Target utama dari HIV adalah subset dari limfosit yang berasal dari timus, yaitu sel T helper, menyebabkan defisiensi imunitas seluler, yang ditandai dengan berkurangnya kadar limfosit T helper (sel CD4+). Status kekebalan anak-anak dan orang dewasa dengan HIV dapat dinilai dengan mengukur absolut (per mm3) atau proporsi sel CD4+, dan ini dianggap sebagai cara standar menilai dan mengkarakterisasi keparahan imunodefisiensi terkait HIV. Manifestasi mukokutan ditemukan pada 80-95% pasien yang terinfeksi HIV. Perubahan status imun pasien dan rendahnya jumlah CD4 dikaitkan dengan peningkatan frekuensi manifestasi mukokutan. Itu karena sel CD4 juga ada di jaringan kulit yaitu sel langerhans. Sel langerhans (LC) adalah sel penyaji antigen. LC terletak di dalam epitel kulit dan mukosa.
Pengetahuan dan kesadaran akan berbagai Manifestasi mukokutan pada pasien HIV/AIDS penting bagi dokter karena sangat membantu dalam mendiagnosis dan memantau status kekebalan pasien yang secara objektif dijelaskan oleh kadar CD4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pola dan frekuensi manifestasi mukokutan dan hubungannya dengan kadar CD4 pada pasien HIV/AIDS. Studi analitik ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara CD4 dan manifestasi mukokutan pada pasien HIV-AIDS di UPIPI RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2019 dengan data sekunder dari rekam medis.
Hasil dari penelitian ini memberikan data tentang jumlah kasus, jenis kelamin, usia, kadar CD4 dan jenis manifestasi mukokutan pada pasien HIV-AIDS yang bisa dijadikan dasar dan referensi dalam penelitian lebih lanjut terkait kadar CD4 pada pasien HIV AIDS yang memiliki manifestasi mukokutan. Selain itu, mengetahui hubungan antara kadar CD4 dan manifestasi mukokutan pada pasien HIV dapat menjadi panduan klinis dalam menentukan diagnosis dan prognosis HIV stadium lanjut sehingga terapi memadai dapat diberikan dan dapat membantu untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas pada HIV pasien.
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross-sectional retrospektif. Data dari penelitian ini diperoleh dari sejumlah 614 pasien HIV-AIDS dengan manifestasi mukokutan, namun hanya 149 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, termasuk data tingkat CD4. Mayoritas pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki (74,5%), yang meliputi pasien di bawah kelompok usia 25-49 tahun (70,5%). Faktor risiko yang paling umum adalah heteroseksualitas (48,3%). Sebagian besar kadar CD4 berada pada kelompok CD4 <200 (64,4%). Berdasarkan distribusi manifestasi mukokutan, berbagai kasus dilaporkan sebagai infeksi (55,8%). Pioderma dan sifilis berhubungan bermakna dengan jumlah CD4 200 dengan risiko 3,7 dan 7,8 kali dibandingkan Sel CD4 < 200 sel/mm3. Sebaliknya kandidiasis lebih tinggi pada jumlah CD4 < 200 dengan perbedaan dan risiko 0,3 kali dibandingkan jumlah CD4 200 sel/mm3.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah beberapa manifestasi mukokutan dapat dianggap sebagai prediktor imunosupresi lanjut (tingkat CD4 rendah), yaitu pioderma, sifilis, dan kandidiasis dalam penelitian ini.
Penulis: Dr.Afif Nurul Hidayati,dr.,Sp.KK(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Relationship between CD4 levels and mucocutaneous manifestations in HIVAIDS patients at Dr. Soetomo General Academic Teaching Hospital, Surabaya, Indonesia
Citra Dwi Harningtyas, Damayanti, Maylita Sari, Muhammad Yulianto Listiawan, Diah Mira Indramaya, Linda Astari, Budi Utomo, Dwi Murtiastutik, Setyana Widyantari, Astindari, Afif Nurul Hidayati





