51动漫

51动漫 Official Website

Pemberian Kombinasi Pentoxifillyne dan Vitamin C Sebagai Terapi Kerusakan Paru akibat Ischemic Reperfusion Injury (IRI) pada Iskemia Tungkai Akut

Foto by PJ Nasional Harapan Kita

Iskemia Tungkai Akut

Iskemia tungkai akut adalah kondisi dimana aliran darah menuju tungkai atau alat gerak berkurang secara tiba-tiba atau bahkan terhenti total. Berhentinya aliran darah dapat disebabkan oleh terbentuknya emboli (udara, lemak, bekuan darah) maupun plak yang lepas dan kemudian menyumbat pembuluh darah yang dilewatinya. Pada 90% kasus, sumbatan terjadi pada pembuluh darah tungkai bawah, khususnya bagian paha dan bawah lutut. Kondisi ini dapat mengancam viabilitas tungkai dan organ-organ lain apabila tidak diberikan tatalaksana segera. Penelitian menunjukkan angka kejadian iskemia tungkai akut sebanyak 1,5 kasus per 10.000 orang setiap tahunnya. Populasi yang berisiko tinggi mengalami iskemia tungkai akut antara lain; perokok, penderita diabetes mellitus berusia lebih dari 50 tahun, dan penderita gagal ginjal, dengan risiko laki-laki 2x lipat lebih tinggi daripada wanita.  

Ischemic Reperfusion Injury (IRI)

Setelah aliran darah ke tungkai yang sempat berkurang atau terhenti selama beberapa menit hingga jam kembali dialirkan (reperfusi), dapat muncul reaksi kerusakan pada jaringan tersebut. Reaksi ini disebut ischemic reperfusion injury (IRI). Reperfusi dapat memicu disfungsi vaskular dan lepasnya mediator-mediator inflamasi ke dalam aliran darah. Komplikasi yang terjadi dapat bersifat lokal (pada jaringan tersebut saja) berupa kerusakan dan kematian otot atau sindroma kompartemen. Secara sistemik, IRI dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ di antaranya; paru, jantung, ginjal, sistem pencernaan, dan sistem saraf pusat. Reaksi inilah yang ditakutkan oleh para ahli bedah yang akan melakukan usaha reperfusi untuk mengembalikan aliran darah ke jaringan yang sudah mengalami iskemia (kekurangan oksigen).

Kerusakan paru akibat IRI

Paru adalah organ yang paling sering terkena dampak dari IRI dan dapat dengan cepat menyebabkan gagal nafas. Jaringan paru rentan karena adanya aktivasi neutrofil oleh reactive oxygen species (ROS) dan metabolit yang terbentuk pada reaksi ini. Mekanisme terjadinya kerusakan jaringan paru karena IRI sangat kompleks. Proses ini dihubungkan dengan peran sel polimorfonuklear (PMN) dan infiltrasi leukosit yang merusak barrier pembuluh darah kapiler paru, menyebabkan edema pada sel epitel paru dan apoptosis. Pelepasan mediator infiltrasi dan aktivasi PMN ini terakumulasi dalam sirkulasi paru dan menyebabkan edema dan kerusakan paru hingga acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Salah satu mekanisme utama yang mendasari IRI adalah terbentuknya reactive oxygen species (ROS), yaitu sebuah bentuk radikal bebas yang memengaruhi kerja sel. Oleh karena itu, prinsip utama dari terapi IRI adalah mengurangi stress oksidatif.

Strategi utama dalam mencegah kejadian IRI adalah mempersingkat waktu iskemia yang dialami. Semakin pendek waktu iskemia, semakin kecil pula risiko terjadinya IRI. Reperfusi merupakan tatalaksana utama pada kasus iskemia tungkai akut, namun tindakan pembedahan perlu disertai dengan farmakoterapi yang memadai untuk mencegah dan mengurangi tingkat keparahan IRI yang dapat terjadi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan golongan analog Aspirin-Triggered Lipoxin (ATL), anti-komplemen, dan anti-sitokin, antagonis reseptor endothelin, Leukotriene-B4 antagonis, allopurinol, dan antioksidan seperti Vitamin C dan Vitamin E dapat membantu mengurangi efek sistemik IRI.

Pentoxifylline adalah senyawa kimia turunan methylxanthine yang memiliki sifat hemorheologis. Pemberian pentoxifylline dapat mengurangi efek dari IRI karena iskemia otot melalui berbagai mekanisme di tingkat molekular maupun selular, salah satunya dengan mencegah interaksi neutrofil dengan endotel dan mencegah degranulasi leukosit. Hal ini akan mengurangi kerusakan endotel dan sel-sel epitel pada parenkim paru sehingga edema paru dan gangguan pertukaran gas dalam paru dapat dihindari.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asam askorbat atau vitamin C adalah antioksidan yang memiliki sifat sitoprotektif sehingga apat melindungi sel dari pengaruh radikal bebas ROS. Selain itu, vitamin C juga melindungi endotel pembuluh darah dari perlekatan dengan neutrofil. Melalui mekanisme-mekanisme tersebut, maka pentoxifylline dan vitamin C dapat digunakan sebagai regimen terapi pada pasien iskemia tungkai akut yang akan menjalani reperfusi. Kombinasi terapi ini diharapkan dapat mengurangi sampai dengan mencegah dampak dan kejadian IRI.

Penulis: Yan Efrata Sembiring, dr., Sp.B(K)TKV.

Link Jurnal:

AKSES CEPAT