Faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup Pasien Fraktur adalah dukungan keluarga, durasi fraktur, keparahan fraktur. Dukungan keluarga merupakan bentuk dukungan yang diberikan oleh keluarga yang tinggal serumah dengan pasien yang meliputi dukungan emosional, penghargaan dan informasi. fungsi keluarga adalah sebagai hubungan sosial yang meliputi lima hal yaitu adaptation, partnership, growth, affection and togetherness. Lamanya fraktur juga memberikan dampak ekonomi bagi pasien dan keluarga yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien patah tulang. Lamanya penyembuhan patah tulang tergantung dari berat ringannya patah tulang yang diderita pasien. Tingkat keparahan patah tulang dapat menambah rasa sakit yang dialami pasien. Hal ini dapat menyebabkan kualitas hidup pasien menurun. Kejadian fraktur pada umumnya dapat terjadi pada semua individu. Namun ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan fraktur sebagai berikut :
Fraktur lebih sering terjadi pada laki “ laki dari pada perempuan dengan umur di bawah 45 tahun hal ini dikaitkan dengan kegiatan yang lebih banyak dilakukan oleh laki “ laki seperti olah raga, pekerjaan, dan kecelakaan menggunakan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur dari pada laki “ laki yang berkaitan dengan meningkatnya insidens osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon saat terjadinya menopause pada perempuan.
Aktivitas yang berat dengan gerakan yang cepat dapat menjadi risiko penyebab cedera pada otot dan tulang. Tekanan saat berolah raga seperti hentakan, loncatan atau benturan dapat menyebabkan cedera dan jika hentakan atau benturan yang timbul cukup besar maka dapat memungkinkan terjadinya fraktur. Misalnya pada pemain sepak bola yang sering mengalami benturan kaki antar pemain. Kelemahan struktur tulang juga sering terjadi pada atlet ski, jogging, pelari, pendaki gunung ataupun olahraga lain yang dilakukan dengan kecepatan yang berisiko terjadinya benturan yang dapat menyebabkan patah tulang.
Massa tulang yang rendah cenderung mengalami fraktur dari pada tulang dengan massa yang padat. Dengan sedikit benturan dapat langsung menyebabkan patah tulang karena massa tulang yeng rendah tidak mampu menahan daya dari benturan tersebut. Massa tulang berhubungan dengan gizi tubuh seseorang. Dalam hal ini peran kalsium penting bagi penguatan jaringan tulang. Massa tulang yang maksimal dapat dicapai apabila
konsumsi gizi dan vitamin D tercukupi pada masa kanak “ kanak dan remaja. Pada masa dewasa kemampuan mempertahankan massa tulang menjadi berkurang seiring menurunnya fungsi organ tubuh. Pengurangan massa tulang terlihat jelas pada wanita yang menopause. Hal ini terjadi karena pengaruh hormon yang berkurang sehingga tidak mampu dengan baik mengontrol proses penguatan tulang misalnya hormon estrogen.
Menurut data riskesdas 2018 menyatakan bahwa jalan raya menyumbang sebesar 31,8% sebagai tempat terjadinya cedera hal ini dapat berupa kondisi jalan raya yang tidak rata atau berlubang, aktivitas pengendara yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi dan tidak mematuhi rambu lalu lintas dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan yang berakibat terjadinya fraktur. Pada kondisi lain rumah dan lingkungan menyumbang sebesar 44,8% sebagai tempat terjadinya cedera hal ini dapat berupa kondisi lantai yang licin hingga menyebabkan terjadinya jatuh dan berakibat pada terjadinya fraktur serta kecelakaan rumah tangga lainnya.
Penulis: Dr. Santi Martini, dr., M.Kes
Source : Factors affecting quality of life of fracture patients with productive age at dr. Haryoto Regional General Hospital, Lumajang District, East Java





