51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Hampir Separuh Pasien Disfagia Mengalami Penetrasi Laringeal, Sepertiga Mengalami Aspirasi

Literasi Kesehatan, Stres Diabetes, dan Kepatuhan Diet pada Pasien Diabetes Mellitus
Sumber: ASTRO

Disfagia merupakan gangguan menelan yang mengenai area orofaringeal maupun esofageal masih menjadi masalah kesehatan global dengan konsekuensi serius, mulai dari malnutrisi hingga pneumonia aspirasi dan kematian. Dua kondisi kunci yang memperburuk risiko adalah penetrasi laringeal (masuknya bolus ke vestibulum laring tanpa melewati pita suara) dan aspirasi (bolus melewati pita suara menuju trakea/paru). Keduanya mengganggu proteksi jalan napas, meningkatkan beban klinis, dan menurunkan kualitas hidup pasien”terutama lansia, penyintas stroke, serta pasien dengan penyakit neurologis. Namun, sebelum ini, pemetaan angka prevalensi global penetrasi dan aspirasi pada populasi disfagia masih terbatas. Studi terbaru yang melibatkan kolaborator dari berbagai negara”termasuk Hidayat Arifin”menutup celah bukti tersebut melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis komprehensif.

Studi ini menganalisis 46 penelitian dengan total 5.535 pasien dari 19 negara, mengompilasi bukti lintas benua tentang penetrasi laringeal dan aspirasi pada pasien disfagia. Pencarian literatur dilakukan menyeluruh di Embase, Scopus, Web of Science, PubMed, CINAHL, dan ProQuest, tanpa batasan wilayah, bahasa, atau tahun terbit. Protokol dipandu oleh PRISMA dan MOOSE, serta terdaftar di PROSPERO (CRD42024549328). Pengukuran utama menggunakan pemeriksaan instrumental FEES (Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing) dan VFS/VFSS (Videofluoroscopic Study), dengan pendefinisian berdasarkan Penetration“Aspiration Scale (PAS-8) (skor 2“5 untuk penetrasi; 6“8 untuk aspirasi). Analisis statistik memanfaatkan generalised linear mixed model (GLMM) dan model efek acak; heterogenitas dievaluasi lewat Q, τ², dan I²; bias publikasi dinilai dengan uji Egger; dan analisis moderator dilakukan untuk menelusuri sumber heterogenitas. Kualitas studi ditelaah dengan alat Joanna Briggs Institute (JBI) untuk studi prevalensi. 

Hasil utama menunjukkan bahwa prevalensi gabungan penetrasi laringeal pada pasien disfagia adalah 48,5% (95% CI 40,8%“56,1%), sedangkan prevalensi aspirasi adalah 30,0% (95% CI 24,5%“35,5%). Dengan kata lain, sekitar 1 dari 2 pasien mengalami penetrasi laringeal dan 1 dari 3 pasien mengalami aspirasi. Pada subtipe disfagia, angka lebih tinggi tampak pada disfagia orofaringeal (penetrasi 49,3%; aspirasi 29,4%) dibanding disfagia esofageal (penetrasi 31,5%; aspirasi 12,6%). Secara regional, penetrasi tertinggi ditemukan di Amerika Utara (54,4%) dan Eropa (53,6%), sedangkan aspirasi tertinggi di Eropa (35,3%). Temuan ini menegaskan tingginya beban gangguan proteksi jalan napas pada populasi disfagia dan perbedaan pola antar-subtipe dan wilayah. 

Lebih jauh, analisis moderator mengungkap sejumlah faktor yang secara signifikan memoderasi prevalensi, antara lain lokasi perawatan (rumah sakit), jenis kelamin laki-laki, subtipe orofaringeal, etiologi disfagia (iatrogenik, neurogenik, struktural, fungsional), keterlambatan refleks faringeal, disfungsi valekula dan sinus piriformis, gangguan penutupan laring, residu oral, pola makan per oral, aspirasi laringotrakeal, aspirasi senyap, dan kebiasaan merokok. Pemetaan faktor-faktor ini penting untuk stratifikasi risiko, perencanaan skrining, dan penentuan fokus intervensi klinis. 

Studi ini memberikan kontribusi penting bagi bidang rehabilitasi menelan dan praktik klinis multidisipliner dengan menyajikan bukti epidemiologis global terkait penetrasi laringeal dan aspirasi pada pasien disfagia. Tingginya angka kejadian menunjukkan bahwa masalah ini bukan kondisi langka, melainkan tantangan klinis yang memerlukan perhatian sistematis dari tenaga kesehatan. Temuan ini menggarisbawahi urgensi skrining proaktif pada populasi berisiko tinggi, seperti pasien disfagia orofaringeal, laki-laki, pasien rawat inap, perokok, serta individu dengan kelainan fisiologis spesifik seperti gangguan penutupan laring dan aspirasi senyap. Deteksi dini melalui pemeriksaan FEES atau VFSS, diikuti intervensi yang ditargetkan, sangat penting untuk menurunkan risiko komplikasi berat, termasuk pneumonia aspirasi dan hospitalisasi berulang. Pendekatan interprofesional yang melibatkan dokter, perawat, terapis wicara, dan ahli gizi diperlukan untuk memastikan tata laksana yang komprehensif dan personalisasi perawatan sesuai faktor risiko pasien. Selain itu, standarisasi asesmen berbasis Penetration“Aspiration Scale (PAS-8) dan perluasan kapasitas layanan skrining disfagia di berbagai fasilitas kesehatan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keselamatan pasien. Dengan dasar bukti yang kuat, penelitian ini dapat menjadi landasan pengembangan kebijakan dan pedoman klinis dalam pencegahan dan penatalaksanaan aspirasi pada pasien disfagia.

Penulis

Hidayat Arifin

Fakultas Keperawatan, 51¶¯Âþ, Surabaya, Indonesia

(hidayat.arifin@fkp.unair.ac.id) Link:

AKSES CEPAT