Pasien lanjut usia merupakan kelompok konsumen obat terbesar dengan pertumbuhan populasi paling pesat di dunia. Indonesia merupakan negara terpadat keempat di dunia dengan jumlah populasi individu lanjut usia (≥60 tahun) hampir 10% (26,8 juta) dari total populasi. Seiring bertambahnya usia, penggunaan obat-obatan cenderung meningkat dan sering kali dapat memicu terjadinya polifarmasi (rutin mengonsumsi lima atau lebih jenis obat secara bersamaan). Kondisi ini dapat membuat pengobatan semakin kompleks dan meningkatkan risiko kejadian efek samping obat yang tidak diinginkan, seperti interaksi obat-obat (DDIs), terutama pada pasien lanjut usia yang memiliki berbagai penyakit kronis dan resep obat yang beragam.
Penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat melaporkan bahwa tiga perempat dari seluruh pasien polifarmasi yang diteliti mengalami setidaknya satu potensial interaksi obat (pDDI) yang parah. Interaksi obat dan penggunaan obat yang tidak tepat pada pasien lanjut usia secara signifikan membahayakan kesehatan yang dapat menyebabkan kualitas hidup yang buruk, masa rawat inap yang lebih lama, ketergantungan pada layanan rawat jalan, dan meningkatkan biaya perawatan kesehatan. Penelitian terdahulu secara khusus melaporkan sebanyak 73,8% pasien yang dirawat inap selama tujuh hari atau lebih di rumah sakit lebih berisiko mengalami interaksi obat sehingga membuat masa rawat inap lebih lama dan dapat meningkatkan biaya kesehatan.
Penelitian terdahulu menemukan bahwa 38% pasien yang terpapar pDDI secara klinis seringkali mengakibatkan reaksi merugikan yang sebenarnya dapat diprediksi dan dikelola. Hasil tinjauan sistematis melaporkan bahwa prevalensi pDDIs di Indonesia termasuk dalam kategori tinggi yang diperkirakan berkisar antara 0,9% hingga 99%. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelidiki prevalensi dan faktor risiko pDDIs pada pasien lanjut usia dengan penyakit kronis yang dirawat di satu rumah sakit pendidikan di Indonesia sehingga dapat membantu mengurangi pDDI dan mencegah potensi bahaya bagi populasi rentan.
Studi observasional prospektif ini mengamati pasien lanjut usia (usia ≥60 tahun) dengan kondisi kronis yang menjalani rawat inap minimal 24 jam di Rumah Sakit 51¶¯Âþ, Indonesia dari September 2023 hingga Februari 2024. Data demografis dan klinis dikumpulkan melalui wawancara, serta data penggunaan obat atau diagnosis pada saat masuk rumah sakit dikumpulkan berdasarkan rekam medis. Selanjutnya, interaksi obat diidentifikasi menggunakan Micromedex® Drug-Reax (Merative, USA). Sistem ini bekerja dengan mengkategorikan pDDIs berdasarkan tingkat keparahan (ringan, sedang, berat) dan kualitas dokumentasi (cukup, baik, sangat baik). Sedangkan, obat-obatan yang diresepkan diperiksa silang untuk memastikan keakuratannya dan kondisi penyakit dikategorikan berdasarkan International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10). Data dianalisis secara statistik menggunakan perangkat lunak IBM SPSS versi 26. Peneliti menggunakan uji chi-square atau Fisher™s exact untuk melihat perbedaan karakteristik pasien, serta analisis regresi logistik biner untuk mengidentifikasi faktor risiko yang memicu potensi interaksi obat saat pasien keluar dari rumah sakit.
Hasil penelitian terhadap 409 pasien rawat inap dengan rata-rata usia 67,91 tahun dan mayoritas pasien adalah laki-laki (52,3%), ditemukan sebanyak 41,9% dari resep obat yang diberikan berpotensi memicu interaksi obat yang tidak diinginkan (pDDI). Secara lebih rinci, sebanyak 73 resep (17,1%) memiliki setidaknya satu hingga enam jenis interaksi obat per resep. Dari total 369 potensi interaksi obat yang ditemukan, sebanyak 209 di antaranya atau sekitar 56,6% masuk dalam kategori interaksi utama. Hal ini berarti lebih dari separuh interaksi tersebut merupakan kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih buruk.
Analisis statistik (regresi logistik) menunjukkan bahwa risiko interaksi obat ini meningkat drastis pada pasien yang memang sudah rutin minum obat sebelumnya atau mereka yang harus mengonsumsi banyak jenis obat sekaligus (polifarmasi) dengan kemungkinan hingga 16 kali lebih besar mengalami pDDI (rasio odds yang disesuaikan [aOR] = 2,254; rasio odds kasar [cOR] = 1,771), polifarmasi (aOR = 16,309; cOR = 11,709). Selain itu, pasien dengan penyakit sistem peredaran darah memiliki risiko 4 kali lebih besar mengalami peningkatan kemungkinan pDDI (aOR = 4,082; cOR = 4,788), serta pasien dengan penyakit saluran kemih memiliki risiko hingga 2 kali lebih besar mengalami peningkatan kemungkinan pDDI (aOR = 1,819; cOR = 1,855). Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa pasien dengan penyakit sistem pencernaan justru memiliki risiko yang cenderung jauh lebih rendah (aOR = 0,573; cOR = 0,608) dibandingkan kondisi lainnya.
Penelitian ini mengungkap bahwa prevalensi interaksi obat potensial (pDDI) pada lansia dengan penyakit kronis di rumah sakit Indonesia tergolong tinggi, yakni mencapai 41,1%, dengan lebih dari separuhnya (56,6%) masuk dalam kategori interaksi utama yang serius. Risiko ini meningkat drastis hingga 16 kali lipat akibat polifarmasi, terutama pada pasien penyakit sistem peredaran darah. Meskipun penggunaan banyak obat sering kali diperlukan secara klinis, temuan ini menekankan pentingnya pengawasan ketat oleh dokter dan apoteker dalam meresepkan obat serta memanfaatkan perangkat lunak pemeriksa interaksi. Hal ini sangat krusial karena dokter harus mampu membedakan antara penggunaan banyak obat yang tepat dan tidak tepat untuk mengurangi risiko interaksi yang parah. Oleh karena itu, diperlukan pedoman khusus dan pemantauan rutin untuk memastikan terapi yang tepat sekaligus mencegah dampak kesehatan yang merugikan bagi pasien lanjut usia
Penulis: Shah Faisal, Junaidi Khotib, Cahyo Wibisono, Khusnul Fitri Hamidah, Febriansyah Nur Utomo, Elida Zairina.
Artikel Selengkapnya: Faisal, S., Khotib, J., Wibisono, C., Hamidah, K. F., Utomo, F. N., & Zairina, E. (2025). Factors contributing to the prevalence of potential drug-drug interactions among hospitalized elderly patients in a tertiary hospital in Eastern Java, Indonesia. Medical Journal of Indonesia, 34(3), 174-180. .





