Diabetes mellitus (DM) adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan produksi insulin yang tidak memadai dan hiperglikemia, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti sirkulasi yang buruk, oksigenasi jaringan yang buruk, rentan terhadap infeksi, gangguan fungsi sel darah putih, dan kerusakan saraf. Pasien dengan diabetes dapat mengalami penyembuhan luka yang lambat akibat penurunan aktivitas neutrofil dan makrofag. Luka mulut adalah lesi yang umum terjadi pada pasien diabetes, dengan prevalensi 24,6% pada luka traumatis dan aphthous. Pengelolaan ulkus dengan gel asam hialuronat (HMW-HA) 0,2% terbukti efektif dalam mengurangi intensitas nyeri dan meningkatkan hidrasi jaringan, keseimbangan osmotik, serta integritas matriks ekstraseluler. Namun, HMW-HA tidak dapat menembus lapisan dermis yang lebih dalam, sehingga efek topikal lebih efektif.
Astaxanthin, karotenoid xantofil dengan sifat antioksidan yang kuat, dapat mengurangi peradangan, stres oksidatif, dan apoptosis. Efek antiinflamasinya menargetkan biomarker dan jalur sinyal, terutama dengan menghambat NF-魏B untuk meredakan peradangan. Kombinasi gel HMW-HA dan astaxanthin dapat mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan kemampuan perbaikan luka. Studi ini bertujuan untuk menyelidiki efek antiinflamasi gel HMW-HA dan astaxanthin pada luka mulut pada tikus dengan diabetes mellitus.
Metode
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek berbagai perlakuan gel pada luka mulut pada tikus diabetes menggunakan desain laboratorium eksperimental. 40 tikus jantan strain Wistar Rattus norvegicus secara acak dibagi ke dalam empat kelompok: kelompok perlakuan gel dasar (kontrol), kelompok perlakuan gel asam hialuronat 0,2%, kelompok perlakuan gel astaxanthin 1%, dan kelompok HAXT, yaitu kombinasi gel asam hialuronat 0,2% dan gel astaxanthin 1%. Semua kelompok diobati selama 3 atau 7 hari. Persiapan gel melibatkan pencampuran gel astaxanthin dan asam hialuronat topikal dengan dasar gel yang mengandung Hydroxy Propyl Methil Cellulose (HPMC) 2% hydroxypropyl methylcellulose. Hewan-hewan tersebut kemudian dibiarkan beradaptasi selama 7 hari, dan kadar glukosa mereka diukur. Streptozotocin (STZ) diberikan secara intraperitoneal untuk menginduksi hiperglikemia dan mencegah hipoglikemia akut. Tikus dibius, dan luka dibuat di area tengah mukosa bibir bawah. Studi ini mengevaluasi kelayakan pengobatan berbasis gel dan ekspresi inflammasom NF-魏B, IL1尾, dan IL-10.
Hasil Dan diskusi
Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan efek antiinflamasi dari kombinasi gel HMW-HA dan astaxanthin sebagai terapi untuk luka mulut pada penderita diabetes. Fokus utama adalah mengevaluasi ekspresi NF-魏B, IL-1尾, dan IL-10 pada makrofag. Makrofag berperan penting dalam peradangan dan penyembuhan, tetapi kehadiran mereka yang tidak teratur dapat menghambat penyembuhan. Penelitian menemukan bahwa penghambatan jalur sinyal IL-1尾 mengurangi makrofag pro-inflamasi M1 dan meningkatkan makrofag anti-inflamasi M2 serta faktor pertumbuhan.
Hasil studi menunjukkan perbedaan signifikan dalam ekspresi NF-魏B, IL-1尾, dan IL-10 pada hari ke-3 dan ke-7. Kombinasi terapi gel HMW-HA dan astaxanthin efektif mengurangi tingkat NF-魏B, yang merupakan regulator penting dalam respons inflamasi. Penurunan ekspresi NF-魏B berpotensi membantu penyembuhan luka. Selain itu, IL-1尾 juga menunjukkan penurunan bersamaan dengan NF-魏B.
Astaxanthin merangsang Nrf2, yang mengatur pertahanan tubuh dan meredakan respons inflamasi. Efek antiinflamasi teramati melalui penurunan penanda inflamasi dan peningkatan sitokin anti-inflamasi seperti IL-10. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan dan studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami efek terapi kombinasi ini.
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi asam hialuronat HMW 0,2% dan gel astaxanthin 1% memiliki efek antiinflamasi. Hal ini dibuktikan dengan penurunan ekspresi NF-魏B dan IL-1尾 serta peningkatan kadar IL-10. Pada hari ke-3 dan ke-7, efek ini terobservasi lebih jelas dibandingkan kelompok kontrol. Kombinasi ini menunjukkan potensi dalam mempercepat penyembuhan luka, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanismenya, termasuk uji praklinis dan pada subjek manusia.
Sumber Referensi :
Andriani, D., Roestamadji, R. I. ., Rahayu, R. P. ., Luthfi, M., Narmada, I. B. ., Notobroto, H. B. ., Siswandono, S., & Rohmaniar, P. D. . (2025). Hyaluronic Acid-Astaxanthin Gel: Anti-Inflammatory Effects in Oral Ulcer Diabetes Mellitus Rats . Trends in Sciences, 22(7), 9955. https://doi.org/10.48048/tis.2025.9955





