Proses penyembuhan defek tulang kortikal tidaklah mudah, karena regenerasi tulang akan terjadi secara signifikan dan tubuh manusia tidak mampu untuk meregenerasi dirinya sendiri. Proses regenerasi tulang dapat berlangsung dengan baik apabila sel-sel non-osteogenik tidak mengganggu area defek tulang, sehingga sel-sel osteoprogenitor dapat berfungsi secara optimal. Guided Bone Regeneration (GBR) dapat digunakan untuk mencegah infiltrasi sel-sel non-osteogenik ke arah defek tulang. Ketebalan membran mempengaruhi proses penyembuhan luka. Apabila membran yang terlalu tipis digunakan pada area yang cedera, dapat menimbulkan komplikasi ketika tekanan proliferasi sel terlalu besar dan membran tidak dapat menahan kekuatan tekanan tersebut. Membran dengan ketebalan lebih dari 0,8 mm pada area defek tulang memiliki pengaruh yang cukup baik dalam membantu penyembuhan luka karena ketebalan membran tersebut ideal. Apabila laju osteogenesis tidak terganggu oleh proses fibrogenesis, maka proses penyembuhan tulang dapat dilakukan dengan sempurna. Namun, hal ini akan sulit dilakukan tanpa penggunaan GBR. Kemampuan kekuatan tarik pada GBR diperlukan untuk memisahkan jaringan lunak dan keras dalam proses penyembuhan tulang, sehingga proses osteogenesis tidak terganggu oleh proses fibrinogenesis yang berlangsung relatif cepat. Membran Material Dentin Terdemineralisasi (DDMM) merupakan membran yang berasal dari dentin sapi, yang dibuat sebagai alternatif GBR yang selama ini telah banyak digunakan. DDMM dipilih karena material dari GBR sebelumnya terbuat dari babi. Selain itu, matriks dentin memiliki sifat osteoinduktif dengan membawa Protein Morfogenetik Tulang (BMP) yang dapat membantu pembentukan osteoblas untuk regenerasi tulang.
Keywords: GBR; DDMM; Tensile Strength; Bone Remodeling
Penulis: Dr. Pratiwi Soesilowati, drg., M.Kes.





