Alergi tungau debu rumah (TDR) merupakan masalah kesehatan signifikan, karena TDR merupakan aeroalergen utama dalam ruangan yang menyebabkan kondisi terkait dengan rinitis alergi (RA) dan asma, hal ini diperkirakan terjadi pada 65% individu. Sebagian besar RA disebabkan oleh TDR, dengan perkiraan prevalensi global 1-2% atau setara dengan 65“130 juta orang. Selain itu, RA mempengaruhi 5% hingga 50% anak-anak sebagai penyakit peradangan alergi di saluran pernapasan. Selain itu, RA merupakan faktor risiko utama untuk asma, di mana >75% pasien asma juga menderita RA, dan RA dapat berkembang menjadi asma pada sekitar >40% orang dengan RA.
Alergi TDR telah meningkat di seluruh dunia, khususnya di wilayah tropis Asia-Pasifik. Dilaporkan prevalensi TDR di Malaysia 60-80% di antara pasien dengan alergi pernapasan, hal ini serupa dengan studi lain kota Taipei, Taiwan, bahkan sebuah studi menyatakan bahwa alergi TDR mencapai 80-90% pasien alergi pernapasan di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Jenis TDR yang umum ditemukan di Asia adalah Dermatophagoides pteronyssinus (Der-p), di Indonesia (>90%). Oleh karena itu, Der-p merupakan komponen alergen TDR standar yang digunakan untuk membuat imunoterapi TDR di Indonesia.
Imunoterapi spesifik allergen TDR
Imunoterapi spesifik alergen (AIT) adalah satu-satunya pengobatan yang mampu memodifikasi perjalanan RA dan asma. AIT menginduksi toleransi imun spesifik alergen melalui berbagai mekanisme, termasuk pembentukan sel T regulator (IL-10, TGF-β), penekanan produksi IgE spesifik alergen, dan peningkatan antibodi IgG4 yang memblokir, yang pada akhirnya mengurangi peradangan saluran napas dan memperbaiki hasil klinis, hal ini telah terbukti ilmiah di berbagai studi seperti penurunan skor gejala, mengurangi kebutuhan pengobatan, dan bahkan mengubah perjalanan alami penyakit alergi pada anak. AIT secara subkutan (AITSK) di Indonesia terbukti aman dan ditoleransi dengan baik pada RA, namun masih sedikit data di Indonesia AITSK pada RA dengan komorbiditas asma. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek AITSK TDR pada anak-anak dengan RA dibandingkan dan RA dengan komorbiditas asma menggunakan evaluasi parameter klinis dan laboratoris.
Metode dan hasil
Studi ini menggunakan uji coba terkontrol acak tersamar ganda yang dilakukan pada 41 anak, sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok RA (n = 20) dan RA dengan asma (n = 21). Peserta menerima AITSK TDR secara berkala dengan jarak 1 mingguan dengan peningkatan dosis selama 14 minggu (fase pembentukan). Total IgE, IgE spesifik, IL-10, TGF-β1, Skor Pengobatan Gejala Gabungan (SPGG), dan skala Analog Visual (AV) diukur sebelum dan sesudah pengobatan. Analisis statistik meliputi uji t berpasangan, Wilcoxon, uji t independen, dan Mann-Whitney, dengan signifikansi pada p < 0,05.
Hasil dari penelitian ini ternyata AITSK TDR menyebabkan penurunan secara signifikan nilai kadar total IgE, kadar TGF-β1, SPGG, dan skala AV. Meskipun secara statistik tidak signifikan, namun nilai kadar IgE spesifik menunjukkan penurunan. Nilai kadar IL-10 sedikit meningkat tetapi tidak signifikan. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam efek pengobatan yang diamati antara kelompok RA dan RA dengan asma.
Implikasi hasil studi menyatakan bahwa AITSK TDR memperbaiki klinis dan menurunkan penanda imunologis pada anak dengan RA maupun RA dengan komorbiditas asma, meskipun tidak ditemukan perbedaan antar kelompok. Temuan ini memberikan bukti awal yang mendukung AITSK TDR sebagai terapi yang aman dan bermanfaat pada populasi anak-anak di Indonesia.
Penulis : Dr. Azwin Mengindra Putera, dr, SpA, SubspAI(K)
NIP : 197812142008121002
HP : 08113004112
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Azwin Mengindra Putera, Anang Endaryanto, Irwanto, , Iqlima Luthfita Sari, Muhamad Abbud Widitaputra (2026). Subcutaneous immunotherapy with house dust mite extract in Indonesian children with allergic rhinitis and asthma: A double-blind randomized controlled trial. Respiratory medicine, 254, 108753.





