Pandemi COVID-19 bukan hanya menguji sistem kesehatan kita, tapi juga secara tak terduga menciptakan tekanan besar pada bank darah. Bayangkan, saat kebutuhan darah tetap tinggi untuk pasien sakit, jumlah donor malah anjlok drastis. Malaysia, misalnya, mengalami penurunan pasokan darah hingga 40%. Ini bukan sekadar angka; ini berarti banyak nyawa terancam karena kekurangan stok darah yang vital.
Pembatasan pergerakan dan perjalanan selama pandemi, yang penting untuk menekan penyebaran virus, secara tidak langsung juga membatasi kemampuan masyarakat untuk mendonorkan darah. Pusat-pusat darah dan rumah sakit menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan kebutuhan darah dengan ketersediaan. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya memiliki rencana proaktif agar sistem kesehatan kita bisa tetap tangguh di tengah ketidakpastian.
Sebuah penelitian menarik dari Malaysia mencoba mengurai benang kusut ini. Tujuannya sederhana, yaitu memahami faktor-faktor psikososial yang memengaruhi perilaku donor darah selama pandemi, dan dari situ, mengusulkan strategi berbasis bukti untuk pasokan darah yang berkelanjutan.
Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu melalui Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Data dikumpulkan dari dua kelompok utama yaitu delapan spesialis transfusi darah yang sehari-hari berurusan dengan darah, dan sepuluh donor darah yang secara langsung menyumbangkan darahnya.
Protokol wawancara FGD dikembangkan dengan persetujuan Komite Etik Penelitian, memastikan semua berjalan sesuai kaidah ilmiah. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak khusus bernama Nvivo, mengikuti pendekatan induktif umum, untuk mencari pola dan tema yang muncul dari percakapan.
Dari analisis mendalam terhadap percakapan FGD, terungkaplah empat tema utama yang menggambarkan psikologi donor darah di Malaysia selama pandemi, yaitu (1) Penurunan Donasi. Banyak orang yang sebelumnya rutin mendonor menjadi enggan atau tidak bisa melakukannya karena kekhawatiran tertular virus, pembatasan mobilitas, atau kurangnya informasi yang jelas; (2) Motivasi Donasi Darah. Meskipun ada penurunan, masih ada individu yang termotivasi untuk mendonor. Motivasi ini bisa beragam, mulai dari altruisme murni (ingin membantu sesama), rasa tanggung jawab sosial, hingga keinginan untuk memberikan kontribusi positif di masa sulit. Memahami motivasi ini sangat penting untuk merancang kampanye yang efektif; (3) Tren Donasi, dimana pandemi juga mengubah pola dan kebiasaan donasi. Mungkin ada pergeseran dari donor rutin ke donor yang lebih sporadis, atau munculnya kelompok donor baru yang tergerak oleh krisis. Mengidentifikasi tren ini membantu bank darah beradaptasi; dan (4) Hambatan yang dihadapi oleh mereka yang jarang mendonor atau belum pernah mendonor sama sekali termasuk takut jarum, kurangnya waktu, atau ketidaknyamanan fasilitas. Memahami faktor psikologi ini dapat menjadi kunci untuk memperluas basis donor.
Berdasarkan tema-tema yang muncul dari diskusi kelompok, penelitian ini mengusulkan empat strategi psiko-kontekstual yang dapat diterapkan oleh otoritas terkait untuk menjaga akumulasi darah yang berkelanjutan selama pandemi atau sesudahnya. Yaitu (1) Mengembangkan Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk Donor Darah yang berisi panduan yang jelas dan meyakinkan bagi calon donor mengenai keamanan proses donasi di tengah pandemi. SOP yang transparan dapat mengurangi kekhawatiran dan membangun kembali kepercayaan; (2) Mengorganisir Kampanye Kesadaran untuk berdonor darah. Dimana perlu menargetkan motivasi yang berbeda, mengatasi ketakutan yang mendasari, dan menjelaskan secara konkret bagaimana donasi darah aman dan sangat dibutuhkan; (3) Menciptakan Basis Data Donor Darah Terintegrasi dan Terpusat. Sistem terpusat akan memungkinkan bank darah untuk melacak donor, mengidentifikasi donor potensial, dan berkomunikasi secara efektif. Ini juga membantu dalam merencanakan jadwal donasi dan mengelola persediaan; dan (4) Menyediakan Fasilitas Donor Darah yang mudah dijangkau, jadwal yang lebih fleksibel, atau bahkan unit donor keliling yang lebih sering. Inovasi dalam fasilitas dapat menghilangkan hambatan logistik bagi calon donor.
Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang kompleksitas perilaku donor darah selama krisis. Dengan menerapkan strategi-strategi berbasis bukti ini, kita dapat memastikan bahwa pasokan darah tetap stabil, bahkan di tengah tantangan terbesar sekalipun, sehingga menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Sumber dan konten terkait
Penulis: Annette d橝rqom, dr., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Yusof, J., d橝rqom, A., Surjaningrum, E., Panatik, S., Noor, S., Jalil, N., Harun, M., & Hakimi, H. (2025). The psychosocial factors of blood donation during the pandemic: Strategies for sustainable blood supply. Journal of Infrastructure, Policy and Development, 9(1), 9677. doi:





