Sebuah studi terbaru menyatakan bahwa pasien diabetes melitus sering mengalami berbagai masalah berkaitan dengan komplikasi mikrovaskular, di antaranya retinopati, neuropati, dan nefropati. Pengobatan jangka panjang diabetes melitus dapat meningkatkan risiko terjadinya fraktur femur atipikal. Namun, praktik manajemen perioperatif pasien fraktur lemur dengan diabetes melitus cukup menantang, terutama berkaitan dengan mengurangi risiko infeksi pasca operasi.
Case report pasien diabetes melitus tipe 2 dengan fraktur
Pasien merupakan wanita lanjut usia berusia 60 tahun yang mengeluhkan luka di pangkal kedua ibu jari kaki selama 3 bulan, paresthesia, dan demam. Pasien juga mengalami patah tulang dekat femoralis kiri setelah jatuh dari tempat tidur dan merasakan nyeri pada kaki kiri. Riwayat penyakit yang dimiliki pasien di antaranya adalah diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi yang telah berlangsung selama 15 tahun.
Pemeriksaan fisik menunjukkan hipertensi (150/80 mmHg), denyut nadi 102×/menit, demam (38 ◦C), obesitas kelas III (BMI = 42,6 kg/m2, tinggi badan = 147 cm, berat badan = 92 kg), luka di kedua digiti I pedis (kanan = 2 × 2 cm, kiri = 3 × 3 cm), indeks pergelangan kaki-brakialis (ABI) 1,03 (kanan) dan 1,07 (kiri), dan ekstremitas bawah sensorik sarung tangan shock paresthesia. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan HBA1c 8,2%, HBsAg reaktif, dan X-ray femoralis kiri menunjukkan subtrochanteric fracture sinitra. Pasien menunda operasi selama >30 hari pasca fraktur dikarenakan adanya peningkatan kadar glukosa darah dan hiponatremia. Pasca penundaan, pasien berhasil diverifikasi dengan hasil sangat baik (glukosa darah dan tekanan darah sesuai dengan yang diharapkan).
Penanganan operasi fraktur untuk pasien diabetes melitus
Pada pasien diabetes melitus yang menjalani operasi, kadar glukosa yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko ketoadsidosis diabetik (DKA), hiperosmolar nonketonik (HONK), infeksi, hipoglikemia, kejang, koma, hingga kematian. Nefropati diabetik dapat menyebabkan gangguan elektrolit, kondisi AKI, serta peningkatan sensitivitas insulin. Semua kondisi tersebut dapat mempengaruhi peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pasien diabetes melitus yang menjalani operasi.
Target kadar glukosa darah pra-operasi dan pasca-operasi pada pasien diabetes melitus adalah 140“180 mg/dL. Penundaan operasi harus dipertimbangkan apabila pasien memiliki kadar glukosa pada darah sebanyak 300“500 mg/dL, serta mengalami dehidrasi berat, DKA, maupun HONK. Selain itu, direkomendasikan pula untuk melakukan evaluasi kadar HbA1C pra operasi untuk menentukan apakah operasi bisa dilanjutkan atau harus ditunda. Kadar HbA1C yang >8,5% diasosiasikan dengan komplikasi jangka panjang yang lebih tinggi dan durasi pengobatan yang lebih lama, dikarenakan peningkatan nilai HbA1C merupakan tanda kontrol gula darah yang buruk.
Untuk pasien diabetes melitus yang menjalani operasi besar atau operasi dengan durasi lebih lama dari 4 jam, ADA dan NHS merekomendasikan agar operasi dijalankan pada pagi hari. Ini mempengaruhi durasi puasa dan penggunaan infus insulin. Selama puasa, infus glukosa yang adekuat bertujuan untuk mencegah hipoglikemia dan memenuhi kebutuhan energi serta katabolisme berat. Dalam kondisi stres yang ekstrim, dibutuhkan lebih banyak glukosa. Jika cairan tambahan diperlukan, cairan yang tidak mengandung dekstrosa dapat diberikan. Penggunaan obat diabetes secara oral dianjurkan dilakukan pada hari sebelum prosedur. Pasien harus puasa dimulai pada malam hari sebelum hari pelaksanaan prosedur.
Penulis: Soebagjo Adi Soelistijo, dr, Sp.PD-KEMD.FINASIM.
Link Jurnal:





