Paparan jaringan pulpa gigi akibat karies, trauma, atau faktor iatrogenik dapat memicu inflamasi dan nekrosis pulpa jika tidak ditangani. Salah satu terapi konservatif yang digunakan untuk menjaga vitalitas pulpa adalah direct pulp capping. Tujuannya adalah mengeliminasi bakteri, menghentikan perkembangan karies, dan menstimulasi pembentukan dentin reparatif. Kalsium hidroksida selama ini digunakan sebagai bahan standar, namun memiliki kelemahan seperti sifat kaustik, mudah larut, dan daya ikat rendah terhadap dentin.
Inovasi terbaru memanfaatkan ekstrak alami seperti ikan teri jengki (Stolephorus insularis) yang kaya akan fosfat. Fosfat dapat berikatan dengan kalsium membentuk kalsium fosfat, yang berperan dalam diferensiasi sel punca menjadi odontoblas, merangsang sintesis dentin reparatif. Di sisi lain, teknologi nanopartikel meningkatkan efektivitas bahan aktif karena luas permukaan yang lebih besar dan bioavailabilitas tinggi.
Penelitian ini menggunakan 36 tikus dengan pulpa gigi terpapar, dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol (kalsium hidroksida), nano kalsium hidroksida, dan kombinasi nano kalsium hidroksida + ekstrak Stolephorus insularis bertujuan untuk menganalisis ekspresi IL-10 dan TGF-尾 yang diamati pada hari ke-7 dan 14 melalui pewarnaan imunohistokimia.
Kedua biomarker penting dalam proses antiinflamasi dan regenerasi pulpa yaitu IL-10 adalah sitokin antiinflamasi yang menekan produksi sitokin proinflamasi dan memicu regenerasi jaringan, sementara TGF-尾1 berperan dalam proliferasi dan diferensiasi sel pulpa.
Hasil dan Kesimpulan pada penelitian kombinasi nano kalsium hidroksida dan ekstrak nano Stolephorus insularis menunjukkan peningkatan signifikan ekspresi IL-10 dan TGF-尾1 dibanding kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan potensi kombinasi tersebut sebagai alternatif bahan pulp capping yang mendukung penyembuhan dan regenerasi pulpa secara lebih efektif.
Penulis: Prof. Dr. Tamara Yuanita, drg., Sp.KG., M.S.
Artikel lengkap dapat dibaca melalui tautan berikut:





