51动漫

51动漫 Official Website

Faktor Risiko Koinfeksi Sifilis dan HIV/AIDS

Infeksi sifilis dan HIV merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Kedua penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual, sehingga seringkali seseorang menderita kedua penyakit ini sekaligus. Sifilis terbukti dapat meningkatkan transmisi seksual infeksi HIV, sedangkan infeksi HIV dapat menyebabkan perubahan manifestasi klinis sifilis, progresivitas yang lebih cepat, penegakkan diagnosis yang lebih sulit, peningkatan risiko komplikasi neurologis, dan peningkatan risiko kegagalan terapi dengan rejimen standar.

Penularan sifilis berhubungan dengan perilaku seksual. Perilaku seksual adalah bentuk perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Perilaku seksual yang berisiko disebabkan karena adanya aktivitas seks yang memiliki risiko terpapar dengan darah, cairan sperma, dan cairan vagina yang tercemar bakteri penyebab sifilis. Jumlah pasangan seksual yang banyak merupakan salah satu perilaku seksual berisiko. Hal ini terjadi karena jumlah pasangan seksual yang banyak sebanding dengan banyaknya jumlah hubungan seksual yang dilakukan.

Kurangnya pengetahuan individu tentang penggunaan kondom juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Kondom tidak memberikan perlindungan 100%, namun bila digunakan dengan tepat dapat mengurangi risiko infeksi. Adanya kontak dengan lesi terbuka di permukaan kulit atau mukosa pada penderita bisa dengan mudah menularkan bakteri penyebab sifilis. Penularan dapat juga terjadi dari ibu kepada janin dalam kandungan atau saat kelahiran, melalui produk darah atau transfer jaringan yang telah tercemar, kadang-kadang dapat ditularkan melalui alat kesehatan. dan masalah sosial memaksa perempuan, kadang juga laki-laki, berprofesi sebagai penjaja seks. Mereka menukarkan seks dengan uang atau barang agar dapat bertahan hidup.

Penelitian ini melibatkan 25 yang dirawat di Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Januari-Desember 2019.  Data pada penelitian ini diperoleh dari rekam medis dan biodata pasien. Data yang diperoleh adalah data primer, kemudian data dianalisa univariat dan bivariat dengan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) 23.0 for windows dan dianalisa dengan teknik perhitungan statistik Chi Square.

Usia 17-25 merupakan usia yang memiliki resiko koinfeksi sifilis dan HIV paling tinggi dengan jumlahpasien sebesar 15 orang (60%), resiko koinfeksi kedua berada pada rentang usia 25-35 tahun dengan jumlah penderita sebesar 8 orang (32%). Dilanjutkan dengan rentang usia 36-45 tahun dan 46- 55 tahun yang maing masing sebanyak 1 orang (4%). Berdasarkan hasil analisa Bivariat, diperoleh skor Sig. sebesar 0.221 > (0.05) yang artinya usia tidak memiliki resiko terhadap kinfeksi sifilis dan HIV.

Gender laki laki lebih memiliki resiko koinfeksi sifilis dan HIV dengan jumlah pasien sebesar 24 orang (96%) sedangkan pasien dengan gender perempuan hanya 1 orang (4%). Berdasarkan hasil analisa Bivariat, diperoleh skor Sig. sebesar 0.242 > (0.05) yang artinya jenis tidak memiliki resiko terhadap kinfeksi sifilis dan HIV.

Penderita HIV dengan status belum menikah lebih banyak yakni sebesar 13 orang (52%). Sedangkan penderita HIV dengan status sudah menikah sebanyak 12 orang (48%). Berdasarkan hasil analisa Bivariat, diperoleh skor Sig. sebesar 0.48 < (0.05) yang artinya status pernikahan berpengaruh terhadap resiko koinfeksi Sifilis dan HIV.

Penderita HIV dengan orientasi homoseksual memiliki skor paling tinggi yakni sebesar 12 orang (48%), diikuti dengan biseksual sebanyak 7 orang (28%) dan penderita dengan orientasi heteroseksual sebanyak 6 orang (24%). Berdasarkan hasil analisa Bivariat, diperoleh skor Sig. sebesar 0.48 < (0.05) yang artinya orientasi seksual berpengaruh terhadap resiko koinfeksi Sifilis dan HIV.

Penderita HIV dengan model penularan seksual mempunyai resiko penularan paling tinggi dengan penderia sebanyak 21 orang (84%), dilanjutkan dengan penularan non seksual (penasun) sebanyak 2 penderita (8%), dilanjutkan dengan penularan dari tindakan medis dan Vertikal dari ibu ke janin yang masing masing 1 penderita (4%). Berdasarkan hasil analisa Bivariat, diperoleh skor Sig. sebesar 0.44 < (0.05) yang artinya model penularan berpengaruh terhadap resiko koinfeksi Sifilis dan HIV. Bagi penderita HIV AIDS diharapkan untuk aktif dalam mengikuti program-program yang dilperlukan penderita seperti program pendampingan terapi ARV (antiretroviral) maupun konseling yang akan memperpanjang kualitas hidup diberbagai aspek kehidupan baik aspek fisik, psikologis maupun sosial.

Penulis : Dr.Afif Nurul Hidayati,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada artikel kami di :

Risk Factors of Syphilis and HIV/AIDS Coinfection

Andre Yuindartanto, Afif Nurul Hidayati, Diah Mira Indramaya, M. Yulianto Listiawan, Evy Ervianti, Damayanti

AKSES CEPAT