Penyakit periodontal atau radang gusi kronis masih menjadi salah satu masalah kesehatan gigi terbesar di dunia. Penyakit ini bukan hanya sekadar membuat gusi bengkak atau berdarah, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi, bahkan berujung pada kehilangan gigi. Menurut data, antara 20 hingga 50 persen populasi global diperkirakan mengalami periodontitis. Di Indonesia, masalah ini jauh lebih besar. Berdasarkan survei kesehatan tahun 2018, prevalensi periodontitis mencapai 71,4% , dengan setidaknya separuh orang dewasa mengalami bentuk kronis dari penyakit ini. Angka ini menunjukkan bahwa radang gusi bukan masalah sepele, melainkan isu kesehatan masyarakat yang perlu penanganan serius.
Penyebab utama periodontitis adalah kolonisasi bakteri berbahaya di rongga mulut. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah Porphyromonas gingivalis, yang ada pada sekitar 80% kasus periodontitis. Bakteri ini mampu menempel pada sel epitel gusi, kemudian mengeluarkan berbagai faktor virulensi seperti lipopolisakarida (LPS), enzim protease dan kolagenase, kapsul pelindung, hingga fimbriae. Faktor-faktor ini memperparah kolonisasi bakteri, memicu interaksi dengan bakteri lain, dan meningkatkan peradangan di jaringan gusi. Salah satu pemicu utama kerusakan adalah LPS, yang mengaktifkan reseptor TLR4 dan selanjutnya memicu jalur sinyal NF-魏B. Jalur ini menyebabkan produksi sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF-伪 yang mempercepat kerusakan jaringan periodontal.
Saat ini, terapi standar untuk periodontitis umumnya berupa scaling dan root planing, yaitu membersihkan plak dan karang gigi di sekitar gusi. Antibiotik juga kerap diberikan untuk menekan pertumbuhan Porphyromonas gingivalis. Namun, penggunaan antibiotik jangka panjang tidak selalu ideal. Risiko resistensi bakteri semakin tinggi, flora normal mulut bisa terganggu, hingga timbul efek samping pada saluran pencernaan. Kondisi ini membuat para peneliti mencari alternatif yang lebih aman untuk terapi jangka panjang, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alami dengan sifat antibakteri dan antiinflamasi.
Salah satu kandidat yang mulai mendapat perhatian adalah Saussurea costus, tanaman obat yang berasal dari pegunungan Himalaya, India. Sejak lama, tanaman ini digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit. Penelitian modern menunjukkan bahwa kandungan utamanya, seperti dehydrocostus lactone dan costunolide, memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi yang cukup kuat.
Beberapa studi menunjukkan Saussurea costus efektif melawan bakteri gram-positif maupun gram-negatif, termasuk Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Mekanismenya beragam, mulai dari merusak membran sel bakteri sehingga terjadi kerusakan pada sitoplasma, menghambat sintesis DNA dan RNA, hingga mengganggu metabolisme energi dan enzim penting. Namun, meski potensial, efektivitas klinis ekstrak herbal sering kali terhambat oleh rendahnya bioavailabilitas, yaitu kemampuan zat aktif untuk diserap dan digunakan tubuh.
Di sinilah teknologi nanopartikel hadir sebagai solusi. Dengan ukuran sangat kecil, antara 101000 nanometer, partikel ini mampu menembus membran sel, membuat senyawa aktif lebih stabil, mudah didistribusikan, dan lebih efektif bekerja di jaringan target. Peneliti yang ada memformulasikan ekstrak Saussurea costus ke dalam bentuk nanopartikel, dan mengujinya pada model hewan periodontitis. Penelitian ini dilakukan pada tikus Wistar yang diinduksi periodontitis dengan injeksi bakteri Porphyromonas gingivalis.
Setelah dua minggu, tikus-tikus yang disuntik bakteri menunjukkan tanda-tanda radang gusi, mulai dari gusi memerah, bengkak, resesi gusi, hingga mudah berdarah saat disentuh. Pemeriksaan radiografi memperlihatkan penurunan kepadatan tulang di sekitar gigi seri bawah, dengan area radiolusen yang menandakan kerusakan tulang.
Hasil pemeriksaan jaringan gusi dengan pewarnaan histologi juga menunjukkan adanya sel-sel peradangan kronis, seperti limfosit, sel plasma, dan makrofag, yang menandakan infeksi dan kerusakan jaringan aktif. Tikus-tikus ini kemudian diberi terapi nanopartikel Saussurea costus. Efeknya diukur melalui ekspresi dua penanda peradangan utama: NF-魏B dan TNF-伪. Pada hari kedua setelah terapi, belum ada perbedaan signifikan kadar NF-魏B dan TNF-伪 antara kelompok yang diberi nanopartikel dan kelompok kontrol. Namun, hasil berbeda terlihat pada hari kelima.
Ekspresi NF-魏B menurun secara signifikan pada jaringan tulang alveolar tikus yang diberi nanopartikel Saussurea costus. Begitu juga dengan TNF-伪, yang dikenal sebagai sitokin proinflamasi utama pada periodontitis. Keduanya turun ke tingkat yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa efek antiinflamasi Saussurea costus dalam bentuk nanopartikel bersifat kumulatif: belum terlihat pada awal terapi, tetapi semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Dengan hasil ini, peneliti menyimpulkan bahwa nanopartikel S. costus mampu mengurangi peradangan pada periodontitis, khususnya dengan menekan ekspresi NF-魏B dan TNF-伪 yang berperan penting dalam kerusakan jaringan periodontal. 淓fek yang lebih nyata pada hari kelima menunjukkan bahwa penggunaan jangka menengah hingga panjang bisa memberikan hasil lebih baik dalam meredakan radang gusi kronis, jelas tim peneliti.
Penemuan ini membuka harapan baru untuk pengembangan terapi alami berbasis herbal dengan dukungan teknologi modern. Kombinasi senyawa bioaktif dari tanaman dengan teknologi nanopartikel bisa menjadi alternatif terapi periodontitis yang lebih aman, efektif, dan minim efek samping dibandingkan antibiotik jangka panjang.
Meski hasil riset ini menjanjikan, penelitian masih terbatas pada hewan percobaan. Efektivitas dan keamanannya pada manusia masih harus dibuktikan melalui uji klinis lebih lanjut. Faktor lain seperti dosis optimal, metode pemberian, serta kemungkinan interaksi dengan obat lain juga perlu diteliti. Namun demikian, hasil ini memberikan landasan kuat bahwa bahan alami seperti Saussurea costus dapat dimanfaatkan lebih luas dalam bidang kedokteran gigi, khususnya untuk menangani penyakit periodontal yang prevalensinya tinggi.
Penulis: Ira Arundina
Tulisan lengkap kami dapat diakses di
A.S.A.Moelyanto, I.Arundina, T.I. Budhy, M.D.C.Surboyo, A.S.Oki, C.H. Ming. Evaluation of Saussurea costus Nanoparticles in the Treatment of Periodontitis: Impact on NF-魏B and TNF-伪 Expression. European Journal of Dentistry. 2025.





