Robekan tendon Rotator cuff adalah salah satu penyebab tersering nyeri dan disfungsi pada sendi, yang memiliki rentang robekan parsial hingga total. Sekitar 20% dari populasi umum mengalami robekan total dan angkanya meningkat pada pasien usia lanjut. Selain itu, 32% pasien cidera sendi bahu yang tidak dapat abduksi bahu di atas 90o mengalami robekan yang total pada tendon Rotator cuff. Perbaikan atau penjahitan tendon ini dapat dilakukan secara terbuka, mini open, atau artroskopi. Semakin operasinya tidak invasif, maka nyeri pascaoperasi semakin rendah dan semakin dapat segera melakukan rehabilitasi. Penggunaan jahitan jangkar pada perbaikan tendon Rotator cuff mengubah prosedur yang sebelumnya operasi terbuka menuju ke arah prosedur artroskopik. Jahitan jangkar ini merevolusi operasi orthopaedi dengan menyediakan metode yang aman dan efisien untuk menjahitkan tendon ke tulang. Pemakaian jahitan jangkar yang ideal harusnya dapat mudah digunakan, kuat, dan dapat diserap tanpa adanya komplikasi dari materi yang terserap tersebut.
Jahitan jangkar bisa terbuat dari bahan yang tidak dapat diserap dan dapat diserap. Jahitan jangkat yang tidak diserap, terutama dari bahan metalik, menunjukkan kemampuan untuk mengoptimalisasi penyembuhan jaringan dan fiksasi yang cukup stabil dalam jangka panjang. Jahitan jangkar yang tidak diserap ini juga berkaitan dengan komplikasi migrasi akibat loosening, inkarserasi implant ke sendi, kerusakan pada tulang rawan, dan kesulitan dalam operasi revisi. Jenis lain dari jahitan jangkar tidak diserap adalah polyetheretherketone (PEEK) , dimana materi tersebut memiliki integrasi tulang yang buruk namun memiliki keunggulan dari materi jahitan jangkar lain. Selanjutnya, pengembangan jahitan jangkar all-soft suture anchors (ASA) yang terbuat dari bahan ultra-high-molecularweight polyethylene (UHMWPE) memungkinkan untuk meminimalisasi komplikasi yang berkaitan dengan jangkar dengan tipe yang lebih solid, namun jahitan jangkar tipe ASA ini memiliki kelemahan yaitu fiksasi yang lebih lemah.
Jahitan jangkar dengan materi yang dapat diserap memiliki keunggulan lebih mudah untuk direvisi dibandingkan dengan jahitan jangkar yang tidak diserap, imaging postoperasi yang lebih baik, lebih biokompatibel, dan tidak membutuhkan prosedur pengambilan implant di kemudian hari. Jahitan jangkar yang terbuat dari polyglycolic acid (PGA), poly-l-lactic acid (PLLA), dan materi biokompatibel mengandung faktor osteoinduktif, seperti 尾-tricalcium phosphate (尾-TCP) dan hydroxyapatite. Materi ideal untuk jahitan jangkar yang dapat diserap harus memiliki keunggulan dibanding dari materi lain namun tidak menimbulkan komplikasi. Jahitan jangkar dengan materi seperti ini belum tersedia sehingga dokter orthopaedi harus memilih materi jahitan jangkar yang tepat dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil keluaran klinis dan komplikasi dari penjahitan tendon Rotator cuff menggunakan jahitan jangkar yang diserap dan tidak dapat diserap.
Penelitian ini meneliti 6 studi, dimana 2 studi adalah Randomized Clinical Trial (RCT), 1 studi kohort retrospektif, dan 3 adalah studi kasus-kontrol. Pada semua studi ini, terdapat 556 jahitan jangkar yang digunakan. Karakteristik pasien dari studi-studi ini meliputi 423 pasien dengan rerata usia 60,54 卤 8,60 tahun, dalam rentang 29-80 tahun. Dari semua pasien yang terlibat dalam studi tersebut, 211 pasien diterapi dengan jahitan jangkar yang diserap dan 212 pasien menerima terapi dengan jahitan jangkar tidak diserap. Hampir semua studi menunjukkan robekan tendon Rotator cuff total. Secara umum, prosedur yang digunakan untuk menjahit tendon Rotator cuff tersebut menggunakan teknik single-row repair. Studi-studi tersebut juga menunjukkan rehabilitasi post operasi yang dilakukan kepada pasien. Tiga studi menyebutkan penggunaan sling selama 3-6 minggu pascaoperasi, satu studi menambahkan penggunaan bantal abduksi, sedangkan studi lain menggunakan brace abduksi selama 1 bulan pascaoperasi. Semua studi memeriksa hasil keluaran fungsional pasien, namun tidak semua melaporkan hasil ruang gerak sendi dan patient-reported outcome measures (PROM). Constant揗urley score (CMS) dilaporkan oleh 5 studi, sedangkan skor American Shoulder and Elbow Surgeons (ASES) hanya dilaporkan oleh 2 studi. Terdapat dua studi yang tidak mengevaluasi hasil radiologis. Empat studi lain mengevaluasi gambaran radiologi menggunakan MRI.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil antara penggunaan jahitan jangkar yang dapat diserap maupun tidak, dari segi ruang gerak sendi bahu, baik fleksi, abduksi, dan eksternal rotasi. Dari segi penyembuhan tendon, jahitan jangkar diserap menurunkan angka penyembuhan tendon dibandingkan jahitan jangkar tidak diserap, walaupun hasilnya tidak signifikan. Tidak ada perbedaan bermakna juga ditemukan dalam hasil CMS dan komplikasi perianchor cyst formation (PCF). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan bermakna baik dari hasil ruang gerak sendi, CMS, komplikasi PCF, dan tingkat penyembuhan tendon pada pasien yang dijahit dengan jahitan jangkar diserap ataupun tidak untuk mengatasi robekan tendon Rotator cuff.
Penulis: Heri Suroto, Benedictus Anindita Satmoko, Tabita Prajasari, Brigita De Vega, Teddy Heri Wardhana, Steven K. Samijo
Artikel jurnal : Biodegradable vs nonbiodegradable suture anchors for rotator cuff repair: a systematic review and meta-analysis. www.efortopenreviews.org. https://doi.org/10.1530/EOR-23-0012





