Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang signifikan. Menurut data United Nations Children Fund (UNICEF) pada tahun 2023, sekitar 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami stunting, dengan sekitar 30% dari kasus tersebut terjadi di Asia Tenggara. Stunting merupakan masalah kesehatan serius bagi balita di Indonesia, dengan prevalensi 19,8% dan angka tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 37% pada tahun 2024. Stunting berkontribusi pada tingginya angka penyakit, kematian, dan gangguan perkembangan fisik dan kognitif. Dampaknya jangka panjang seperti memengaruhi hasil ekonomi nasional dengan meningkatkan biaya perawatan kesehatan dan mengurangi produktivitas di masa depan. Balita, sebagai kelompok yang rentan terhadap kekurangan gizi dan mudah terserang penyakit menular, membutuhkan nutrisi yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kegagalan pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan intelektual. Kekurangan nutrisi dalam waktu yang lama baik dalam kuantitas maupun kualitas dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap penyakit menular dan menghambat pertumbuhan. Asupan nutrisi pada balita sangat berkaitan dengan nafsu makan dan pola makan, karena nafsu makan yang rendah seringkali menyebabkan ketidakcukupan asupan energi. Makronutrien dan mikronutrien memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, makronutrien adalah sumber energi utama, yang mendukung pertumbuhan otot dan perkembangan secara keseluruhan. Mikronutrien, meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil, sangat penting untuk produksi hormon, aktivitas enzim, dan pengaturan fungsi sistem reproduksi. Jumlah asupan makronutrien dan mikronutrien merupakan faktor risiko langsung yang memengaruhi stunting. Mikronutrien seperti zat besi, seng, yodium, dan vitamin A memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan satu mikronutrien sering dikaitkan dengan kekurangan mikronutrien lainnya. Zat besi dan vitamin A sangat penting untuk menjaga kadar feritin serum dan mencegah infeksi, sedangkan kekurangan seng sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi, seng, yodium, dan vitamin A termasuk di antara masalah gizi paling umum yang memengaruhi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah di negara berkembang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan asupan energi, protein, dan lemak, tetapi juga karena kekurangan asupan mikronutrien seperti Thiamin (Vitamin B1) dan Pyridoxine (Vitamin B6), Seng, Besi, Fosfor dan vitamin A. Vitamin dan mineral sangat penting untuk metabolisme energi, fungsi saraf, dan sintesis neurotransmiter, sehingga memainkan peran vital dalam pertumbuhan anak. Salah satu peranan penting nutrisi adalah pembentukan hormon. Ketidakseimbangan asupan nutrisi dapat memengaruhi kadar insulin plasma, yang pada gilirannya memengaruhi aktivitas hormon tiroid, Insulin Growth Factor-1 (IGF-1), dan faktor sistemik lainnya yang terlibat dalam regulasi faktor pertumbuhan fibroblas. IGF-1 adalah hormon anabolik yang memainkan peran kunci dalam regulasi dan metabolisme tulang, dan kadarnya dapat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Asupan makronutrien dan mikronutrien yang tidak memadai dapat menyebabkan defisiensi asam amino esensial, yang mengakibatkan kadar IGF-1 serum rendah. Asupan protein tinggi, lemak tinggi, dan karbohidrat tinggi berkorelasi positif dengan kadar IGF-1. Kadar IGF-1 yang rendah dikaitkan dengan stunting pada anak-anak. Kami melakukan peneltian di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, penelitian dengan metode kasus-kontrol melibatkan 80 anak terdiri dari 40 kelompok stunting dan 40 kelompok normal. Asupan gizi diukur dengan formulir food recall 24 jam, dianalisis menggunakan aplikasi Nutrisurvey 2007 dan hasilnya dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Kadar IGF-1, diuji ELISA dari serum. Didapatkan hasil perbedaan yang signifikan asupan makronutrien seperti karbohidrat, protein dan lemak; asupan mironutren seperti vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Magnesium, Zat Besi, Seng dan Fosfor, Vitamin C dan Calsium; serta kadar IGF-1 pada kelompok anak stunting dan anak normal. Anak usia 24-60 bulan memiliki resiko stunting 38,07 kali dan 25,38 kali jika kekurangan asupan Vitamin B1 dan Vitamin B6. Kesimpulan: Dalam upaya penanggulangan dan pencegahan stunting, sangat penting untuk memonitor asupan zat gizi mikro khususnya jumlah Vitamin B1 dab B6.
Disarikan dari artikel dengan judul: Vitamin B1 and B6 Deficiency, Nutrient Intake, and IGF-1 Levels as Risk Factors for Stunting in Children Aged 24-60 Months yang diterbitkan di Amerta Nutrition Vol. 9 Issue 1SP (Desember 2025). 233-238. Link:
Penulis:
Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 59912681400
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran 51动漫





