51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Insomnia pada Pasien Covid-19 Selama Menjalani Perawatan Isolasi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Foto oleh rs-alirsyadsurabaya.co.id

Hampir dalam kurun waktu dua tahunan, dunia disibukkan dengan adanya kasus infeksi pneumonia misterius berawal dari salah satu kota terpadat di China Tengah. Melalui hasil identifikasi genetik, ditemukan bahwa infeksi ini disebabkan oleh SARS-CoV-2. Peningkatan infeksi secara masif ke berbagai wilayah dunia mendasari penetapan status pandemi Covid-19 pada bulan Maret 2021 oleh WHO. Selain menimbulkan dampak pada kondisi kesehatan fisik, infeksi SARS-CoV-2 juga memengaruhi kesehatan mental pasien. Insomnia menjadi salah satu masalah yang sering dikeluhkan oleh pasien Covid-19.

Insomnia pada pasien Covid-19 disebabkan selain karena lemahnya kondisi fisik juga lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi psikis pada saat pasien terinfeksi. Maraknya pemberitaan di media massa mengenai Covid-19, tingginya angka infeksi, meningkatnya kematian akibat Covid-19, ketakutan penderita terhadap kondisi dirinya saat terinfeksi virus, kurangnya motivasi dari orang terdekat, diskriminasi dari lingkungan sekitar, serta dampak terapi Covid-19 menjadi faktor-faktor penyebab timbulnya kualitias tidur yang buruk pada pasien. Padahal, insomnia berdampak pada lamanya pasien berada di ruang perawatan rumah sakit karena menghambat produksi hormon pembantu penyembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien, faktor sosial, dan kepatuhan minum obat dengan insomnia selama pasien menjalani perawatan isolasi Covid-19 di fasilitas pelayanan kesehatan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa insomnia lebih banyak dialami oleh pasien perempuan. Tingginya tingkat kepekaan perempuan terhadap rangsangan negatif rentan menimbulkan emosi berlebihan sehingga berdampak pada permasalahan kesehatan mental. Selain itu, perempuan cenderung lebih sering merasa sendiri selama menjalani perawatan isolasi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa insomnia banyak dialami oleh tenaga kesehatan. insomnia pada tenaga kesehatan disebabkan oleh adanya kekhawatiran akan kondisi diri sendiri, perasaan cemas jika keluarga tertular, dan respon orang lain setelah mengetahui statusnya sebagai penyintas Covid-19.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap optimis dengan insomnia. Meskipun sebagian besar responden yang memiliki sikap optimis tidak mengalami insomnia, namun perlu menjadi perhatian karena tidak sedikit responden yang memiliki sikap optimis juga mengalami insomnia. Pemikiran berlebihan oleh seseorang dapat menghilangkan rasa kantuk dan menimbulkan insomnia. Seseorang yang mengalami insomnia cenderung menghadapi bias optimisme. Artinya bahwa setiap keputusan yang diambil seolah-olah mempunyai keuntungan bagi dirinya padahal justru akan mendapat kerugian yang besar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perlakuan diskriminasi dengan insomnia. Sebagian besar responden yang tidak mendapatkan diskrimasi juga tidak mengalami insomnia. Pasien Covid-19 meskipun telah sembuh dari infeksi mengeluhkan banyak mendapatkan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari yang datang dari lingkungan kerja, lingkungan pendidikan, maupun lingkungan sosial di masyarakat. Dampak dari adanya diskriminasi adalah pasien mengalami gangguan kesehatan mental ditandai dengan insomnia, kecemasan, dan melakukan isolasi dengan lingkungan sosial.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun terdapat pasien yang mendapatkan motivasi, mereka masih mengalami insomnia. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya motivasi berlebihan dari pasien. Insomnia dapat terjadi saat otak manusia terlalu aktif berpikir akibat depresi sehingga menghilangkan rasa kantuk dan membuatnya mengalami sulit tidur. Penelitian ini membahas secara detail mengenai mekanisme terjadinya hubungan antara karakteristik pasien, faktor sosial, dan kepatuhan minum obat dengan insomnia. Pembahasan disajikan dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami dan menarik minat untuk membaca.

Penulis: Arina Dery Puspitasari

Untuk membaca lebih lanjut, pembaca dapat mengakses artikel pada:

AKSES CEPAT