51动漫

51动漫 Official Website

Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Higiene terhadap Kasus Penyakit Skabies

Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Higiene terhadap Kasus Penyakit Skabies
Sumber: Kompas Health

Infestasi kulit oleh tungau Sarcoptes scabiei hominis merupakan penyebab skabies pada manusia. Tungau yang berukuran mikroskopis tersebut menggali ke dalam lapisan atas kulit untuk hidup dan bertelur. Penderita skabies umumnya memiliki gejala timbulnya rasa gatal hebat pada malam hari serta ruam kulit yang berbentuk seperti jerawat (popular). Ruam yang disertai rasa gatal dapat muncul pada sebagian besar tubuh atau terbatas pada sisi tertentu seperti pergelangan tangan, siku, ketiak, sela-sela jari, puting susu, penis, pinggang, dan pantat. Selain popular, ruam juga dapat berupa lepuhan kecil (vesikel) dan bersisik. Menggaruk ruam tersebut dapat menyebabkan luka dan terkadang luka ini terinfeksi oleh bakteri. Penyebaran tungau skabies dapat terjadi karena adanya kontak kulit secara langsung serta berkepanjangan dengan penderita skabies.

Secara global setiap saat skabies memengaruhi lebih dari 200 juta orang. Skabies merupakan endemik di banyak daerah tropis dengan sumber daya yang rendah, prevalensinya diperkirakan mencapai 5-10% pada anak. Banyaknya kasus penyakit skabies yang ditemukan di Indonesia disebabkan oleh iklimnya yang tropis, bahkan dari 12 penyakit kulit tersering skabies menempati urutan ketiga. Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa pada tahun 2009 prevalensi skabies mencapai 4,9%-12,95% di Indonesia, prevalensi tersebut telah mengalami penurunan dari tahun 2008 sebesar 5,60%-12,96%.

Pondok pesantren merupakan tempat yang dimana kasus skabies banyak ditemukan. Tercatat oleh Departemen Kesehatan RI sebanyak 14.789 pesantren memiliki angka prevalensi yang cukup tinggi. Perilaku higiene personal yang kurang serta terjadinya kontak fisik secara dekat dan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan risiko tertular penyakit skabies semakin tinggi. Skabies juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui barang yang telah digunakan penderita skabies seperti pakaian, handuk, maupun alas tidur. Hal tersebut terjadi karena kemampuan tungau skabies yang dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia pada suhu ruang selama 2-3 hari. Faktor risiko tersebut terlihat pada perilaku hygiene personal santri yang tidur secara secara beriimpitan dan jarang mencuci alas tidurnya, bahkan banyak dari pakaian santri bercampur dan digantung bersamaan dengan teman sekamarnya.

Pengurus sebuah Pondok Pesantren di Kabupten Jember menyatakan bahwa banyak santri yang memiliki gejala seperti skabies terutama santri laki-laki. Para santri juga menganggap ringan gejala tersebut dan akan hilang dengan sendirinya. Kurangnya pengetahuan mengenai skabies tersebutlah yang mengakibatkan penyebaran skabies di pondok pesantren tidak kunjung selesai. Pengetahuan sangat diperlukan dalam perubahan perilaku seseorang terhadap suatu penyakit yang dapat berupa pencegahan penyakit hingga deteksi dini.

Metode observasional analitik merupakan jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini merupakan jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini. Pendekatan cross cross sectional digunakan sebagai digunakan sebagai rancangan penelitian ini. Pendekatan tersebut merupakan suatu penelitian suatu penelitian dalam mencari dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek. Besar sampel yang digunakan sebanyak 67 santri diambil secara acak dari 200 santri yang berada di sebuah Pondok Pesantren Kabupaten Jember. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dengan pemeriksaan skabies yang dilakukan dengan pemeriksaan skabies yang dilakukan oleh dokter. Data yang telah terkumpul dianalsis dengan uji statistik chi square.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan tentang penyakit skabies berhubungan secara signifikan dengan kasus skabies pada santri (Chi square, p=0,000). Sedangkan perilaku higiene personal tidak berhubungan secara signifikan (Chi square, p=0,406) dengan kasus penyakit skabies pada santri.

Disimpulkan bahwa pengetahuan tentang penyakit Skabies berhubungan secara signifikan dengan kasus penyakit skabies pada santri di sebuah Pondok Pesantren di Kabupaten Jember.

Penulis: Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D.

DOI:

AKSES CEPAT