Pemberian ASI eksklusif diketahui mampu melindungi bayi dari infeksi seperti diare, pneumonia, dan malnutrisi, yang merupakan penyebab utama kematian pada bayi di bawah usia lima tahun. Pemberian ASI eksklusif dapat membantu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tahun 2030 untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia. UNICEF melaporkan hanya 38% ibu yang memberikan ASI eksklusif, dan Indonesia baru mencapai 55% dari target 80%. Kampanye yang dilakukan selama puluhan tahun untuk menganjurkan pemberian ASI eksklusif belum membuahkan hasil yang diharapkan. Salah satu hambatan yang paling signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah perlunya pengetahuan yang lebih baik dan bantuan dalam manajemen menyusui. Inovasi teknologi informasi semakin banyak digunakan sebagai media penyediaan layanan kesehatan dan promosi kesehatan, dengan aplikasi seluler sebagai salah satu contohnya. Pengaruh pemberian informasi gizi dan pangan melalui pesan teks adalah peningkatan pengetahuan tentang pola makan dan asupan gizi. Berdasarkan hasil penelitian tidak ada korelasi antara intervensi pendidikan gizi melalui ponsel pintar dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Intervensi pesan teks dapat mempengaruhi praktik layanan kesehatan ibu dan anak. Hal ini karena pengiriman pesan teks merupakan intervensi yang mudah dan murah yang dapat menjangkau semua orang yang menggunakan ponsel.
Diketahui hingga saat ini 49% penduduk Indonesia menggunakan media sosial, dengan 40% penduduknya adalah pengguna aktif WhatsApp dan 40% pengguna WhatsApp masuk ke grup media sosial. Ponsel pintar kini banyak digunakan untuk intervensi kesehatan dan oleh masyarakat umum. Intervensi melalui ponsel pintar lebih efektif dibandingkan metode tradisional karena lebih murah dan lebih mudah dilakukan, serta banyaknya pengguna ponsel pintar yang dapat menjangkau banyak orang. Ponsel pintar adalah metode yang menjanjikan untuk mengatasi masalah akses, cakupan, dan kesetaraan di negara-negara berkembang dengan sumber daya terbatas. Intervensi melalui pesan teks dan panggilan telepon diyakini dapat mendorong perubahan perilaku dan pengetahuan mengenai kehamilan dan kesehatan secara efektif. Intervensi ponsel pintar merupakan solusi yang menjanjikan untuk pendidikan dan penyebaran informasi, khususnya untuk topik-topik terkait kesehatan yang berpotensi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan individu dan populasi secara signifikan, seperti kesehatan ibu dan reproduksi.
Pendidikan Gizi merupakan landasan pemahaman dan tindakan dalam mencapai gizi optimal. Hal ini mengacu pada pengalaman pembelajaran yang direncanakan dan difasilitasi dalam praktik diet dan perilaku terkait nutrisi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Pendekatan ini berpusat pada gaya hidup dan meningkatkan motivasi untuk memenuhi kebutuhan gizi”metodologi berbasis tindakan dalam pendidikan gizi: pemasaran sosial, komunikasi untuk perubahan perilaku, gizi masyarakat, dan promosi kesehatan. Seorang ibu terutama bertanggung jawab untuk mengasuh dan menafkahi anaknya. Oleh karena itu, ibu harus memiliki pengetahuan tentang kesehatan dan gizi anak, termasuk menyusui, pemberian makanan pada bayi dan anak, serta status gizi anak. Oleh karena itu, pengetahuan seorang ibu mengenai kesehatan dan gizi sangat penting bagi kesehatan dan pertumbuhan anaknya.
Ibu hamil yang rutin menerima perawatan kehamilan dan konseling menyusui dapat memberikan ASI dan makanan pendamping ASI kepada bayinya dengan lebih baik. Penggunaan telepon seluler atau telepon pintar untuk konseling lebih efektif dibandingkan kunjungan ke rumah atau kunjungan ke pusat kesehatan. Meningkatnya prevalensi gawai dan ponsel saat ini memungkinkan peningkatan kesehatan dan perubahan perilaku ibu dan anak. Konseling dapat diberikan melalui pesan singkat yang berisi pengingat dan pesan promosi kesehatan. Konseling melalui ponsel pintar juga dapat membantu meningkatkan praktik menyusui. Ibu merasa terbantu dan mengapresiasi intervensi pendidikan gizi yang dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi ini; Hal ini juga terkait dengan cara pendamping memberikan informasi, ketersediaan staf profesional yang selalu siap menjawab pertanyaan, dan ketersediaan informasi terkait menyusui lainnya yang mereka perlukan. Teknologi informasi di abad kedua puluh satu merupakan metode yang inovatif, sederhana, dan mudah diakses oleh hampir semua orang. Dalam ulasan ini, kemajuan teknologi yang memudahkan perolehan informasi dan mendorong pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga enam bulan sangat membantu ibu menyusui.
Penulis : Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz., M.PH.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rachmahnia Pratiwi, Dominikus Raditya Atmaka, Deandra Ardya Regitasari Sutoyo, Trias Mahmudiono. (2023). The Effectiveness of Smartphone-Based Nutrition Education Intervention in Successful Practice of Exclusively Breastfeeding: A Meta-Analysis. Amerta Nutrition, 7(4), 615“625.





