51动漫

51动漫 Official Website

Gangguan Penglihatan dan Defisiensi Penglihatan Warna pada Anak dengan Diabetes Melitus

Ilustrasi anak (Sumber: Alodokter)
Ilustrasi anak (Sumber: Alodokter)

Diabetes melitus tipe 1 (DMT1) adalah penyakit kronis yang kerap menyerang anak-anak dan remaja, ditandai dengan hilangnya kemampuan tubuh memproduksi insulin secara alami. Lebih dari sekadar gangguan metabolik, DMT1 membawa dampak luas yang bisa mempengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang. Meski terapi insulin menjadi penopang utama kehidupan, tantangan sebenarnya terletak pada mengendalikan kadar gula darah harian dan mencegah komplikasi yang mengintai secara diam-diam. Salah satu dampak yang sering terabaikan adalah gangguan penglihatan, masalah yang dapat muncul lebih awal dari yang diduga dan berpotensi menghambat proses belajar, bermain, hingga interaksi sosial anak.

Penyakit DMT1 pada anak tidak hanya menimbulkan gangguan metabolik, tetapi juga menyimpan risiko komplikasi mata yang sering kali luput dari perhatian. Padahal, penurunan ketajaman penglihatan (visual acuity/VA) dan gangguan buta warna (color vision deficiency/CVD) bisa menjadi tanda awal adanya kerusakan mikrovaskular sebelum retinopati diabetik (DR) berkembang. Dalam penelitian ini, sebanyak 40% anak dengan DMT1 mengalami gangguan ketajaman penglihatan, dan sebanyak 12,5% anak mengalami gangguan buta warna, bahkan sebagian besar kejadian tersebut muncul sebelum lima tahun durasi sakit DMT1.

Kadar HbA1c yang tinggi, sebagai penanda kontrol gula darah jangka panjang, berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan ketajaman penglihatan dan buta warna. Hiperglikemia kronis memicu stres oksidatif dan inflamasi yang merusak jaringan retina, menyebabkan perubahan struktural dan fungsional mata. Studi ini menemukan bahwa anak-anak dengan HbA1c di atas 9% lebih sering mengalami gangguan ketajaman penglihatan, bahkan sebelum tanda-tanda retinopati terlihat secara klinis.

Menariknya, beberapa kasus gangguan penglihatan ditemukan pada anak yang baru menderita DMT1 kurang dari lima tahun, mengindikasikan bahwa komplikasi dapat muncul lebih awal dari yang diperkirakan. Oleh karena itu, skrining mata secara rutin, termasuk pemeriksaan ketajaman penglihatan dan penglihatan warna, sangat penting untuk deteksi dini dan intervensi tepat waktu. Dengan pengelolaan gula darah yang baik dan pemantauan mata secara berkala, risiko kebutaan akibat retinopati dapat dikurangi.

Gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak, baik secara akademik, sosial, hingga emosional. Anak-anak dengan gangguan buta warna kemungkinan besar akan memerlukan bantuan khusus dalam belajar atau berinteraksi di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua dan tenaga kesehatan mengenai pentingnya kontrol metabolik dan pemeriksaan mata rutin menjadi kunci menjaga kualitas hidup anak dengan DMT1. Penelitian ini menjadi langkah awal penting dalam memperkuat bukti pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan pada populasi anak dengan diabetes di Indonesia.

Penulis: Syarif Syamsi Ahyandi, dr.
Link:  

AKSES CEPAT