Prevalensi gangguan mental, yang memengaruhi diperkirakan 970 juta orang di seluruh dunia, telah menjadi masalah kesehatan masyarakat global, dengan situasi yang tidak jauh berbeda di Indonesia. Pada tahun 2018, Indonesia mencatat sekitar 400.000 kasus gangguan mental yang terdiagnosis, mengalami lonjakan tajam dari hanya 1.700 kasus terdokumentasi pada tahun 2013. Provinsi Jawa Timur, dengan tingkat masalah kesehatan mental tertinggi di seluruh Indonesia, adalah salah satu yang paling terkena dampak. Kondisi ini masih diperparah oleh stigma dan praktik pemasungan yang masih marak, yang mengakibatkan banyak penderita gangguan mental mengalami keterbatasan dalam akses dan perawatan yang sesuai.
Pemerintah telah berupaya memenuhi hak penderita gangguan mental melalui UU No.19 Tahun 2011, tetapi keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam mengimplementasikan kebijakan ini. Menghadapi tantangan ini, integrasi layanan kesehatan mental dari puskesmas dan pemerintah desa dengan melatih kader desa telah muncul sebagai solusi praktis. Kader desa, dengan peran unik mereka sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat, memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gangguan mental dan melakukan deteksi dini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana motivasi pelayanan publik, seperti Public Service Motivation (PSM), memengaruhi perilaku kader desa dalam merawat penderita gangguan mental di Indonesia.
Penelitian kualitatif ini mengadopsi pendekatan studi kasus instrumental untuk mengeksplorasi interaksi kompleks dalam konteks satuan sosial. Dalam kerangka studi kasus instrumental ini, penelitian memiliki tujuan utama, yaitu menginvestigasi bagaimana PSM memengaruhi peran kader desa dalam merawat individu yang mengalami gangguan mental. Kader desa memiliki posisi unik dalam sektor publik, berperan sebagai perantara antara masyarakat dan pemerintah desa. Meskipun mereka menerima pelatihan khusus dan dipekerjakan oleh pemerintah untuk melayani masyarakat, mereka juga merupakan anggota integral dari komunitas yang mereka layani. Namun, sayangnya, meskipun peran mereka sangat penting dan menuntut standar tinggi, seringkali mereka kurang mendapatkan pengakuan yang sepatutnya dan kompensasi yang memadai.
Penilaian terhadap layanan kesehatan mental yang diberikan oleh kader desa memerlukan pendekatan kualitatif yang mampu menangkap aspek subjektif dan nuansa yang terkandung dalam jenis layanan ini. Oleh karena itu, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan partisipan yang memiliki pengalaman bekerja di pos pelayanan kesehatan mental, dengan tujuan memahami persepsi, sikap, dan perilaku mereka terkait dengan pemberian layanan dengan hati seorang pelayan. Dalam rangka pengumpulan data, teknik purposive sampling dan snowballing technique digunakan untuk merekrut 14 partisipan dari 5 kabupaten di Jawa Timur yang aktif memberikan perawatan bagi individu dengan gangguan mental di komunitas mereka. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan triangulasi bukti untuk mengidentifikasi tema-tema utama dan pola-pola yang muncul dalam penelitian ini.
Hasil penelitian ini mengungkapkan peran penting PSM dalam memotivasi kader desa untuk melayani masyarakat dan memberikan dukungan kepada individu yang mengalami gangguan mental. Para partisipan menunjukkan tingkat tanggung jawab yang tinggi terhadap masyarakat, dedikasi yang kuat terhadap program kesehatan mental di desa, dan rasa empati yang mendalam terhadap pasien. Meskipun mereka sering menghadapi tantangan seperti perilaku kekerasan dari pasien, kader desa cenderung mengambil pendekatan non-kekerasan dan memberikan perawatan dengan penuh kasih sayang. Mereka merasa bahagia melihat perbaikan kondisi pasien yang berkat perawatan di pos kesehatan mental desa, dan mereka berupaya memberdayakan pasien untuk mencapai tingkat kemandirian yang lebih baik.
Motivasi kader desa didorong oleh panggilan moral dan kepedulian kemanusiaan untuk membantu individu yang mengalami gangguan mental. Beberapa dari mereka bahkan berjuang keras untuk meyakinkan warga sekitar agar mendukung keberadaan pos kesehatan mental desa, meskipun stigma masyarakat terhadap penyakit mental masih tinggi. Kader desa yang telah memberikan kontribusi bertahun-tahun dengan kompensasi yang terbatas menunjukkan tingkat dedikasi dan kebahagiaan yang luar biasa dalam membantu sesama yang kurang beruntung. Temuan ini menegaskan adanya korelasi yang kokoh dan substansial antara PSM dan panggilan batin untuk melayani dengan tujuan mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan individu lain dalam masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa PSM bukan hanya sekadar pekerjaan atau tugas rutin, tetapi juga mencerminkan komitmen yang mendalam terhadap peran sebagai penyedia perawatan dan dukungan bagi mereka yang membutuhkannya dalam konteks gangguan mental.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan empiris tentang kompleksitas pengaruh PSM terhadap perilaku kader desa dalam merawat individu dengan gangguan mental di Indonesia, yang membuka pemahaman yang berharga mengenai motivasi kelompok penyedia layanan publik ini. Temuan ini mengkonfirmasi konsep bahwa PSM memiliki kaitan yang erat dengan panggilan, baik itu didasari oleh alasan keagamaan, kemanusiaan, atau faktor lainnya. Hasil studi juga mendukung argumen bahwa PSM dan panggilan merupakan konsep yang saling melengkapi dalam memahami pengalaman kerja para pegawai publik.
Penelitian ini merupakan kontribusi penting dalam literatur administrasi publik, terutama terkait motivasi aktor pelayanan publik non-tradisional di negara-negara berkembang. Hasilnya dapat digunakan untuk meningkatkan kebijakan dan program kesehatan mental berbasis masyarakat di Indonesia dan negara sejenis, dengan mempertimbangkan peran penting PSM. Pada akhirnya, penelitian ini menyoroti efektivitas PSM dalam mobilisasi sumber daya manusia dan peningkatan kualitas layanan kesehatan mental di daerah-daerah yang kurang terlayani. Pemahaman ini penting bagi para pembuat kebijakan dalam merancang dan melaksanakan kebijakan publik yang lebih adil dan efektif di tingkat akar rumput.
Penulis: Dr. Erna Setijaningrum, S.IP., M.Si.
Jurnal: SERVANT HEARTS: VILLAGE CADRES’ PUBLIC SERVICE MOTIVATION IN INDONESIA’S MENTAL HEALTH CARE





