Penghantaran obat yang efisien dari obat-obat kemoterapi sangat penting untuk mencapai efek antitumor yang baik dan menurunkan efek samping pengobatan. Dalam terapi kanker, telah dilaporkan bahwa liposom mampu meningkatkan akumulasi obat di jarigan tumor sehingga mampu meningkatkan aktivitas antikanker, dan mengurangi efek samping. Sistem penghantaran obat berbasis liposom untuk terapi tumor adalah pendekatan yang menjanjikan untuk mengatasi kurangnya spesifisitas terapeutik pada jaringan tubuh. Namun, obat yang dienkapsulasi dalam liposom secara biologis tidak aktif karena perlu dilepaskan dari liposom. Komponen lipid dari membran bilayer liposom berperan dalam menentukan fluiditas liposom, yang mempengaruhi pelepasan obat dan efektivitas obat. Pelepasan obat yang lambat pada liposom dapat mengakibatkan konsentrasi obat yang rendah dalam jaringan tumor dan pada beberapa penelitian, hal ini menjadi penyebab kegagalan penghantaran obat antikanker pada studi in vivo.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫, bekerjasama dengan pakar dari Hoshi University Jepang, melakukan studi formulasi liposom yang dibuat dengan jenis fosfolipid yang berbeda untuk mengevaluasi efektivitas liposom dengan rigiditas membran bilayer yang berbeda untuk menghantarkan doxorubicin (DOX). Dalam studi tersebut, fosfolipid dengan suhu transisi lipid (Tm) tinggi yakni hydrogenated soya phosphatidylcholine (HSPC), seluruhnya atau sebagian diganti dengan 1-palmitoyl-2-oleoyl-sn-glycero-3-phosphocholine (POPC) atau 1,2-dioleoyl-sn-glycero-3-phosphoethanolamine (DOPE). DOX kemudian dienkapsulasi ke dalam liposom yang tersusun atas fosfatidilkolin (HSPC, POPC), yang mana keduanya dengan dan tanpa kombinasi dengan DOPE. Liposom dibuat pada rasio molar dari total fosfolipid: kolesterol dan DSPE-mPEG2000 masing-masing sebesar 57:38:5 dan diproduksi menggunakan metode hidrasi lapisan tipis.
Uji sitotoksisitas in vitro dan aktivitas antitumor in vivo dari liposom ini kemudian dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas formulasi liposom. Uji sitotoksisitas in vitro dilakukan menggunakan sel kanker paru-paru (LLC) tikus dan sel Karsinoma Usus Besar (C26). Untuk evaluasi in vivo, sampel disuntikkan secara intravena ke pembuluh darah ekor tikus dengan dosis 5 mg DOX per kg berat badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengganti HSPC sebagai komponen membran liposom dengan POPC menghasilkan profil sitotoksisitas yang mirip dengan larutan DOX pada kanker usus besar C26 dan sel LLC. Penambahan DOPE ke dalam formulasi liposom DOX mengurangi aktivitas antitumor. Berdasarkan studi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa enkapsulasi DOX dalam formulasi liposom yang mengandung fosfolipid Tm rendah yaitu POPC dan DOPE sebagai fosfolipid fusogenik tidak memiliki manfaat dalam meningkatkan aktivitas antitumor DOX in vivo. Pemilihan formulasi liposom yang tepat menjadi kunci yang penting dalam keberhasilan penghantaran obat.
Penulis: Andang Miatmoko, Ph.D., Apt.
Link:





