51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Intensi Pemakaian Kontrasepsi Jangka Panjang Pada Wanita Usia Subur Selama Pandemi Covid-19

Foto by Mayapada Hospital

Pemerintah  menggalakkan program KB yang difungsikan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Metode kontrasepsi jangka panjang  (MKJP) sebagai  alat kontrasepsi yang digunakan untuk menunda atau  menghentikan kehamilan dalam jangka panjang, meliputi IUD, implan dan kontrasepsi mantap. MKJP memiliki efektifitas  tinggi dengan tingkat kegagalan yang rendah, serta komplikasi dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan metode kontrasepsi yang lain dalam mencegah kehamilan. MKJP direkomendasikan selama pandemi Covid-19, karena relatif lebih aman dan efisien karena hanya membutuhkan sekali  pemasangan untuk waktu lama. Pemasangan MKJP memerlukan kunjungan ke fasilitas kesehatan, sehingga selama pandemi Covid-19 penggunaannya berkurang.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan kebijakan yang dibuat untuk mengurangi proses penularan Covid-19. Kondisi tersebut menyebabkan dampak sangat besar terhadap pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk Keluarga Berencana. Berkurangnya akses pada pelayanan KB, berpotensi menyebabkan drop out KB atau putus kesertaan ber-KB yang menimbulkan berbagai masalah, salah satunya peningkatan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan.

Hasil laporan Statistik Rutin BKKBN, pada bulan Juli 2020, jumlah DO KB sebesar 10,46%, angka tersebut naik 9,33% dari kondisi bulan Februari 2020. BKKBN provinsi Jawa Timur menyatakan pada tahun 2020 telah terjadi peningkatan jumlah kehamilan sebesar 8,58% dari tahun 2019. Menurut data BKKBN Jawa Timur (2020) angka DO KB di Kabupaten Bangkalan selama pandemi cukup tinggi yaitu 13,26% dan ada di atas rata-rata Provinsi. Dinas KB-P3A Bangkalan menyatakan selama pandemi virus Corona selama bulan Maret-April 2020, terjadi kenaikan ibu hamil sebanyak 200.

Penggunaan KB akan terbentuk karena adanya suatu Niat terlebih dahulu. Niat yang kuat, meningkatkan peluang keikutsertaan wanita usia subur dalam penggunaan MKJP. Menurut Theory of Planned Behavior, perilaku adalah upaya sadar yang diperantarai oleh niat. Niat atau niat dipengaruhi oleh tiga prediktor utama yaitu, sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Tujuan dari TPB sesuai untuk mengungkap faktor-faktor yang dapat berkontribusi mempengaruhi Niat wanita usia subur dalam menggunakan kontrasepsi jangka panjang selama pandemi Covid-19.

Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional melalui pendekatan cross-sectional, dilakukan di Kelurahan Mlajah, Kabupaten Bangkalan pada bulan Mei-Juni 2021. Populasi dalam penelitian terdiri dari wanita usia subur yang sudah menikah di Kelurahan Mlajah, Bangkalan. Jumlah sampel 102 responden, menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen menggunakan kueisoner yang disusun sesuai komponen Theory of Planned Behavior (TPB), terdiri dari instrumen sikap, norma subjektif, persepsi kontrol perilaku, dan Niat wanita usia subur. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala likert.

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui hasil penelitian dalam bentuk frekuensi dan persentase. Analisis inferensial digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel independen dan dependen menggunakan uji Spearman Rho dengan α≤0,05.

Sebagian besar responden memiliki sikap negatif dan menghasilkan niat cukup terhadap penggunaan MKJP selama pandemi Covid-19. Sikap negatif responden disebabkan karena kurangnya keyakinan atas hasil, dan manfaat dari penggunaan MKJP selama pandemi Covid-19. Sikap negatif terhadap kontrasepsi dapat disebabkan karena keterbatasan pengetahuan tentang kontrasepsi. Tingkat pengetahuan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia dan tingkat pendidikan. Faktor seperti sumber informasi juga memiliki pengaruh terhadap pemahaman seseorang. Sumber informasi dapat diperoleh dari tenaga kesehatan, pengalaman, dan media cetak atau elektronik. Wanita yang memiliki pengetahuan baik memungkinkan untuk lebih memahami manfaat dan efek samping MKJP, sehingga memiliki peluang lebih tinggi untuk memanfaatkannya.

