Secara global, penyakit kardiovaskular menempati nomor satu untuk angka kematian akibat penyakit tidak menular. Dengan sebanyak 17.9 juta orang di dunia meninggal dikarenakan penyakit kardiovaskular, diestimasikan sebesar 31% penyebab kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh penyakit tersebut.
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Tipe 2 dari diabetes melitus merupakan faktor risiko utama yang mempengaruhi penyakit arteri koroner, dimana 75% pasien diabetes melitus tipe 2 meninggal dikarenakan aterosklerosis vaskular. Pengobatan terbaik untuk pencegahan aterosklerosis vaskular primer maupun sekunder adalah statin, dimana statin juga terbukti dapat mengurangi risiko dari penyakit kardiovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Dalam riset ini, kami meneliti profil dari faktor-faktor risiko aterosklerosis vaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Faktor risiko aterosklerosis pada pasien diabetes melitus tipe 2
Studi ini melibatkan pasien yang didiagnosa dengan diabetes melitus tipe 2, dengan kriteria eksklusi bagi yang mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular dan atau menerima terapi zat-zat tertentu yang menjadi kriteria ekslusi (seperti asam nikotin). Dengan sampling purposif mulai Juli 2020 hingga Juni 2021, studi melibatkan 124 pasien menggunakan pedoman STROCSS 2021.
Penghitungan skor risiko aterosklerosis vaskular skor Framingham (FRS), melibatkan faktor risiko berupa usia, jenis kelamin, HDL, total kolesterol, tekanan darah (sistolik), diabetes melitus, dan kebiasaan merokok.
Usia merupakan faktor risiko dikarenakan bertambahnya usia seseorang akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Pertambahan usia akan meningkatkan risiko plak ateroma untuk menempel pada dinding pembuluh darah, berakibat pada terganggunya aliran darah ke jaringan.
Penyakit aterosklerosis vaskular lebih umum terjadi pada pria dibandingkan wanita, dimana penelitian terdahulu menyatakan bahwa pasien aterosklerosis vaskular mayoritas pria. Di Indonesia, sebuah penelitian menyebutkan bahwa aterosklerosis vaskular ditemukan pada laki-laki (61%) dengan rasio prevalensi 2:1 antara pria dan wanita.
Kadar rendah dari HDL diasosiasikan dengan bertambahnya risiko dari penyakit kardiovaskular. Beberapa studi menyatakan bahwa orang dengan level HDL <35 mg/dL sangat memungkinkan untuk mengalami aterosklerosis vaskular. Selain itu, tingginya total kolesterol dapat menyebabkan pengendapan, penyempitan, serta plak pada pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis vaskular. Beberapa studi menyatakan bahwa pasien dengan hipertensi memiliki risiko 10 kali lebih besar untuk mengalami aterosklerosis vaskular, menjadikan hipertensi sebagai salah satu faktor risiko utama.
Kebiasaan merokok meningkatkan risiko aterosklerosis vaskular dikarenakan cedera endotel langsung yang dapat terjadi disebabkan oleh bahan yang terkandung pada rokok, seperti karbon monoksida dan nikotin. Sementara itu, diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang berhubungan dengan kadar glukosa dalam darah. Saat hiperglikemia terjadi, darah akan mengalami kekentalan sehingga suplai darah ke jaringan akan terhambat dan berisiko tinggi untuk kejadian aterosklerosis vaskular.
Penulis: Soebagjo Adi Soelistijo, dr, Sp.PD-KEMD.FINASIM.
Link Jurnal:





