UNAIRNEWS – Surabaya yang kita kenal sebagai kota metropolitan kedua dengan gedung-gedung menjulang dan denyut ekonomi yang padat, ternyata menyimpan kisah perlawanan yang tak bersuara keras. Contohnya ancaman penggusuran akibat konflik pertanahan, masyarakat Tambak Bayan memilih mural, panggung budaya, dan kerajinan tangan sebagai tameng.
Kegiatan bertajuk CULIT (Culture and Urban Literature for Inclusive Transformation) yang diinisiasi UNAIR ini bukan sekadar pameran seni. Tidak ada bentrokan fisik, hanya perlawanan yang diukir di tembok dan dihidupkan dalam irama tradisi.
Aktivitas ini terlaksana selama tiga hari, 1012 Agustus 2025. Berlokasi di Jl Tambak Bayan Tengah, Bubutan, Kota Surabaya menjadi panggung terbuka bagi warga lokal dan mahasiswa asing.
Seni Jadi Bahasa Perlawanan
Ketua UNAIR menegaskan, kegiatan ini adalah bentuk 渕embersamai warga. 淜ami mengangkat isu ini bukan untuk memperpanjang konflik, tetapi untuk menunjukkan bahwa budaya bisa menjadi alat perlawanan yang elegan, ujarnya.
Tak hanya warga lokal, sepuluh mahasiswa asing dari berbagai negara turut hadir, membaur, dan belajar langsung bagaimana sebuah komunitas mengartikulasikan haknya melalui seni. Visual arts, live performance, cultural craft, heritage & tradition, digital arts, hingga seminar nasional menjadi menu utama. Semua telah mereka rancang agar masyarakat memahami konteks sosial-politik di balik karya.

Menyulam Harapan Lewat Kesenian
Dari panggung terbuka hingga sudut gang, warna-warna mural menceritakan sejarah, keresahan, sekaligus harapan. Bagi warga, ini adalah cara mempertahankan identitas, sedangkanbagi mahasiswa asing, ini adalah pelajaran hidup bahwa konflik bisa mereka hadapi dengan kreativitas, bukan kekerasan.
HIMA MKSB melalui CULIT mengukuhkan misi kajian lokalitas dan pelestarian budaya. 淜ami menunjukkan bahwa seni bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipakai sebagai bahasa, sebagai senjata, dan sebagai jembatan antara masyarakat lokal dengan dunia luar, paparnya.
Lebih dari Sekadar Festival
Di balik semarak tiga hari itu, ada pesan yang lebih dalam. Bahwa kota sebesar Surabaya tak lepas dari dinamika akar rumput dan suara masyarakat bisa tetap lantang tanpa harus memecah ketenangan. CULIT bukan akhir, melainkan titik awal untuk terus mengangkat kisah Tambak Bayan ke panggung yang lebih luas agar dunia tahu bahwa disini, perlawanan dilukis, dipentaskan, dan diwariskan.
Penulis:
Editor: Ragil Kukuh Imanto