Mayoritas responden memperoleh dukungan norma subjektif yang cukup, serta memiliki niat yang cukup terhadap penggunaan MKJP selama pandemi Covid-19. Norma subjektif yang cukup menunjukkan sejauh mana keinginan dan harapan orang lain tersebut dalam mempengaruhi dan  mendukung responden dalam menggunakan MKJP. Ekspektasi yang didapat dari orang lain seperti pasangan, teman, keluarga, rekan kerja, atau dokter dapat mempengaruhi seseorang selama mempertimbangkan suatu perilaku.

Hubungan dukungan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ihsani, Wuryaningsih, dan Sukarno (2019) menyatakan pengambilan keputusan dalam menggunakan MKJP yang didukung oleh suami mempunyai peluang 2 kali lebih besar daripada pengambilan keputusan yang dilakukan oleh wanita saja. Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang religius, serta memiliki budaya dan tradisi yang kuat. Sebagian besar responden menyatakan agama/kepercayaan yang dianut tidak melarang untuk menggunakan MKJP. Hal tersebut tidak lepas dari upaya pendekatan pada masyarakat melalui tokoh masyarakat yaitu tokoh agama terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi terhadap keberhasilan program pemerintah dalam menekan jumlah penduduk yang meningkat. Wanita usia subur yang mendapat dukungan tenaga kesehatan yang baik mempunyai kemungkinan memilih MKJP lebih besar. Tenaga kesehatan berperan sebagai konselor di masyarakat dengan memberikan penyuluhan tentang pemanfaatan kontrasepsi, serta membantu keluarga dalam merencanakan dengan baik pengaturan kelahiran.

Sebagian besar responden memiliki persepsi kontrol perilaku cukup, dan memiliki Niat yang cukup dalam penggunaan kontrasepsi jangka panjang selama pandemi Covid-19. Responden terdorong untuk menggunakan MKJP karena memiliki keyakinan yang tinggi terhadap sumber daya dan kesempatan yang dimilikinya, sehingga kesulitan yang dihadapi dapat teratasi. Persepsi kontrol perilaku ditentukan oleh faktor pendorong yang akan mendukung atau menghambat perilaku yang akan dilakukan dan kekuatan dari pengaruh pendorong tersebut dalam mewujudkan suatu perilaku. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi kontrol perilaku seseorang. Pengetahuan meningkatkan kesadaran seseorang akan pentingnya suatu hal, yang mengakibatkan seseorang mau melakukan sesuatu.

Kemudahan akses dan jarak ke pelayanan kesehatan juga termasuk kedalam faktor pendorong wanita usia subur untuk menggunakan MKJP. Dukungan akses, seperti jarak, waktu tempuh, ketersediaan angkutan, dan kondisi jalan, berpengaruh terhadap keterjangkauan akseptor dalam mendapatkan pelayanan KB. Faktor lain yang mempengaruhi wanita usia subur dalam penggunaan MKJP selama pandemi Covid-19 adalah faktor biaya yang berpengaruh terhadap kontrol perilaku seseorang. Biaya pemakaian MKJP terhitung lebih murah jika dilihat dari segi efektifitas dan jangka pemakaiannya dibandingkan kontrasepsi non MKJP.

Niat merupakan faktor yang mendasari terbentuknya perilaku wanita usia subur daam penggunaan MKJP selama Pandemi Covid-19. Sikap positif, norma subjektif yang tinggi, serta memiliki kontrol perilaku yang baik akan menghasilkan niat tinggi terhadap penggunaan MKJP selama pandemi Covid-19. Pemahaman mengenai pentingnya penggunaan MKJP untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak perlu ditekankan dalam antisipasi menghadapi situasi serupa.

Penulis: Ni Ketut Alit Armini

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

AKSES CEPAT