Fournier Gangrene (FG) adalah penyakit sporadis yang menyebar dengan cepat dan melibatkan kematian jaringan yang berpotensi fatal. Penyakit ini paling sering mempengaruhi alat kelamin dan juga daerah selangkangan. Pada kebanyakan kasus FG disertai dengan adanya infeksi dan hal ini sangat berpotensi untuk memicu kematian. Mayoritas bakteri yang ditemukan dalam kasus ini yaitu Coliform, Klebsiella, Streptococci, Staphylococci, Clostridia, bakteroid, dan Corynebacteria. Kejadian FG sendiri lebih sering terjadi pada pria yaitu sepuluh kali lipat dibandingkan pada wanita.
Penegakan diagnosis FG dapat dibantu oleh kombinasi pemeriksaan darah dan pencitraan, walaupun penegakan diagnosis utamanya adalah secara klinis. Klinisi akan waspada untuk setiap proses keradangan atau infeksi yang melibatkan daerah selangkangan atau alat kelamin, terutama pada pria diabetes berusia tua dan pasien risiko tinggi lainnya. Terapi pada kasus ini yaitu dengan intervensi bedah dan resusitasi medis, karena pasien sering mengalami septik dan syok.
Karena progresivitas penyakit yang cepat, tingkat kematian tetap tinggi meskipun dilakukan intervensi bedah dini, kemajuan dalam perawatan kritis, dan adanya pengobatan baru. Angka kematian di negara berkembang yaitu antara 17% hingga 28%. Beberapa faktor yang telah diidentifikasi sebagai faktor risiko kematian pada pasien dengan FG termasuk usia yang lebih tua, gagal jantung kongestif, gagal ginjal, dan koagulopati. Selain itu, indikator laboratorium seperti kadar hematokrit, natrium, dan kalium dalam darah juga secara signifikan terkait dengan kematian.
Penulis percaya bahwa perlu untuk mengevaluasi tingkat kematian dan menggali faktor-faktor risiko yang terkait dengan kematian di rumah sakit pada pasien FG utamanya pada pria, sehingga dilakukan sebuah studi observasional selama 10 tahun dari pusat rujukan tersier tunggal di Indonesia yaitu RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini mengidentifikasi faktor risiko mortalitas di rumah sakit pada 145 pasien laki-laki yang didiagnosis dengan FG.
Penulis bersama dengan tim menggunakan data yang dikumpulkan melalui rekam medis untuk menganalisis faktor risiko kematian di rumah sakit. Dari penelitian ini diperkirakan bahwa angka kematian di rumah sakit pada pasien FG dalam populasi penelitian ini adalah sekitar 26,2%. Di Indonesia, sebelumnya telah diidentifikasi bahwa angka kematian FG berkisar antara 17 hingga 28%. Oleh karena itu, temuan dalam penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya. Lebih lanjut, teridentifikasi bahwa diabetes mellitus (DM) dan infeksi Clostridium perfringens adalah faktor risiko independen untuk kematian di rumah sakit pada pasien FG laki-laki. Ditemukan juga bahwa pasien FG yang tidak selamat memiliki lama rawat inap yang lebih pendek dan sel darah putih yang lebih rendah daripada yang selamat.
Pasien dengan DM lebih banyak ditemukan pada kelompok yang mengalami kematian dibandingkan dengan kelompok yang selamat, hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan DM dengan hasil yang buruk pada pasien FG. DM yang tidak terkontrol membahayakan sistem imunologi, dan meningkatkan risiko kematian pasien FG. Dari faktor usia, walaupun usia yang lebih tua adalah prediktor kematian yang sudah lebih dulu dikenal pada FG, penelitian ini tidak menunjukkan hubungan tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit tersier lainnya di Indonesia juga tidak menemukan adanya perbedaan usia yang bermakna antara pasien yang selamat dan tidak selamat. Sehingga mungkin usia tidak meningkatkan risiko kematian pasien FG. Dalam studi berbasis populasi, usia memprediksi kematian ketika dipasangkan dengan insufisiensi ginjal atau penundaan tindakan bedah. Selain itu juga ditemukan bahwa prevalensi kultur yang didominasi Clostridium perfringens secara signifikan lebih tinggi pada pasien FG yang mengalami kematian. Clostridium perfringens dapat menyebabkan gas gangrene oleh karena kemampuannya memproduksi eksotoksin neurotoksik dan histotoksin, hal ini menyebabkan infeksi jaringan lunak nekrosis dan sering menyebabkan kematian.
Indikator klinis yang paling dapat diandalkan untuk memprediksi prognosis buruk pada orang dengan FG terus diperdebatkan dan bervariasi di seluruh studi. Meskipun sistem skor FG severity index (FGSI) sering digunakan untuk memprediksi kematian pada pasien FG, namun memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Dalam beberapa penelitian selama dua dekade terakhir, validitas skor ini hasilnya tidak konsisten. Pada penelitian ini, tidak ada perbedaan yang bermakna antara skor FGSI pada kelompok pasien yang selamat dan yang tidak selamat. Tidak pula ditemukan hubungan dengan komponen penyusun dari sistem skoring tersebut kecuali jumlah sel darah putih. Dengan demikian, temuan kami mendukung anggapan bahwa FGSI bukanlah prediktor kematian yang baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa penelitian ini adalah penelitian epidemiologi pertama tentang faktor risiko kematian terkait FG di Indonesia yang menggunakan jumlah sampel yang besar dan durasi studi yang panjang. Temuan dari penelitian ini mendukung dan memajukan temuan yang didapatkan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Ditemukan bahwa tingkat kematian yang cukup besar untuk FG pada pasien laki-laki. DM sebagai komorbiditas dan adanya Clostridium perfringens dalam kultur terbukti menjadi faktor risiko independen untuk mortalitas di antara pasien laki-laki. Diharapkan kedepannya dilakukan studi prospektif multisenter untuk menguatkan temuan ini.
Penulis: Abdul Khairul Rizki Purba, dr.,M.Sc.,Sp.FK
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat di:
Azmi YA, Alkaff FF, Purba AKR, Renaldo J, Yogiswara N, Postma MJ. Factors for In-Hospital Mortality in 145 Male Patients with Fournier’s Gangrene: A 10-Year Observational Study from a Single Tertiary Referral Center in Indonesia. Med Sci Monit. 2022 Dec 23;28:e938578. DOI: 10.12659/MSM.938578. PMID: 36560855; PMCID: PMC9793639.





