Setiap hari, jutaan ton sampah menumpuk di seluruh Indonesia, menimbulkan tantangan lingkungan serius yang memerlukan penanganan segera. Data dari BPS DKI Jakarta (2023) menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta menghasilkan sekitar 7.543,42 ton sampah pada tahun 2022, di mana 3.761,90 ton di antaranya adalah sampah organik. Meskipun sampah organik sering dimanfaatkan melalui proses pengomposan atau konversi menjadi biogas, keterbatasan infrastruktur dan rendahnya partisipasi masyarakat menjadi hambatan signifikan. Sebagian besar limbah organik tetap tidak terolah dan dibuang di tempat pembuangan terbuka. Dalam kondisi anaerob di tempat pembuangan akhir, bahan organik terurai dan melepaskan etana, gas rumah kaca yang lebih kuat dari karbon dioksida, serta menghasilkan COâ‚‚ yang memperparah perubahan iklim.
Secara global, pengelolaan sampah organik yang tidak tepat berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca dan menjadi tantangan berkelanjutan bagi pertanian ramah lingkungan, sehingga diperlukan pendekatan biokonversi yang skalabel. Selain itu, residu organik yang tersisa dapat menghasilkan lindi (leachate) yang mencemari tanah dan sumber air, mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat. Ecoenzym menawarkan manfaat ganda sebagai produk pemanfaatan limbah sekaligus berpotensi menjadi bioinsektisida alami. Namun, efektivitas dan dampak ekologisnya dibandingkan pestisida alami lainnya, seperti minyak atsiri atau formulasi mikroba, masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Inovasi terbaru menunjukkan bahwa produksi ecoenzym merupakan metode berkelanjutan untuk mengelola limbah organik. Ecoenzym diperoleh melalui fermentasi sisa dapur, terutama kulit buah, dengan gula merah dan air selama kurang lebih tiga bulan. Hasil fermentasi berupa larutan cokelat tua ini mengandung campuran kompleks asam organik (misalnya asam asetat dan asam laktat) serta enzim hidrolitik seperti protease, amilase, dan lipase. Senyawa bioaktif tersebut bekerja secara sinergis dalam memecah biomolekul tak larut menjadi zat terlarut dengan berat molekul rendah, sehingga mempermudah aplikasi lanjutan dalam pengolahan limbah. Selain itu, ecoenzym telah terbukti memiliki aktivitas antimikroba, bioremediasi, dan potensi insektisida hayati.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ecoenzym dari limbah kulit bawang efektif sebagai bioinsektisida terhadap Spodoptera litura dengan tingkat kematian 82,5“95% tergantung konsentrasinya. Namun, penelitian tersebut juga mencatat keterbatasan, seperti waktu kerja yang relatif lambat dibandingkan insektisida kimia dan perbedaan efektivitas antar konsentrasi yang tidak signifikan, sehingga optimasi dosis dan pemilihan jenis hama target masih diperlukan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji berbagai konsentrasi ecoenzym terhadap larva Tenebrio molitor guna memperluas potensi penggunaannya untuk pengendalian hama penyimpan biji-bijian serta menilai efektivitasnya dibandingkan kontrol kimia. Produksi berbiaya rendah dan sifat biodegradabelnya menambah nilai guna ecoenzym untuk skala lingkungan yang lebih luas. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk mengoptimalkan parameter fermentasi dan menguji efektivitasnya dalam kondisi lapangan.
Pada penelitian ini, Ecoenzym diproduksi dari sisa dapur dan gula merah melalui fermentasi selama 90 hari dan dikonfirmasi mengandung asam asetat, asam laktat, flavonoid, dan alkaloid (pH 3,0). Desain acak digunakan untuk menguji lima tingkat pengenceran (0%, 25%, 50%, 75%, 100%) dan satu kontrol insektisida kimia (Curacron 500 EC). Setiap perlakuan memiliki tiga ulangan, masing-masing terdiri atas 10 larva Tenebrio molitor (n=180). Larutan disemprotkan dua kali sehari selama tujuh hari, dan mortalitas dicatat sebelum setiap penyemprotan. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro“Wilk dan ANOVA satu arah (α=0,05).
Hasil penelitian menunjukkan Skrining fitokimia membuktikan adanya asam organik dan metabolit bioaktif. Pada hari ke-7, mortalitas kumulatif adalah: kontrol 23,33%, enzim-eko 25% sebesar 46,67%, 50% sebesar 13,33%, 75% sebesar 30,00%, 100% sebesar 33,33%, dan insektisida kimia 86,67%. Kelompok 25% menunjukkan distribusi normal dan mortalitas secara signifikan lebih tinggi dibandingkan beberapa perlakuan enzim-eko lainnya (p<0,05). Konsentrasi menengah ini memungkinkan penelanan dan gangguan pada pH usus, enzim pencernaan, dan jalur saraf, sedangkan konsentrasi tinggi memicu iritasi dan penghindaran yang menurunkan penyerapan racun.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini, Ecoenzym pada konsentrasi 25% memberikan aktivitas larvasida yang optimal, menunjukkan potensinya sebagai alternatif yang terurai secara hayati dan berbiaya rendah. Penerapannya dapat mendukung pengelolaan hama terpadu, mengurangi residu lingkungan, dan mendorong pertanian berkelanjutan. Penelitian lanjutan perlu mencakup validasi lapangan, uji terhadap organisme non-target, serta strategi formulasi untuk meningkatkan stabilitas dan skalabilitas.
Penulis: Dr. Pratiwi Soesilowati, drg., M.Kes.
Detail penelitian bisa diakses di:





