51动漫

51动漫 Official Website

Faktor Risiko Stunting Anak Usia di Bawah 2 Tahun pada Single Mother

Faktor Risiko Stunting Anak Usia di Bawah 2 Tahun pada 淪ingle Mother di Indonesia
Sumber: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/mcn.12231

Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis pada balita dan merupakan salah satu indikator status gizi selain wasting dan overweight. Dalam jangka panjang, stunting berdampak pada kualitas sumber daya manusia, antara lain penurunan perkembangan kognitif sekitar 7% dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting dan penurunan pendapatan di dunia kerja. Seseorang yang mengalami stunting saat kecil akan kesulitan bersaing di dunia kerja, sehingga berdampak pada penurunan pendapatan atau penghasilan yang diperoleh.

Berbagai faktor menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak usia dini, sebagaimana tertuang dalam Conceptual Framework on Determinants of Maternal and Child Nutrition yang disusun oleh UNICEF. Salah satu faktor tersebut adalah sumber daya, yang melibatkan sumber daya manusia atau anggota keluarga yang diperlukan untuk memastikan gizi anak, termasuk struktur keluarga yang lengkap. Penelitian yang dilakukan di Bosnia mengungkapkan bahwa stunting lebih tinggi terjadi pada balita yang tidak tinggal bersama kedua orang tua dan mereka yang hanya tinggal bersama ibu tunggal dan kakek-nenek tanpa ayah. Ikatan orang tua-anak dan stabilitas ekonomi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan anak. Stabilitas keluarga memengaruhi kesehatan anggota keluarga secara keseluruhan, khususnya anak-anak. Anak-anak dengan keluarga yang memiliki pola asuh yang buruk, kondisi sosial ekonomi yang rendah, dan ketersediaan pangan yang terbatas berpotensi menyebabkan masalah stunting; Hal ini diperparah oleh anak-anak yang diasuh hanya oleh ibu saja tanpa dukungan ayah atau keluarga lainnya. Penelitian yang dilakukan di tiga negara (Kamerun, Republik Kongo, dan Nigeria) menemukan bahwa anak-anak dari keluarga yang hanya diasuh oleh ibu tunggal berisiko mengalami stunting. Perhatian yang diberikan pada pengasuhan oleh ibu tunggal juga memengaruhi kejadian stunting. Keterbatasan sumber daya ekonomi pada keluarga dengan ibu tunggal berpeluang memicu kejadian stunting; bahkan risiko kematian anak lebih tinggi di ketiga negara tersebut untuk anak-anak dengan pengasuhan ibu tunggal dibandingkan dengan keluarga lengkap. Hal inilah yang menjadikan penelitian mengenai faktor risiko stunting pada keluarga dengan ibu tunggal (single mother) di Indonesia menarik untuk dilakukan.

Hasil penelitian mengkonfirmasi bahwa anak-anak di daerah pedesaan lebih mungkin mengalami stunting daripada mereka yang berada di daerah perkotaan. Kesenjangan pembangunan antara daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia telah berlangsung lama. Hal ini ternyata berdampak pada hambatan akses masyarakat ke pelayanan kesehatan di pedesaan. Berdasarkan kelompok usia ibu, ternyata semakin muda usia ibu, peluang anak menjadi stunting lebih tinggi.  Salah satu rasionalisasinya adalah  ibu yang lebih tua memiliki pengalaman lebih banyak terkait perawatan kehamilan dan tumbuh kembang anak.

Terkait tingkat pendidikan ibu, banyak penelitian menginformasikan bahwa perempuan berpendidikan lebih peduli terhadap kebersihan pribadi dan perawatan kesehatan preventif dan kuratif daripada perempuan buta huruf atau kurang berpendidikan. Pendidikan dapat membantu perempuan membuat keputusan yang lebih mandiri dan memiliki lebih banyak akses ke sumber daya rumah tangga.Tetapi penelitian ini ternyata menemukan situasi yang bertentangan.

Status pekerjaan orang tua juga merupakan faktor risiko substansial untuk stunting. Orang tua tidak bekerja cenderung memiliki anak yang kekurangan gizi karena anak yang orang tuanya menganggur menghadapi ketidakstabilan pangan karena keterbatasan keuangan.

Penelitian ini juga mendapatkan bahwa anak-anak dari ibu yang tidak mengikuti kelas prenatal lebih mungkin mengalami stunting dibandingkan mereka yang mengikuti kelas prenatal. Ibu-ibu yang mengikuti kelas prenatal, sering kali diberi petunjuk tentang nutrisi terbaik dan praktik perawatan kesehatan umum yang tidak mereka ketahui. Berdasarkan inisiasi menyusui dini, anak-anak tanpa inisiasi menyusui dini lebih mungkin mengalami stunting daripada mereka yang mengalami inisiasi menyusui dini. Inisiasi menyusu dini bermanfaat untuk menjaga kelangsungan pemberian ASI dan memenuhi kebutuhan gizi.

Kebijakan penanggulangan stunting di Indonesia diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Angka Stunting. Percepatan penurunan angka stunting merupakan upaya holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi pemangku kepentingan. Implikasi dari kebijakan penanggulangan stunting bagi ibu tunggal adalah pengasuhan anak hanya dilakukan oleh satu orang. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan beberapa kekurangan dalam pola asuh orang tua tunggal. Kekurangan tersebut meliputi interaksi yang tidak harmonis antara orang tua tunggal dengan anak, waktu yang dihabiskan, status sosial ekonomi keluarga, keterampilan mengasuh anak, dan pola asuh yang berdampak pada kesejahteraan emosional anak (Ghani et al. 2023; Rohmah dan Laksono 2023). Oleh karena itu, kebijakan penanggulangan stunting pada orang tua tunggal perlu dilakukan secara terintegrasi dengan upaya peningkatan kapasitas pengasuhan anak bagi ibu tunggal.

Penulis: Ratna Dwi Wulandari

Link:

Baca juga: Profil Anemia dan Penanda Inflamasi pada Anak Stunting di Bawah Dua Tahun di Indonesia

AKSES CEPAT