Prevalensi tuberkulosis (TB) dan tuberkulosis yang resistan terhadap beberapa obat (TB-MDR) di Indonesia memerlukan pertimbangan khusus. Prevalensi efek samping dan perpanjangan durasi pengobatan untuk Tuberkulosis Resisten Multi Obat menimbulkan tantangan besar terhadap kemanjuran terapi Tuberkulosis Resisten Multi Obat. Kejadian efek samping pengobatan tuberkulosis (TB) perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan faktor utama penyebab kegagalan pengobatan. Efek samping obat diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan pengobatan dalam konteks TBC. Menurut Ratnawati dkk. (2018), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan penggunaan obat suntik lini kedua untuk pengobatan kasus Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB). Ini termasuk kelas aminoglikosida yang terdiri dari kelas polipeptida streptomisin, kanamisin, amikasin, dan kapreomisin. Namun demikian, banyak obat yang berpotensi menimbulkan efek samping yang signifikan, termasuk ototoksisitas, ketidakseimbangan elektrolit seperti hipokalemia, hipomagnesemia, dan hipokalsemia, serta penurunan fungsi ginjal yang dikenal sebagai nefrotoksisitas. Beberapa karakteristik, termasuk usia, jenis kelamin, berat badan, penyakit penyerta, dan dosis obat, dapat mempengaruhi kejadian efek samping obat, yang merupakan kekhawatiran yang signifikan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian kanamisin dan kapreomisin memiliki efek buruk pada fungsi ginjal dan keseimbangan elektrolit. Penelitian yang dilakukan oleh Arto dkk. (2017) melibatkan analisis rekam medis pasien mulai tahun 2012 hingga 2017. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya penurunan rata-rata kadar kalium serum setelah bulan pertama pengobatan Tuberkulosis Resisten Multi Obat (TB-MDR). Secara khusus, pasien yang diberikan kanamisin mengalami penurunan dari 4,0 + 0,4 mEq/L menjadi 3,7 + 0,5 mEq/L, sedangkan mereka yang menerima terapi kapreomisin menunjukkan penurunan dari 4,1 + 0,5 mEq/L menjadi 3,2 + 0,6 mEq/L. Menurut penelitian Ratnawati dkk. (2018), pemberian kanamisin kepada pasien yang didiagnosis dengan tuberkulosis resistan beberapa obat (TB-MDR) mengakibatkan masalah fungsional pada 147 orang, terhitung 61,8% dari populasi sampel. Selain itu, perlu dicatat bahwa nefrotoksisitas diamati pada 9,8% pasien setelah 4,8 bulan pengobatan untuk tuberkulosis yang resistan terhadap beberapa obat. Kanamisin dan kapreomisin umumnya digunakan dalam pengobatan infeksi yang resistan terhadap berbagai obat. Pengobatan penyakit tuberkulosis (TB) di RSUD Dr. Soetomo. Pemantauan rutin terhadap fungsi ginjal dan kadar elektrolit serum diperlukan untuk penggunaan obat-obatan ini secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama. Pemeriksaan terhadap sejumlah faktor risiko potensial yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal selama pengobatan juga akan dibahas secara terpisah. Oleh karena itu, terdapat minat ilmiah di kalangan peneliti untuk menyelidiki potensi faktor risiko yang terkait dengan efek samping kanamisin dan kapreomisin terhadap fungsi ginjal pada pasien dengan resistensi multidrug di RS Dr. Soetomo.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji variabel risiko yang berhubungan dengan terjadinya efek samping akibat penggunaan terapi kanamisin dan kapreomisin yang tidak efektif, sehingga dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal pada pasien Tuberkulosis Multidrug-Resistant. Data diperoleh dengan pendekatan retrospektif berupa penelusuran dan pendokumentasian rekam medis pasien yang terdiagnosis Tuberkulosis Multidrug-Resistant Tuberculosis (TB-MDR) di Poliklinik TB Multidrug-Resistant. Sekitar 183 pasien yang memenuhi kriteria inklusi diidentifikasi di RS Dr Soetomo. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara jenis kelamin dan terjadinya efek samping gangguan ginjal pada kelompok kanamisin (p = 0,035). Studi ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara usia, kondisi penyerta, berat badan, dan dosis obat dengan terjadinya efek samping pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (nefrotoksisitas) yang menjalani pengobatan Tuberkulosis Resisten Multi Obat dengan kanamisin dan kapreomisin. Namun demikian, kejadian efek samping nefrotoksik pada pasien yang lebih tua secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kanamisin (p=0,001). Dampak gender terhadap efek samping kanamisin dan kapreomisin dalam penatalaksanaan Tuberkulosis Resistansi Multi Obat (TB-MDR) pada pasien dengan nefrotoksisitas sudah jelas terlihat. Lebih lanjut, disarankan untuk menerapkan langkah pemantauan dan pengendalian yang lebih ketat terhadap pemberian kanamisin pada populasi lanjut usia, yaitu di atas 40 tahun. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi dampak buruk dari gangguan fungsi ginjal saat mengobati Tuberkulosis Resisten Multi-Obat.
Penulis: Bambang Subakti Zulkarnain
Title: Risk Factor Analysis of Adverse Effects of Kanamycin and Capreomycin on Kidney Function in Multidrug-Resistant TB Patients
Link:





