diperoleh. Temuan penelitian adalah: Mayoritas apoteker (96,5%) cenderung setuju atau sangat setuju dengan penggunaan telefarmasi. Ini menunjukkan dukungan luas dan penerimaan telefarmasi di antara para apoteker. Kemudian, sebagian besar apoteker (97,8%) setuju atau sangat setuju dengan kebutuhan akan layanan telefarmasi yang komprehensif dan terintegrasi. Tingkat persetujuan yang tinggi menunjukkan kepercayaan pada potensi manfaat dan peningkatan kualitas perawatan kesehatan melalui integrasi telefarmasi. Mayoritas apoteker (98,2%) melihat peluang yang menjanjikan dalam implementasi layanan telefarmasi di masa depan.
Tingkat optimisme yang tinggi mencerminkan kepercayaan pada kontribusi positif teknologi telefarmasi dalam meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas perawatan kesehatan. Sebagian besar apoteker (96,9%) setuju atau sangat setuju bahwa menerapkan praktik layanan farmasi jarak jauh dapat berdampak positif pada kinerja layanan farmasi. Tingkat persetujuan yang tinggi menunjukkan pengakuan atas potensi untuk meningkatkan layanan farmasi melalui pemanfaatan farmasi jarak jauh. Mayoritas apoteker (98,7%) bersedia untuk meningkatkan kompetensi di bidang layanan telefarmasi. Tingkat kesediaan yang tinggi ini adalah hal yang positif dalam memastikan bahwa apoteker dapat menyesuaikan diri dan memberikan layanan yang efektif dengan memanfaatkan teknologi telefarmasi.

Penulis: Imam Fathorrahman, Umi Athijah, Andi Hermansyah, Abdul Rahem

AKSES CEPAT