Benzena merupakan senyawa hidrokarbon aromatik bersifat karsinogenik yang banyak digunakan sebagai pelarut organik dalam berbagai sektor industri. Salah satu kelompok pekerja dengan risiko tinggi terpapar benzena adalah pekerja bengkel pengecatan mobil, karena proses pengecatan menggunakan pelarut berbasis benzena yang mudah menguap dan terutama masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi uap. Paparan benzena secara terus-menerus berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari keluhan akut seperti sakit kepala dan mual hingga efek kronis berupa gangguan sistem saraf, pernapasan, hematologi, dan imunologi.
Berbagai lembaga internasional dan nasional telah menetapkan ambang batas paparan benzena yang sangat rendah karena sifat karsinogeniknya, namun risiko kesehatan tetap dapat terjadi meskipun pada paparan jangka panjang dengan kadar rendah. Paparan benzena di dalam tubuh dapat memicu stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehida (MDA), yang dikenal sebagai indikator pembentukan radikal bebas dan risiko kanker. Selain itu, benzena dan turunannya juga dilaporkan berkontribusi terhadap kerusakan hati dan ginjal, termasuk supresi sumsum tulang yang berhubungan dengan leukemia. Oleh karena itu, kelompok pekerja pengecatan mobil memerlukan perhatian khusus dalam aspek keselamatan dan kesehatan kerja.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsentrasi dan risk quotient (RQ) benzena dengan kadar malondialdehida (MDA), blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin pada pekerja bengkel pengecatan mobil di Surabaya sebagai indikator stres oksidatif dan fungsi ginjal akibat paparan benzena.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden (77,8%) terpapar benzena dengan konsentrasi melebihi nilai ambang batas (>0,5 ppm), dan mayoritas pekerja (92,6%) memiliki risk quotient (RQ) ≥1, yang mengindikasikan adanya risiko kesehatan akibat paparan benzena. Namun demikian, analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsentrasi benzena maupun RQ benzena dengan kadar malondialdehida (MDA) pada pekerja (p>0,05). Selain itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsentrasi benzena dengan kadar blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin, serta antara RQ benzena dengan kadar BUN dan kreatinin pada pekerja (p>0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun paparan benzena dan tingkat risikonya cukup tinggi, perubahan biomarker stres oksidatif dan fungsi ginjal pada pekerja belum menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik.





