Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbesar kedua di Asia Tenggara sampai dengan 1 Agustus 2021, berdasarkan data resmi yang disampaikan WHO. COVID-19 menjadi salah satu penyakit infeksi menular yang berkembang secara siginifikan dan eksponensial karena dapat menular antar manusia dengan mudah. Droplet bersin atau batuk yang dikeluarkan oleh orang dengan status positif COVID-19 dapat dipastikan membawa corona virus sehingga dapat dengan mudah menginfeksi orang sehat yang terpapar droplet tersebut. Selain itu, droplet tersebut juga dapat bertahan dipermukaan benda mati dan kemudian juga sangat berpotensi menginfeksi orang sehat yang menyentuh permukaan benda tersebut. Penyebaran droplet dipengaruhi oleh viskoelastisitas cairan, ventilasi, laju penguapan, ekspirasi, bersin, atau batuk. Maka dengan keadaan seperti itu maka pencegahan untuk terinfeksi adalah dengan physical distancing.
Penerapan protokol kesehatan menjadi langkah preventif/pencegahan yang paling utama guna menurunkan peningkatan kasus COVID-19. Selain itu, ada kewaspadaan lain yang harus dipersiapkan sebagai langkah antisipasi dalam menurunkan tingkat risiko keparahan apabila terinfeksi yakni dengan menyediakan preventive tool kits berupa ketersediaan masker, handsanitizer, oximeter, vitamin B dan C serta obat analgesik untuk mengurangi gejala terinfeksi. Menurut WHO, masyarakat yang melakukan isolasi mandiri di rumah perlu membekali diri dengan alat pemantau kondisi tubuh. Contohnya adalah oksimeter untuk memantau saturasi oksigen dan obat penghilang rasa sakit atau pereda demam seperti parasetamol. Dalam hipotesis yang kami tegakkan untuk penelitian ini, ada keyakinan bahwa tidak semua individu atau keluarga akan secara sadar mampu untuk menyediakan preventive tool kits tersebut. Kami yakin bahwa terdapat banyak faktor yang akan mempengaruhi keputusan individu dalam memenuhinya.
Pengambilan data penelitian ditargetkan dapat menjaring responden yang secara representative dapat mewakili kondisi wilayah di Indonesia. Kami berhasil menjaring 2.196 responden yang tersebar di 19 propinsi yaitu; 1) Jawa Timur, 2) Jawa Tengah, 3) Jawa Barat, 4) Bali, 5) Daerah Istimewa Yogyakarta, 6) Banten, 7) Jakarta, 8) Kalimantan Timur, 9) Kalimantan Selatan, 10) Kalimantan Tengah, 11) Sulawesi Barat, 12) Sulawesi Selatan, 13) Sulawesi Tengah, 14) Riau, 15) Sumatera Selatan, 16) Nusa Tenggara Barat, 17) Nusa Tenggara Timur, 18) Maluku, dan 19) Kepulauan Bangka Belitung. Responden yang bersedia bergabung akan mengisi formulir online. Pengambilan data dilaksanakan selama 45 hari sejak 1 Oktober “ 15 November 2020. Penelitian ini menggunakan metode campuran metode survei. Data penelitian diambil dengan menggunakan teknik online-offline. Kuesioner online dengan mengisi link pertanyaan dari Google Form disebarkan melalui Aplikasi WhatsApp dan Telegram. Seorang wakil peneliti akan menyebarkan kuesioner secara online di daerah tersebut. Penggunaan media online mengacu pada metode penelitian survei online sebelumnya. Sedangkan pendataan offline dilakukan di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.
Temuan kami menunjukkan bahwa responden dengan kategori usia 37-46 tahun berpeluang 8.039 lebih besar untuk akses pengetahuan COVID-19 dibandingkan dengan kategori usia 57-66 tahun. Orang tua cenderung memiliki pengetahuan yang kurang tentang COVID-19 karena tidak ada akses ke gadget dan internet. Selanjutnya variabel jenis kelamin menunjukkan bahwa perempuan akan memiliki kesiapan alat pencegahan yang baik sebanyak 8.653 kali lebih besar dibandingkan laki-laki karena memiliki manajemen risiko yang lebih baik dan praktik pencegahan yang lebih baik dalam menghadapi pandemi COVID-19. Responden bekerja wiraswasta akan memiliki kesiapan alat pencegahan yang baik sebanyak 2,239 kali lebih besar jika dibandingkan dengan responden yang tidak bekerja. Hal ini dapat disebabkan oleh pendapatan bulanan yang rendah karena seseorang tidak dapat mengubah perilaku dan kondisinya, sehingga tidak dapat melakukan perawatan preventif seperti yang dianjurkan. Analisis variabel pendapatan menunjukkan bahwa responden dengan kategori pendapatan >5 juta akan memiliki kesiapan alat pencegahan yang baik sebanyak 7,267 kali lebih besar dibandingkan responden dengan kategori pendapatan <1 juta. Masyarakat dari keluarga berpenghasilan rendah berpotensi kurang memiliki kesadaran akan praktik kesehatan. Responden dengan kategori pengetahuan baik akan memiliki kesiapan alat pencegahan yang baik sebesar 3,311 kali lebih besar dibandingkan responden dengan pengetahuan kurang. Faktor pengetahuan pada individu mendorong niat untuk melakukan tindakan pencegahan, seperti pengetahuan tentang cara penularan, tingkat penularan, social distancing, dan cuci tangan. Responden dengan kategori persepsi baik akan memiliki kesiapan alat pencegahan yang baik sebanyak 2,015 kali lebih besar dibandingkan responden dengan kategori persepsi kurang. Persepsi risiko pada individu secara positif dapat mempengaruhi pembentukan niat individu untuk mengambil tindakan pencegahan.
COVID-19 merupakan penyakit saluran pernafasan, maka hal ini sebenarnya telah menjadi bekal informasi bagi setiap individu untuk melakukan proteksi dengan baik terhadap diri sendiri dan keluarga. Risiko terinfeksi yang cukup besar harus diimbangi dengan kemampuan untuk mengurangi risiko kefatalan tersebut. Kemampuan bertahan didalam badai pandemic COVID-19 harus dimulai dari individu dan keluarga agar mata rantai penularan virus dapat segera diputus.
PENULIS : ADITYA SUKMA PAWITRA, S.KM., M.KL
JUDUL : Determinants of COVID-19 Prevention Equipment Readiness in Families during Pandemic in Indonesia
LINK ARTIKEL :
Publish : Vol 51_Number 6_Tahun 2022
SAINS MALAYSIANA (SCOPUS Q2)





